Pada 11 April lalu, Anas Urbaningrum, keluar dari Lapas Sukamiskin, ia menjadi terpidana atas kasus Korupsi Hambalang, meskipun dia dan pendukungnya meyakini ada skenario jahat utk menjeratnya, kita tentu ingat pernyataannya "Kalau anas Korupsi, 1 rupiah, gantung anas di monas"

Meski demikian, hingga proses hukum inkrah, mulai di PN, Pengadilan Tinggi, Kasasi di MA hingga PK, Anas terbukti gagal membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, setidaknya ada  cacat hukum yang pernah dilekatkan pada namanya.

Jejak dan Karirnya

Cerita soal sosoknya, sering diceritakan kawan-kawan dan beberapa senior HMI, ia salah satu yang disebut "Kader Terbaik" HMI, sejak menjadi ketua PB HMI, ia sudah masuk tim 7 yang mengurus revisi UU Pemilu 1999, lalu masuk tim 11 yang menjadi verifikator partai politik dalam pemilu 1999.  Setelahnya maju menjadi komisioner KPU 2001-2005.

Sejak itu, ia tak lekang dari gosip, Anas disebut sebagai orang licin yang berhasil memuluskan jalan SBY menjadi presiden di pemilu 2004. Setelah selesai pemilu ia mundur dari KPU dan langsung merapat ke Partai Demokrat dan duduk sebagai ketua bidang politik dan otonomi daerah.

Anas, maju di Pileg 2009, untuk pertama kalinya yang dibarengi dengan kemenangan demokrat 20% suara dan 26% kursi di legislatif. Anas langsung ditunjuk menjadi ketua fraksi partai pemenang pemilu. Kemenangan demokrat 2009, hanya dikalahkan PDIP yang pada 1999 berhasil meraih 33% suara dan kursi di parlemen.

Setahun berselang, pada 2010, Anas berhasil meraih suara mayoritas dalam kongres partai dan resmi didapuk sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Namun kemenanganan sepertinya tidak 100% direstui Cikeas, ada aroma konfliktual meski SBY secara tegas menunjukan sikap demokratis pada peserta kongres, tetapi ganjalan terus dilakukan. Banyak lingkar 1 Cikeas yang tak senang dengan kemenangan Anas.

Ontran-Ontran Mega Korupsi, Kalah Telak di depan Hukum!

Di era Anas menjadi Ketua Partai Demokrat, mulai muncul beragam isu baik yang mengarah ke Cikeas ataupun ke tubuh partai, terutama kasus korupsi. Iklan Partai Demokrat 2009 yang menyatakan lawan korupsi menjadi momok karena terkuaknya banyak masalah kasus korupsi. Hingga akhirnya 2011, Nazarudin yang juga bendahara partai terciduk kasus korupsi mega proyek hambalang dan banyak kasus-kasus lainnya yg terkait. Nazar yang sempat kabur ke luar negeri akhirnya diciduk KPK dan menyeret banyak nama, mulai Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Anggie dan lain sebagainya.

Pada periode ini, survei menunjukan elektabilitas demokrat jatuh hingga ke 8% hingga akhirnya Anas ditetapkan menjadi tersangka pada 2013 dan presiden SBY mengambil alih partai.

Dalam persidangan, Anas ditetapkan menjalani hukuman 8 tahun, lalu dinaikan 7 tahun di pengadilan tinggi dan 14 tahun di MA. Anas berhasil mengembalikan hukuman ke 8 tahun di PK. Anas didakwa merugikan negara senilai 98 M sehingga hartanya dirampas untuk mengembalikan kerugian negara. Anas didakwa menerima suap dan ikut mengendalikan proyek yang merugikan negara serta adanya money laundry.

Pada putusan awal yang dirampas termasuk tanah seluas 7800 m² yang diwakafkan untuk Pondok Pesantren Krapyak yang dipimpin mertuanya, tetapi pada putusan banding tanah tersebut dikembalikan untuk kemashlahatan umat dan kegiatan sosial keagamaan. 

Pada putusan kasasi Anas kembali diwajibkan mengembalikan uang negara 57 M dan juga pencabutan hak politik permanen. Namun di PK, Anas hanya dikenakan denda 300 juta dan juga pencabutan hak politik selama 5 tahun.

Dalam pembicaraan dengan para loyalisnya, sering disebut Anas memang salah, terutama soal Toyota Harrier yang dikatakan dibelikan nazar dengan alasan masih utang, sedang soal tanah itu transaksi langsung sebagai komitmen Nazaruddin dalam bisnis dan tidak ada perintah dari Anas. 

Anas hanya punya dua tanah seluas kurang dari 1000 m² di Jakarta yang juga ikut dirampas, dikatakan tanah itu hasil kerjanya selama bertahun-tahun. Adapun, sisa uang yang disebut dibagikan di kongres partai juga sulit dibuktikan sumber, nilai dan transaksinya.

Pembelaan informal ini nyatanya gagal di muka pengadilan tetapi menjadi narasi bahwa Anas disebut tidak sebersalah yang didakwakan. Namun, skenario politik memberatkannya atau sering dibilang "pembunuhan karakter". Setidaknya ini versi para pendukung dan simpatisannya sehingga wajar sekembalinya Anas masih banyak pendukungnya percaya ia tak bersalah hanya dijebak.

Tak Mati Membusuk

Semasa Anas di dalam penjara, simpatisannya banyak bergeliat membangun ormas dan menyebar ke berbagai partai politik. Sebagai seorang aktivis, anas tentu punya jaringan yang sangat kuat, baik relasinya ke atas (senior) ataupun ke bawah (junior) dan ke samping (sejawat lintas OKP/partai), sosoknya sangat disegani. Secara pribadi Anas juga punya modalitas sosial yang kuat sebagai mantu dari pondok pesantren krapyak.

