Negeri sembarang negeri, negeri pemilik segala bumi, atau negeri yang subur dengan tanah yang bisa ditanami ribuan tumbuhan dan dapat menghidupi jutaan mahluk hidup diatas tanah ini, itulah indonesia. Perbedaan sosial, karakter, budaya, agama, suku dan masih banyak lagi yang komplek, membuat indonesia tak pernah ada habisnya untuk dibahas atau ditelurusi secara terus menerus.

Indonesia juga memiliki masalah yang tidak di miliki negara lain yaitu fanatisme terhadap lingkungan, hukum tatanan adat dan norma yang disetiap daerahnya berbeda-beda, maka dari itu perlu kita membahas secara mendalam mengenai indonesia, isi indonesia dan bagaimana indonesia tersebut menyikapi segala rintangan yang telah membuat negera ini berkembang?

Selain negara yang memiliki banyak julukan ini, indonesia juga negara yang penduduknya memiliki jiwa sosial yang tinggi, dan rata-rata penduduk indonesia memilki sifat ramah yang biasanya tidak ditemui di negara lain. Hal ini perlu kita analisa dengan baik, apakah benar rakyat indonesia memiliki sosialisasi yang tinggi terhadap sesama, apakah benar juga rata-rata rakyat indonesia memiliki banyak masalah-masalah sosial yang tidak biasa dimiliki oleh negara lain.

Banyak yang berkata bahwa negeri seribu pulau ini adalah negeri paling sempurna, dengan dua musim yang tidak begitu menggangu aktivitas sehari-hari, denga tanah yang notabennya bisa ditanami segala macam tumbuhan yang belum tentu negara lain mempunyainya. Indonesia adalah surga maritim, dengan laut yang indah dan biota alam yang tiada tanding, walaupun itu semua hanyalah kiasan yang tak kan terlupakan.

Banyak dari 33 provinsi di indonesia yang belum terpenuhi kebutuhannya, dari kebutuhan sosial itu sendiri sampai kebutuhan kesejahteraan masyarakat. Siapa yang patut disalahkan pemimpin?, pemerintah atau rakyat?, tidak semua itu adalah kesalahan terdahulu, kesalahan dari awal yang sulit untuk dirubah, kesalahan penerapan hidup, kesalahan sistem seperti halnya kesalahan pembelajaran yang sudah tidak bisa di ubah lagi, seperti yang menyatakan bumi itu bulat adalah napolen atau dibulan tidak ada gravitasi.

Hal itu juga patut ditelusuri lebih jauh apakah benar atau tidak?, dan sama halnya sistem yang pertama itu salah akan mengacaukan sistem yang lain, karakter nenek moyang yang salah akan menimbulkan dampak besar kepada masa depan. dulu kita pernah mendengar kehidupan didesa itu ramah penuh dengan sosialisasi dan dikota itu kejam lebih mementingan diri sendiri, itu betul, tetapi perlu kita pahami semakin bertambahnya usia suatu bangsa semakin bertambah pula penduduk di negara tersebut, semakin berubah pula pola-pola yang berkembang dimasyarakat.

Banyak kaum migrasi yang ingin mengadu nasib dikota besar tanpa ada keahlian yang mumpuni alhasil mereka pulang kembali ke desa dan membawa dampak yang tidak dapat diragukan lagi. Sosial itu bukan sosialita, dan sosialita itu pasti ada. Yah itulah sebuah gambaran dimana jati diri rakyat indonesia mulai terkikis dengan jiwa anarkis yang dibawa dari lingkungan yang negatif. Tahun 2016 ini tidak ada yang namanya bayi tidak mengeti informasi, tidak ada yang namanya kelas 6 sd main gundu atau petak kumpet di halaman sekolah.

