Ada dua leksikon erotika yang kita kenal, yakni nimfomaniak dan satiriatis. Ketika partisipasi seks melebihi ambang, maka psikosis seksual yang muncul selalu dikaitkan dengan gender. 

Ketika muncul anarko nafsu pada pria, berlabuhlah pada istilah satiriatis. Begitu sebaliknya, ketika anarko seks pada perempuan, hadirlah label dan sebutan nimfomaniak.

Tidak ada aturan repetisi dalam kedua leksikon erotika tersebut. Aturan hanyalah sebuah penindasan yang harus dilawan, karena aturan akan menciptakan sekat repetisi bagi kedua leksikon erotika tersebut di atas. Segala atturan akan menyebut dua leksikon erotika di atas sebagai sebuah parafilia, masa bodoh sajalah.

Baik satiriatis ataupun nimfomaniak, keduanya telah sukses menciptakan kepuasan tanpa kelas: anarkis taktis yang konfrontatif. Kekuatan anarko-erotika tidak perlu dijelaskan dengan tulisan, karena itu dianggap cuma basa-basi.

Anarko-erotika merupakan wilayah kepuasan tak terhingga. Biasanya untuk mengatasi kejenuhan dan tuntutan tekstual kitab-kitab fikih dewasa.

Pelaku anarko-erotika cenderung melakukan berbagai upaya, yang salah satunya adalah mengubah gaya bercinta, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kirab-kitab fikih persenggamaan. Dari yang semula biasa saja dan normal apa adanya, menjadi nakal dan liar atau biasa disebut kinky sex.

Kedua leksikon erotika ini bersifat independen. Artinya, bebas dari batas level-level puncak kepuasan biasa. Keduanya diterima di dunia moralitas seksual.

Sejauh mana anarko-erotika merembes ke kitab-kitab fikih dalam sastra Arab? Mari kita lihat kitab-kitab fikih dewasa, semisal Fathul Izar dan Quratul Uyun

Kitab Fathul Izar adalah karya ulama nusantara, KH. Abdullah Fauzi (Gus Fauzi), Kwagen, Pare, Kediri. Beliau menyusunnya ketika masih menjadi santri PP. Fathul Ulum, Kwagen, Pare, Kediri, asuhan KH. Abdul Hanan Ma’shum.

Kitab Fathul Izar bisa diartikan sebagi kitab menyingkap sarung. Kitab ini unik seperti namanya, sarat muatan fikihnya, namun disajikan dengan perimbangan anarko-erotika yang halus sekali.

Gaya sastra kitab fikih yang membahas hubungan badan dewasa, pada umumnya, menjunjung tinggi amanat Epikuros, yaitu menikmati setiap waktu yang ada dan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin.

Kitab Fathul Izar memberi amanat kepada kita untuk menyibukkan diri kita dengan hal-hal yang menyenangkan hati. Karena semua kenikmatan yang ada, beserta segala penderitaan dan kesulitan kita, akan hilang ketika kematian datang. Bukan begitu?

Dua hal penting di sini, Kitab Fathul Izar menjunjung tinggi konsep-konsep dasar kebahagiaan ala Epikuros, yakni kebebasan dari rasa khawatir dan menghindari perasaan yang berlebihan (sedih atau senang yang berlebihan). Sedang yang kedua, Fathul Izar juga menjunjung tinggi anarko-erotika yang cukup menggelitik untuk dibahas.

Dinamika gaya sastra anarko-erotika dimulai pada abad ke-8 M. Ketika itu masa kekuasaan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Mereka berkembang bersama puisi ada prosa Arab yang sama-sama menduduki posisi terhormat. Keduanya mendorong lahirnya puisi dengan genre sekuler dan keagamaan yang tumbuh beriringan. 

Hingga jelang abad ke-20 M, sastra Arab masih tetap saja didominasi oleh puisi dan bentuk prosa. Tema puisi beragam berkisar tentang puji-pujian hingga 'menyerang' orang lain, tema keagamaan, mistik, bahkan mengupas tentang seks dan anggur. Pada saat yang sama, ilmu balaghah berada dalam masa kematangan dan kemajuan.

Menurut saya, kitab Fathul Izar merupakan reperesentasi anarko-erotika karya-karya kitab sejenisnya, semisal kitab Quratul Uyun.

Anarko-erotika tidak saja berbentuk nimfomaniak ataupun satiriatis saja, namun lebih jauh, adalah segala hal yang berhubungan dengan daya dan upaya dalam meningkatkan kenikmatan berhubungan badan agar berlipat. Termasuk pemilihan titik erotis berdasarkan hari yang sering disebut-sebut dalam kitab-kitab di atas.

Karya sastra yang mengandung anarko-erotika tidak dengan sendirinya menjadi tidak baik karena membahas hal tabu; pun juga, tidak otomatis jelek hanya karena menyinggung soal kejenisan dan kelamin. 

Seks adalah bahan bernas yang paling menarik dalam sejarah sastra mana pun. Permasalahan bukan pada soal seks atau tuhan, tetapi bagaimana seorang penulis mengolah tema itu menjadi sesuatu yang tersaji indah.

Apakah masalah seks dan erotisme tak boleh masuk sama sekali dalam dunia penciptaan kreatif? 

Membatasi dunia kreatif dari seks hanyalah sejenis kegilaan. Sebab Kitab Suci pun tak mampu melakukan hal itu. Selalu ada bagian-bagian dalam Kitab Suci mana pun yang memuat soal kejenisan dan rangsangan jenis, ataupun gaya-gaya anarko-erotika, walaupun tersaji halus.

Anarko-erotika bisa saja menyelinap ke dalam karya-karya fikih yang dimaksudkan di atas, karena pada dasarnya hal tersebut sangatlah berhubungan dengan cara-cara bersuci dan bagaimana menciptakan sebuah keharmonisan hubungan badan. 

Syair-syair (nadzhom) erotis banyak ditemui dalam kitab fikih dewasa. Misal seorang penyair bersyair: kenikmatan dunia ada tiga, yakni: menyentuh, mencium, dan memasukkan penis. Penyair lain mengungkapkan: kenikmatan dunia itu teringkas dalam tiga hal; menyentuh kulit, mencium, dan tidur bersama (senggama). 

Seorang penyair lainnya juga makin tajam menyatakan: bila seorang perawan sempit mulutnya, maka sempit pula vaginanya. Hal itu karena mulut seorang perawan menjadi pertanda dari bentuk dan keadaan vaginanya.

Yang menjadi pertanyaan mendasar pada artikel ini adalah: dengan metode penelitian yang bagaimana sehingga didapat taksonomi berbagai bentuk jenis kelamin wanita yang kemudian dihubungkan dengan bentuk mulutnya?

Pada kitab-kitab tersebut di atas, sepertinya memperkokoh hubungan bentuk dua labia. Labia (bibir/mulut) yang ada di wajah dan, satunya lagi, labia (bibir) kelamin. 

Apakah berdasar firasat saja atau memang melakukan observasi mendetail, misal dengan visual (pengamatan mata telanjang), palpasi (raba), inspeksi (periksa detail), perkusi (ketuk), auskultasi (mendengar bunyi)?

Hal lain yang menarik, adanya semacam diskriminasi beberapa postur wanita yang tidak dianjurkan untuk dinikahi. Apakah memang sudah didasarkan atas sebuah penelitian yang berbasis disiplin ilmu yang terkait atau hanya firasat saja? 

Mari, kita kembangkan kitabnya.