Pada 2010, ketika Anas hendak maju mencalonkan diri ketua umum partai demokrat, hampir semua jaringannya bergerak baik di dalam maupun di luar partai untuk menyokong. Hantaman isu pembelian suara untuk Anas sempat muncul tapi tak mempan, proses konsolidasi berlangsung rapi dan sistematis. Targetnya juga tidak sederhana "menyiapkan Anas sebagai The next President". Semua langkah itu terhenti di meja hijau, ketika Anas ditetapkan menjadi pesakitan dan mendekam di suka miskin.

Gerakan Anas yang rapi, sistematis namun lupa meminta restu sang penguasa akhirnya tercium oleh Cikeas dan Anas dianggap membajak partai, sehingga hanya ada dua pilihan bagi Cikeas yang berkuasa, membiarkan perompak atau membakar kapal, agaknya pilihan kedua yang diambil dengan alasan memulihkan kepercayaan publik, dan komitmen pada pemberantasan korupsi, atau setidaknya melindungi diri agar tak melebar. 

Meski upaya ini gagal dengan elektabilitas yang terus merosot termasuk ketika melakukan konvensi partai yang tak membuahkan hasil, dan akhirnya abstain dalam pencapresan 2014.

Pada 2014, demokrat masih memperoleh 10% suara/61 kursi, lalu kembali turun di 7,7% /54 kursi suara pada 2019. Menjelang 2024, lebih ruwet lagi dg adanya upaya KLB dan versi pengurus tandingan di bawah Moeldoko, yang menunjukan bahwa soliditas internal demokrat semakin melemah, bahkan tanpa campur tangan Anas sekalipun.

Di pemilu 2024 nanti simpatisan Anasyang sebelumnya membentuk ormas PPI dipimpin I Gede Pasek Suardika sekarang berhasil meloloskan partai politik baru, Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) meski Anas masih harus menjalani pencabutan hak politik shg tidak dapat terlibat langsung, mudah ditebak PKN berisi jaringan loyalis  Anas di HMI dan eks Partai Demokrat.

Anas selama kariernya di HMI juga terkenal banyak memelihara hubungan dengan lintas OKP yg menjadikannya banyak sejawat dari berbagai jejaringnya di luar HMI. PKN juga tidak satu-satunya jalur dimana banyak jejaring pendukungnya masih menyebar di banyak partai.

Mungkin, Anas tetaplah seorang yg tak bisa lepas dari label "Koruptor", karena ranah hukum tak bisa dibantah, tetapi sebagai seorang politisi jenius ia telah membuktikan seperti di orasi kebebasannya "tidak membusuk di dalam penjara".

Welcome Back to the Jungle!

Banyak cerita selama di penjara Anas tetap memainkan peran sebagai konsolidator politik untuk jejaring dan relasinya. Ia ikut terlibat dalam memenangkan rekan-rekannya baik di pileg ataupun pilkada, serta dukung mendukung dalam kongres partai. Anas sebagai makhluk politik pasca kebebasannya tentu akan banyak bermanuver,  bebas membangun opini publik, mengonsolidasi jaringan politiknya dan sebagainya.

Meskipun agaknya susah untuk Anas bisa kembali ke puncak, sebagaimana cita-citanya menjadi PRESIDEN dengan embel-embel status seorang mantan terpidana korupsi. Tapi Anas sangat mungkin untuk menjadi King Maker dalam percaturan politik Indonesia ke depan. Seperti yg disebutkannya "Anas tidak mau cari musuh, tapi Anas akan perjuangkan keadilan".

Target politik Anas juga bukan sekedar balas dendam ke Cikeas atau menghabisi Demokrat yang sudah ngos-ngosan. Sudah dapat diduga perang pertamanya adalah memainkan politik 2024 dengan memenangkan sebanyak mungkin jaringan politiknya baik di PKN ataupun di berbagai partai lainnya di pileg ataupun pilkada. Tahap berikutnya, memenangkan kawan-kawannya di komisi-komisi dan lembaga negara.

Anas akan tetap memainkan peran balik layar membuat opini publik yang membuat bola umpan politik di media, atau seperti biasa ia menuliskan kembali pemikirannya yg sangat khas, gerak senyap politik!

Kebebasan (kemerdekaan) Anas, akan membuat politik Indonesia lebih dinamis karena gaya politiknya yg terkenal santun, senyap dan pragmatis (winner oriented) dan bisa bekerja dengan siapa pun dan di mana pun.

Meski bukan satu-satunya tapi tak banyak orang yang memiliki kejeniusan politik seperti Anas, kalau pun boleh dibilang Anas yang eksperimennya paling berhasil di permukaan walau tak bertahan lama, sedangkan mayoritas para jenius dan konsolidator politik lainnya memilih jalur bayang-bayang.

Agaknya, Anas tak akan baper dengan menulis biografinya sampai ia berhasil memenangkan opini publik dan mencapai target besar sebagai The King Maker atau ia memilih pensiun sebagai Begawan. Jadi jangan harap kita bisa segera dapat cerita versi anas yang mendayu-dayu, akan lebih seru menikmati Anas memainkan kartu-kartunya.

Sampai atau tidak nanti pada tujuannya, ya tergantung kemampuannya memainkan kartu-kartunya, yang jelas Anas tak pernah terpisah dengan jejaringnya selama di Sukamiskin. Ada adagium bilang "Hidup hanya sekali, tapi dalam politik orang boleh mati berkali-kali"

Mari, kita tonton sambil ngopi-ngopi