Geliat sosial bermunculan satu persatu karena kebijakan pengesahan UU Omnisbuslaw. Buruh dan mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan unjuk rasa. Beberapa sibuk dengan dunia mereka masing-masing dan bahkan cemoohan tak luput untuk para demonstran.

8 oktober lalu dijuluki sebagai hari aksi nasional oleh mahasiswa dan buruh, sebagai bentuk kritik otokritik terhadap kebijakan pemerintah. Suara lantang dari korlap demonstrasi menggema dan memantik semangat para demontran untuk menyuarakan pendapat.

Kajian dan diskusi tidak bisa dilepaskan sebagai intelektual –mahasiswa dalam membangun sebuah gerakan. Tanpa itu semua diibaratkan sebagai tong kosong yang nyaring bunyinya.

Geliat demonstrasi nampaknya tidak berkutat kepada dunia mahasiswa yang identik dengan pergulatan intelektualnya dan buruh sebagai pelaku objek dari sebuah kebijkan. Pelajar mulai unjuk gigi dengan mengikuti runtutan aksi yang dilakukan mahasiswa.

Sebenarnya apa yang menjadi tabiat pelajar untuk mengikuti aksi tersebut? Kesadaran intelektualitaskah? Apabila benar karena kesadaran pemikiran, patut bersyukur setinggi-tingginya karena sekaliber pelajar mampu mendedah perihal yang menjadi makanan para mahasiswa.

Namun yang menjadi blunder ketika aksi yang dilangsungkan hanya sekadar kerja motorik heroisme yang non intelektualitas. Apa saja contohnya? Aksi tanpa pencerdasan, perusakan dan penyampaian pendapat yang amoral seperti menyinggung SARA.

Nampaknya kepercayaan terhadap negara mengalami distorsi karena kebijakan tidak berpihak kepada masyarakat. Hal ini menciptakan pukulan keras bagi mahasiswa dan buruh untuk menggelar aksi unjuk rasa.

Framing terhadap anarko sering digemakan oleh aparat untuk membranding pelaku perusakan dan penduduhan empiris seperti orang yang berpakaian hitam adalah kaum anarkis.

Perlu kita ulas kembali terkait anarkisme yang disampaikan oleh beberapa tokoh seperti Bakunin, Proudhon, Kropotkin, Max Steiner dan tokoh lainnya.

Peter Kropotkin berargumen bahwasanya anarkisme adalah sebuah sistem yang menolak pemerintahan. Kropotkin lebih menekankan peranan individu sebagai subjek yang bebas untuk mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya.

Sedangkan menurut Ericco Malatesta bahwa penghapusan ekplotasi dan penindasan manusia hanya bisa dilakukan dengan penghapusan kapitalisme yang rakus dan pemerintah yang menindas.

Bila kita ambil garis merahnya bahwasanya anarkisme adalah gerakan yang menolak pemerintahan. Kaum anarkis menganggap pemerintahan akan memperpanjang penindasan melalui regulasi yang mereka buat.

Tidak ada jalan lain bagi para anarko selain mencabut pemerintahan dan mulai digerakan oleh individu-individu secara bebas. Apakah benar akan berjalan secara harmoni?

Kehidupan sosial dengan segala problematikanya membutuhkan sebuah regulasi yang tepat dan memaksa untuk menciptakan efek jera. beberapa menentang konsep anarkisme karena terlalu utopis untuk kehidupan yang sangat kompleks ini.

Asas moralitas yang disampaikan oleh Nietsche bahwasannya individu tidak mau dikuasai oleh individu lain. Karena konsepsi individu akan terus mempertahankan prinsip yang mereka miliki.

Penolakan di berbagai daerah karena aksi yang berujung perusakan dan kericuhan menjadi sebuah titik baru yang merenggangkan kesatuan masa. Untuk menyimpulkan dan menggerakan kesadaran pemikiran sepatutnya untuk dikontemplasikan relevansinya terhadap hubungan sosial.

Gerakan yang tidak damai berakibat sangat fatal terhadap gerakan selanjutnya. Masyarakat sebagai target yang diperjuangkan berbalik arah untuk memukul tentang apa yang diperjuangkan  mahasiswa. Miris sekali!

Kemenangan dalam aksi demonstrasi bukanlah tentang gaya ala Spartan yang kuat fisik untuk menghantam dan terlihat kuat. Apalagi merusak fasilitas umum sebagai prestasi. Salah kaprah apabila menerapakan prinsip tersebut dalam gerakan masa.

Gerakan masa merupakan sebuah pencerdasan lapangan untuk memberikan intrik-intrik edukasi kepada masyarakat. Kegiatan edukasi disampaikan melalui penyampaian sebab-akibat aksi dilakukan dan mensosialisaikan tuntuntan atas kondisi terkini.

