15132_75706.jpg
The New York Times
Cerpen · 7 menit baca

Anca Lambaka, Ateis Terpelajar

Malam semakin dingin. Seperti tinta yang pekat dan tumpah tak beraturan, demikianlah malam begitu berhasrat memeluk bumi. Sayup terdengar sebuah alunan lagu, tapi entah di mana. Tak ada  yang tahu persis asal suara tersebut. Mungkin, hanya malam sendirilah yang mengetahuinya. Tetapi aku penasaran dengan suara itu. Sungguh!

Setelah bergumul dengan diri sendiri, kuberanikan diri untuk melangkah mencari sumber suara tersebut. Penduduk desa kami tak begitu banyak, sehingga memudahkanku untuk mencari sumber suara tersebut.

Rumah demi rumah telah kudatangi. Sebenarnya, tak harus masuk ke rumah, cukup mendekatkan diri dan memastikan apakah dari rumah itulah suara tersebut berasal. Tiga puluh menit berlalu tanpa hasil.

Semangat sepertinya tak kunjung padam dalam diriku. Alhasil, lagu tersebut semakin jela, ternyata berasal dari salah satu rumah yang kini dihuni oleh seorang yang memperkenalkan diri kepada masyarakat dengan nama Anca Lambaka. Kata beberapa masyarakat desa, Anca Lambaka adalah seorang penulis. Ia memerlukan suasana desa yang tenang sebagai tempat yang baik untuk menulis karya-karyanya.

 Anca Lambaka sepertinya mengetahui kedatanganku. Dengan menggenggam kopi di tangan kanan, lelaki yang kini aku tahu bertubuh jangkung tersebut keluar. “Siapa di sana?” demikian ia menyapaku. Meskipun wajahku tak terlihat jelas, tetapi toh kehadiranku sudah diketahui oleh lelaki jangkung tersebut. Sial! Dengan sedikit waspada, kuberanikan dirimenghampirinya.

Tidak terduga, orang tersebut sangat ramah. Ia mempersilakanku memasuki rumahnya. Di rumah yang berdinding kayu tersebut, hampir-hampir tak kulihat dinding. Semuanya penuh dengan buku. Saat itu juga ia memperkenalkan namanya kepadaku. Benar! Seperti kata warga desa, namanya adalah Anca Lambaka. Ia juga menambahkan, bahwa ia dahulunya sempat mengenyam studi di Oxford University. 

Aku yang hanya seorang mahasiswa yang di-drop out dari kampus, merasa kaget sekaligus senang mendengar hal tersebut. Mengetahui tempat ia kuliah, sehingga tak heran jika lagu yang sedang ia nikmati adalah lagu salah satu grup band asal Liverpool, apa lagi kalau bukan The Beatles. Sedikit-sedikit aku tahu lagu The Beatles.

“Silakan membaca buku-buku saya jika Anda mau,” demikian ucapannya ketika mendapati diriku terkagum-kagum melihat buku-bukunya. Dalam keadaan sedikit gelap, sempat kulihat sekilas bahwa salah satu bukunya berjudul The Name of Rose karya Umberto Eco. Tentu, aku membaca judul buku tersebut dengan sangat sulit. Maklum, kemampuan Bahasa Inggrisku kurang baik. 

“Terima kasih, tapi sepertinya ini sudah pukul 01.00, seharusnya saya harus segera pulang. Sebenarnya, tadi saya hanya sedikit penasaran dengan suara dari lagu yang sedang Anda dengarkan saat ini.” Demikian kalimat basa-basi yang kuberikan kepadanya, sambil menjabat tangan lelaki itu dengan tujuan ingin berpamitan.

Seperti itulah, malam di saat aku berkenalan dengan lelaki bernama Anca Lambaka. Sejak malam itu, aku selalu berpikir, bagaimana bisa seorang manusia memiliki buku sebanyak itu. Tetapi apa untungnya bagi aku memikirkan itu semua? Bukankah lebih baik aku mengurus sawah yang dipercayakan oleh orang tuaku untuk kugarap? Entahlah.