Sebelum kita lebih jauh membahas anarkisme, apasih arti anarkisme itu sendiri? Menurut kamus besar bahasa indonesia anarkis ada tindakan anarki atau penganut paham anarkisme. Jadi anarkis itu adalah tindakan kekacuan tindakan buruk yang dilakukan seseorang atau kelompok ke individu atau kelompok yang berbeda. Tindakan ini juga dipengaruhi oleh moral atau sikap dan lingkungan serta tak luput adalah media sosial sebagai kemajuan jaman. pengenalan sosial yang kurang membuat terkikisnya karakter sosial yang baik.  

Selain itu gadget atau smartphone yang menjamur menjadikan seluruh masyarakat dapat mengakses segala berita dan sosial di dalam gadget masing-masing. Pengetahuan akan kebutuhan saling berkomunikasi, tolong menolong dan tenggang rasa seakan-akan telah terpenuhi dengan adanya gadget sebagai pengganti.

Hal ini berdampak pada tumbuhnya jiwa anarkis dan apatis, keegoisan yang dijadikan bahan ukuran kemenangan dan kekalahan, tak tau siapa keluarga, teman bahkan lawan semuanya sama.

Seperti halnya provokator, menyindir, dikriminasi atau bullying lebih banyak berawal dari sosial media, contohnya saja seseorang yang selalu memamerkan kehidupannya di media sosial lebih besar memiliki dampak bullying dibandingkan dia yang pasif terhadap media sosial, karena apa aktivitas diskriminasi itu terjadi karena tindakan iri, ataupun benci yang diakibatkan tingkah seseorag tersebut di dunia maya.

Selain itu dengan adanya sindir menyindir antara sesama teman bahkan keluarga di media sosial justru memiliki dampak yang lebih besar terhadapa aspek sosial dan karakter seseorang untuk melakukan jiwa anarkis dibandingkan secara langsung, karena tulisan itu juga sangat menyakitkan. Dari situ timbul jiwa-jiwa anarkis yang melontarkan kata-kata kasar, kebencian dam unsur SARA si media sosial, bukan malah mempererat silaturahmi tetapi menjadikan media sosial sebagao bahan pelampiasan.

Hal ini dapat dijadikan sorotan pemerintah dan masyarakat luas untuk membentuk suatu komunitas perdamaian dan sosialisai penggunaan yang benar sosial media itu seperti apa.

Bagaimana peran yang benar dan melindungi korban-korban bullying di sosial media, komunitas yang seperti ini sangant dibutuhkan bagi mereka yang merasakan dibully terutama di sosial media, contohnya saja kasus yang sangat memprihatinkan adalag bullying atau yang sering diberi nama haters marak terjadi di media sosial dan rata-rata yang mereka lontarkan adalah sesuatu yang tidak mereka mengerti.

Seperti bully kepada artis ataupun kepada remaja-remaja yang notabennya kita tidak tahu itu siapa dan dimana mereka. Tapi karena inilah indonesia, tanpa adanya perhatian dan diskriminasi terhadap sesama bukan karakter indonesia.

Indonesia ya seperti ini harus perlu di ubah pola pemikiran nenek moyang yang salah kaprah. Aksi anarkis yang paling kejam sebenarnya terjadi di media sosial, karena kehidupan dunia maya saat begitu dasyatnya ketimbang sosial yang sebenarnya. Karean pada dasarnya pertumbuhan mental seseorang juga dibentuk dari hal yang pernah dialaminya, seperti bullying tadi dan sebagainya menjadikan si korban ataupun si pembuli memilki sifat anarkis dan egois, begitu pula korban ingin balas dendam dan si pembuli juga ingin selalu membuli.

Hal ini perlu dijadikan wacana bagi seluruh khalayak umum untuk membentuk komunitas dalam mengatasi dan mendampingi korban bullying terutama di sosial media, korban anarkisme dan diskriminasi yang terjadi di sosial media yang bertujuan untuk memberikan semangat dan rangkulan kepada mereka korban anarkisme di sosial media, yang pastinya merasakan depresi, malu dan perubahan sikap yang labil.

Maka dari itu media sosial dan peranan masyarakat terhadap penggunaan media sosial perlu di awasi sebagai antisipasi meminimalisir terjadinya anarkisme di media sosial itu tersendiri.