Gerakan revolusioner dimana, kapitalisme dan penguasa harus diberantas secara total sangatlah rentan terhadap efek kausalitas apabila terjadi. Konstruk sistem yang telah terpengaruh dengan liberalisme menciptakan pekik atas resiko yang terjadi.

Mengambil istilah tokoh anarkisme Michael Bakunin. Bahwasanya negara itu sinonim dengan kapitalisme. Sehingga menurut beliau sangatlah absurd apabila memperjuangkan hak buruh menggunakan negara sebagai pisaunya.

Skeptisisme Michael Bakunin terhadap negara juga didukung oleh Kropotkin dengan mengemas pemahaman anarkisme dengan kemasan yang lebih sosialistik.

Problematika yang terjadi di lapangan apabila logika kurang begitu kuat dalam mengilhami penyampaian dari Bakunin ataupun Kropotkin. Maka individu akan terjebak ke dalam jurang salah penafsiran.

Sinonim antara kapitalisme dan negara sering menggunakan bentuk ataupun simbol dalam penyampaian pencitraan yang mereka miliki. Dan penganut teori ini sering mengalami kekeliruan dalam memandang intrik ini.

Logo-logo kapitalisme sering menjadi objek sasaran ataupun penjaga para kapital seperti aparat. Sangat disayangkan apabila hal ini terjadi. Mereka tidak melihat bahwasanya ada anak bangsa yang bekerja di perusahaan tersebut dan masih terseok-seok untuk menghidupi keluarganya.

Membredel secara total dan menguasai objek produsen kapital apabila kita terapkan dengan semangat kebangsaan, tidaklah masalah. Karena landasan tersebut sebagai sebuah kekuatan revolusioner dalam membangun bangsa yang ghirah terhadap hadap penguasaan perekonomian.

Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah hanya berhenti pada penguasaan saja? Tidaklah sesimpel itu kawan. Beberapa runtutan dalam membangun dan mengelola sebuah objek yang telah dan menghidupi ribuan buruh yang bekerja membutuhkan ilmu yang taktis dan detail dalam menjalankan sistem tersebut.

Gerakan anarkisme yang pernah terjadi di Ukraina antara bolsheivk dan Nestor Magnov menciptakan pergolakan dan pertumpahan darah yang luar biasa. Pertarungan pemikiran dan aksi gerakan dilakukan secara gencar dan masif.

Aksi Anarkisme yang dilakukan oleh Nestor Makhnov sebagai sebuah bentuk kegagalan gerakan anarkisme yang bisa dikatakan utopis. Penghakiman dan pembantaian pekerja kereta api sebagai karyawan negara sering terjadi sebagai bentuk aksi revolusioner ala anarkisme.

Colin Darch sejarawan akademis mengkritik pemikiran Nestor Makhnov bahwasanya ia hanya terpaku kepada perihal yang mengambang karena tidak dijelaskan sebuah regulasi taktis dalam membangun rakyat yang visioner.

Dibandingkan dengan Leon Trotsky, bahwasanya dalam paradigmanya tidaklah mengambang. Ia mampu memberikan sebuah gambaran tentang wacana ke depan yang harus dilakukan untuk membangun lingkup gerakan yang lebih maju.

Hijrah menuju anarkisme sering diilhami sebagai bentuk penyerangan dan penentengan konkrit terhadap pemerintah yang tidak lagi mau mendengar keluh kesah rakyat.

Segala bentuk aksi dan kritik dari rakyat diartikan sebagai nada sumbang yang tidak jelas. Skeptisis ini akan mengakibatkan pukulan dan rasa super tidak percaya kepada jalannya sistem pemerintahan.

Titik bilik yang lebih kuat lagi ketika pemerintah memiliki kewibawaan yang super populis dalam mengonter narasi untuk dalih mempetahankan dari serangan kritik yang disampaikan oleh rakyatnya.

Geram dan buram sudah hati nurani putih yang telah dilukai melalui penuduhan hoax yang hina terhadap mereka. Seakan-akan orang yang melakukan unjuk rasa adalah sekumpulan kaum bebal tanpa melalui kajian yang memadahi.

Sikap pemerintah sejatinya harus kuat untuk mendedah secara serius terhadap gejolak yang telah terjadi  bukan malah mendeskriditkan oknum tertentu yang malah menciptakan situasi tidak stabil dan tak menemui titik temu.

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang; suara dibungkam tanpa ditimbang; kritik dilarang tanpa alasan; dituduh subversif dan mengganggu keamanan; maka hanya satu kata; lawan!”. Begitulah yang disampaikan Wiji Tukul.

Kata lawan akan terus digemakan bagaimana caranya untuk mendidikan pemerintah kepada tataran yang lebih bersahaja. Tidak menutup kemungkinan, irisan pemahaman anarkisme akan digerakan apabila terjadi tuli di tataran pemegang kebijakan. Sekian.