Waktu berlalu. Setiap hari, senja yang semburat jingga, selalu menjadi hal yang indah untuk dilihat di desa kami setiap kali siang ingin menjemput malam. Tak terasa, kini sudah tiga bulan waktu berlalu semenjak pertama kali aku berkenalan dengan Anca Lambaka. Selama tiga bulan itu pula, tak sekalipun kulangkahkan kakiku ke rumahnya. Entah untuk bercerita dengannya, atau sekadar mendengar lagu bersamanya sambil membaca koleksi buku-bukunya. 

Ah, kalau hanya sekadar membaca buku, sebenarnya aku tak harus ke rumahnya. Setidaknya, ada sekitar lima puluhan buku sastra dan filsafat yang kupunyai, yang sempat aku koleksi saat masih menjadi mahasiswa jurusan sastra di salah satu universitas. Sepuluh belum terbaca.

Waktu berlalu, aku hampir-hampir melupakan Anca Lambaka. Tetapi, di suatu waktu, saat baru pulang dari sawah, entah kebetulan atau tidak, aku berjumpa dengan Rubiyah. Ia anak seorang petani kaya di desaku. 

“Ambu, kamu sudah tahu atau tidak kalau rumah yang dulu dihuni oleh Anca Lambaka sekarang kosong?” demikian Rubiyah menyapaku atau hanya sekadar supaya tak ada rasa canggung ketika kami berpapasan. Dengan sedikit malu kucoba menjawab kepada Rubiyah, “Saya sama sekali tidak mengetahuinya, Rubiyah” 

“Kamu kebanyakan di sawah mungkin,” sambil tersenyum Rubiyah segera berlalu.

Ke manakah Anca Lambaka? Hampir setiap hari pertanyaan ini selalu muncul dari dalam hatiku. Hari berganti, tak ada sama sekali berita tentang Anca Lambaka. Komitemnku untuk tidak berpikir tentang Anca Lambaka, kini terlanggar.

Hingga suatu hari di bulan Desember, adik sepupuku yang sementara kuliah di Yogyakarta, datang ke rumah kami hanya sekadar berlibur. “Di Jogja terlalu ramai, sehingga saya butuh suasana sepi,” alasan itu yang menghantar adik sepupuku ke sini. Saya yang hanya tinggal sendiri di rumah, tentu senang.

Entah kebetulan atau tidak, tak lama setelah adik sepupuku yang oleh orang tuanya di beri nama Nindyo tinggal di rumahku, rumah yang dahulu dihuni oleh Anca Lambaka kini mulai tampak seperti berpenghuni lagi. Mungkin si kutu buku itu kini lagi berlibur atau hanya sekadar menyepi juga, seperti Nindyo. Aneh!

Semua yang terjadi, membuat saya semakin heran. Tetapi, setelah dipikir-pikir, semuanya sama sekali tak ada faedahnya untuk saya. Artinya, berhenti memikirkan hal tersebut. Setelah cukup lama memikiran hal tersebut, siluet hitam dari tubuh seseorang nampak mendekatiku.

 “Kak. Aku senang sekali di sini. Sepertinya saya kerasan.”

 “Emangnya di Jogja tidak kerasan ya?”

“Di kota, aku sering berjumpa dengan orang miskin. Jadinya tidak betah!”

“Bukannya orang miskin akan selalu ada dan perlu dikasihani?”

“Iya. Tapi, yang aku jumpai benar-benar orang miskin yang memuakkan. Mereka miskin karena hanya uang saja yang mereka punya. Mereka tak punya welas asih lagi!” 

Pernyataan tersebut cukup membuat saya terdiam dan kaget untuk sejenak. Namun, Nindyo sangat pintar mengendalikan suasana.

“Kak, sudah pernah baca buku karya Anca Lambaka? Bukunya sekarang fenomenal dan banyak dibicarakan orang. Saya sebenarnya hanya tahu dia seorang pengajar. Tapi wajahnya sama sekali belum saya kenal. Kebetulan saya membawa buku itu.” 

Ada perasaan seperti kaget, ketika mendengar nama itu. Tak lama, Nindyo beranjak dari tempatnya semula dan bergegas masuk ke kamar. Dengan waktu yang sangat singkat, ia telah berada di hadapanku. Menyodorkan sebuah buku.

Semalaman, setelah Nindyo memberikan buku itu, aku tak bisa tidur. Hanya membaca. Bagiku sangat sulit untuk menerima isi tulisan di buku tersebut. Anca Lambaka, seorang yang cukup ramah meskipun terkesan sedikit misterius itu, menuliskan bahwa Tuhan sama sekali tidak ada.

