“Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.” ― Tolstoy

“Is it really possible to tell someone else what one feels?” ― Tolstoy

Kedua kutipan di atas sangat terkenal pada novel karya Leo Tolstoy, “Anna Karenina”. Tolstoy, seorang sastrawan Rusia, pembaru sosial, pasifis, anarkis Kristen, vegetarian, dan pemikiran moral.

Dia adalah seorang filsuf moral yang terkenal karena gagasan-gagasannya tentang perlawanan tanpa kekerasan. 

Inilah yang mengilhami gaya subkultur ultramarathon minimalis yang dipopulerkan oleh Anton Krupicka. 

Ketika gemerlap sains dan teknologi mampu menembus kemustahilan yang dipopulerkan oleh pelari Kipchoge pada artikel Saat Sains dan Tekhnologi Merobek Kemustahilan, maka Anton dengan kekuatan anarki Tolstoy juga mampu menghantam kemustahilan tersebut dengan versinya sendiri. 

Jika Kipchoge mampu menembus jarak maraton (42,2 km) dengan durasi kurang dari 2 jam dengan dukungan teknologi dan sains, maka Anton Krupicka dengan “telanjang” mampu memberikan perlawanan dengan dukungan minimalis pada gaya lari ultramarathon (jarak lebih dari 50 km).

Oleh karenanya, Anton Krupicka, sang ultramarathoner seolah didapuk membawa arwah anarki asketis Tolstoy. 

Pendekatan gaya minimalis Anton Krupicka telah membuahkan hasil maksimal. Krupicka mampu menyuguhkan pemandangan indah dari sikap ideal asketik Tolstoy. 

Dengan gaya pelari maraton bak seorang petapa berjenggot dengan kibasan rambut blonde panjangnya, ia mampu mencatat jarak tempuh tiga digit mil di setiap minggunya.

Yang khas dari Krupicka adalah berlari tanpa kaus dry-fit, tanpa sistem hidrasi hydropack, tanpa GPS, tanpa berisik headset musik pengiring lari di telinga, tanpa gadget high-end sekalipun. 

Bahkan, sepatunya hanya berbantalan tipis, tak selayaknya sepatu khas ultramarathoner yang tebal-tebal bak roti tawar.

Penampilan Anton Krupicka yang hippies dan minimalis bukan tanpa alasan. Selain membawa semangat anarki yang minimalis, Krupicka adalah simbol perlawanan subkultur pelari yang dimanjakan oleh teknologi dan kekuasaan iklan.

Paradoks ini juga membawa misi ekonomi anarki yang mencoba melakukan ekspansi ekonomi anarkis dengan penjualan sepatu dengan desain minimalis yang meniru gaya lari tanpa alas kaki.

Apa yang dipopulerkan oleh Krupicka mengkooptasi banyak simbol dan identitas yang menjadi ciri karakter oposisi dari subkultur lari maraton minimalis. Populis ini telah mengarusutamakan konsep lari tanpa alas kaki - sebuah gerakan yang berakar dari tahun 1970-an - ke dalam budaya konsumen massal.

Gaya hidup ini merupakan proses yang telah mengkomoditisasi prinsip-prinsip asli mistisisme dan anti-materialisme untuk mempromosikan hal-hal minimalis.

Bagi Anton Krupicka, berlari di sepanjang jalan setapak dan di pegunungan adalah cara memanfaatkan hidup sederhana dan mendasar. Memang sangat klise bagi pelari untuk berbicara tentang hal hidup sederhana, meminimalkan barang-barang materi, dan hal-hal semacamnya.

Bagi Krupicka, asketisme anarki merupakan motivasi pembentuk perubahan sikap dari kealpaan menuju keselamatan. 

Baginya, kehidupan cenderung menimbulkan titik jenuh akibat pencarian euforia yang kadang berakhir di titik krusial yaitu terjatuh dalam dekadensi moral.

Semua tindakan manusia terpatron dalam siklus kehidupan antara baik dan buruk yang saling bertabrakan karena kecenderungan manusia lebih dominan disibukkan oleh hal yang menyenangkan.

Selain gaya berpakaian dan perlengkapan yang minimalis Anton Krupicka juga mendalami asketis anarkis lainnya seperti sudah terlatih untuk tidak minum banyak air saat maraton, sebagaimana yang ditakuti pelari maraton lainnya tentang dehidrasi.

Menurutnya, dengan meminimalkan minum maka akan sedikit berkeringat. Artinya Krupicka tidak ingin terbebani membawa banyak barang yang biasa dibawa oleh seorang pelari ultramarathon.  

Baginya, kekurangan nutrisi jangka panjang dalam sebuah ajang lari jarak jauh merupakan hal biasa baginya sebagaimana Tolstoy yang novelis realis telah menganggap hal-hal sedrhana dalam fiksinya itu sebagai kerangka untuk mengkaji masalah-masalah sosial dan politik.

Ini merupakan kritik yang dahsyat terhadap rumah ibadah, hukum dan dominasi negara yang kejam dan didukung oleh kekuatan brutal dalam mencapai kekuasaan dan kenyamanan hidup.

Kunci dari asketis Krupicka adalah kebiasan yang dilanggengkan. Kesederhanaan itu dilatih selama 15 tahun. Berbeda dengan mereka yang hanya membuat waktu khusus saja untuk berlatih. 

Krupicka yang anarkis telah berlatih untuk “menganiaya” tubuhnya selama 15 hingga 16 jam, dan sudah terbiasa dengan jumlah kelelahan kumulatif tertentu. 

Baginya, hal spektakuler seperti beberapa atlet lari dari raksasa iklan, North Face dengan prestasi 50 kali maraton dalam 50 hari adalah hal biasa saja. 

Bagi Anton Krupicka, lari maraton menyusuri jalan setapak adalah salah satu bentuk meditasi. 

Sebagaimana rekan-rekannya, Dean Karnazes, telah berlari sejauh 350 mil (560 km) dalam 80 jam dan 44 menit tanpa tidur pada tahun 2005. 

Pelajaran yang dapat dipetik dari pandangan anarki asketik Anton Krupicka adalah apa yang kita capai bukanlah apa-apa. Yang terpenting terus bebas berkarya dan memberi inspirasi.

Hal ini senada dengan ucapan Anton Chekhov kepada arwah sang anarki asketik, Tolstoy.

"Ketika sastra memiliki seorang Tolstoy, menjadi penulis itu mudah dan menyenangkan; bahkan bila kita tahu bahwa kita sendiri tidak mencapai hasil apa-apa, itu tidak menjadi masalah karena Tolstoy yang berprestasi untuk kita semua. Apa yang dilakukannya berguna untuk membenarkan semua harapan dan aspirasi yang ditanamkan dalam sastra." ― Anton Chekhov