Tidak perlu mempercayai Tuhan. Tuhan sudah mati. Pukul 04.00 pagi kutuntaskan membaca buku tersebut. Selain karena isinya yang menantang, pukul 09.00 Nindyo sudah harus berangakat meninggalkan desa. Artinya, besar kemungkinan ia akan meminta bukunya.

Pagi telah tiba. Matahari mulai bersinar. Nindyo tampak seperti berat meninggalkan tempat yang sudah membuat ia nyaman. Tetapi demi mencapai cita-citanya, hal yang tepat ia lakukan sekarang adalah berangkat ke Jogja.

Sebelum berangkat Nindyo mengatakan, “Kelak kalau aku sudah selesai studi, aku ingin tinggal di sini selamanya.” Segera kusetujui pernyataan tersebut hanya sekadar membuat ia senang. Karena aku tahu, itu tak mungkin terjadi. Nindyo sedang menuntut ilmu di fakultas hukum. Sejatinya ia akan berkarir di kota. Kecuali bila ia sedikit gila. 

Sebelum Nindyo berangkat, saya memberikan buku yang dipinjmkannya kemarin. 

“Ini bukumu. Cukup bagus. Tetapi saya kurang setuju dengan isi buku tersebut.” Sengaja hanya kalimat itu yang saya ucapkan, karena sedari semula saya sudah malas membicarakan dan memikirkan sosok Anca Lambaka. 

Nindyo sudah tahu kalau aku tak akan memberikan kata-kata yang menyentuh hati dan terkesan bijak sekadar menjadi kalimat perpisahan dan bekalnya untuk menuntut ilmu di kota besar.

*****

Nindyo terus memerhatikan satu sosok yang duduk tak jauh dari tempat ia duduk. “Pak, maaf, juga dari Clowok ya?” Nindyo memberanikan diri bertanya. “Betul nak.” Setelah itu tidak ada lagi kata yang terucap. Diam.

Setelah beberapa saat, semua orang dikejutkan oleh peristiwa yang menegangkan. Orang di dalam bus tersebut kelihatan panik. Kepanikan mucul karena bus yang mereka tumpangi oleng tak terkendali. 

Entah apa yang terjadi, semua orang panik. Nindyo juga panik dan berdoa dalam hatinya. Tetapi dari semua yang panik, hanya Bapak yang tadinya barusan dikenal oleh Nindyo yang tampak super panik. Tak lama, Bapak itu pun berterteriak histeris, “Tuhan, tolong kami!”

Tidak diketahui dengan pasti, doa siapa yang manjur. Yang pasti, mobil itu selamat dari bahaya kecelekaan. Semua penumpang tampak senang, meskipun sebagian tampak masih kelihatan tegang.

Setelah semua penumpang turun di terminal, barulah Nindyo merasa betul-betul lega. Sebagian penumpang ada yang melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus rute yang berbeda. Nindyo segera melangkahkan kakinya ke loket Trans-Jogja. Tetapi, sebelum masuk ke loket, ia kembali berpapasan dengan bapak yang barusan dikenalnya di bus yang sama mereka tumpangi. Daripada hanya dikenang sebagai bapak super panik, Nindyo segera memutuskan untuk bertanya.

“Pak, maaf, tadi kita belum kenalan. Nama saya Nindyo, Pak. Nama Bapak siapa?” “Oh kamu yang tadi ya?” Nindyo mengangguk. “Nama saya Anca Lambaka. Panggil Anca saja tanpa perlu ada kata bapak.” 

Sesampai di tempat kosnya, Nindyo segera mengambil sebuah buku. Setelah itu, ia segera meneleponku, menceritakan semua kisah dalam perjalannya, termasuk perkenalannya dengan Anca Lambaka. Aku begitu antusias sambil tertawa mendengar cerita Nindyo. Sebelum mengakhiri telepon, Nindyo terdiam begitu lama. Hanya terdiam.

“Ternyata semua orang butuh makan. Sengaja menulis demikian supaya bukunya laku.”

Itulah kalimat yang diucapkan oleh Nindyo setelah cukup lama ia terdiam. Setelah itu telepon berakhir. Aku harus segera berangkat ke sawah untuk memeriksa sistem pengairan. Sekarang!