“Jangan melihat masa lalu dengan penyesalan, jangan pula melihat masa depan dengan ketakutan, tetapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran” (James Thurber)

Perkembangan kebudayaan dan peradaban umat manusia tidaklah dicapai dengan cara yang mudah. 4,1 milayar tahun sejarah kehidupan di Bumi sebagaimana riset terbaru yang dikeluarkan oleh ahli geokimia dari University of Calivornia, Los Angels adalah bukti perjalanan kehidupan yang sangat panjang terjadi dalam planet bumi. 2018 pada kalender masehi dan 1439 kalender hijriah menunjukan, ada sejarah yang sangat panjang bahkan sebelum lahirnya Nabi Isa atau hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. 

Sejarah panjang tersebutlah yang kemudian mengukir perjalanan dalam membangun sebuah teradisi intelektual hingga mencapai peradaban modern seperti sekarang. Membaca sebagai implementasi dari perintah iqra’ (bacalah) kemudian membentuk tradisi intelektual dalam sejarah peradaban umat manusia. Kertas sebagai media tulis dan baca tentu memberikan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan tersebut.

Berkembangnya teknologi di era modern seperti sekarang dalam satu sisi memberikan kemudahan dan sisi lainnya menimbulkan beragam permasalahan. Salah satunya terkait pemanfaatan dan peran kertas dalam kehidupan manusia di era modern. Peran kertas dalam membangun peradaban modern akan mudah dipahami ketika kita kembali pada sejarah, karena belajar dari sejarah membuat kita bijak mengatasi masalah.  

Sedikit banyak kita akan menyentuh ranah agama dan mengulas balik sejarah peradaban dunia. Ini karena, pembagunan sebuah peradaban tidak bisa terpisahkan dengan agama atau keyakinan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Keyakinan ini pula yang menuntun penyusunan gagasan dalam sebuah tulisan, bukan dijadikan kewajiban untuk diyakini segenap pembaca, tetapi menjadi landasan pemikiran yang kita bagikan ke sesama manusia.

Sebelum ditemukannya kertas, manusia menjadikan batu, tulang, logam dan kulit hewan sebagai media tulis menulis. Hal tersebut tentu tidaklah efektif dalam menyebarluaskan informasi ataupun menjadikannya dalam satu kumpulan tulisan. Tahun 105 Masehi, seorang pejabat pengadilan kekaisaran Dinasti Han bernama Tsai Lun menciptakan sebuah inovasi pembuatan kertas dari kulit kayu yang kemudian menjadi cikal bakal pembangunan industi kertas. 

Begitu pentingnya kertas dalam sejarah peradaban manusia, menjadikan Tsai Lun sebagai salah satu dari 100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah (The 100, a Rangking of The Most Influential Persons in History) karya Michael H. HartBesarnya peran kertas terhadap peradaban dunia bahkan menjadikan Tsai Lun menempati urutan ke-7 dari 100 tokoh mengalahkan Albert Enstein, Johann Gutenberg, Aristoteles, Christopher Columbus dan ilmuan lainnya.

Peran kertas dalam pembangunan sebuah peradaban kemudian dapat dilihat dalam tiga fase, yakni abad ke-2 dengan pesatnya peradaban Cina, abad ke-7 peradaban islam dan abad ke-12 peradaban Eropa. Bangsa Cina berhasil meraih peradabannya dengan merahasiakan pembuatan kertas yang membuat negeranya kemudian lebih maju bahkan dibandingkan dengan eropa. Namun, pada tahun 751 masehi terjadilah perang talas antara bangsa cina dan arab yang dimenangkan oleh bangsa arab. Hal ini membuat tahanan cina kemudian mempraktikkan cara pembuatan kertas kepada bangsa arab. 

Ilmuan muslim lalu memperkenalkan penemuan baru dan inovasi yang mengubah keterampalian membuat kertas menjadi sebuah industri. Kertas yang awalnya hanya dibuat dari pohon murbei kemudian diganti dengan pohon linen, kapas dan serat yang difermentasi dan digiling menggunakan tenaga air. Di produksilah bubuk kertas dalam skala besar hingga menghasilkan kertas yang dapat dilukiskan dengan tinta. Industri kertas sejak saat itu menjadi sebuah industri yang sangat besar.

Tradisi literasi bangsa Arab berkembang seiring dengan berkembangnya industri kertas. Perpustakaan-perpustakaan besar didirikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya ilmu pengetahuan semakin meningkat melalui buku yang mereka baca. Dari tradisi ini, ditemukan ilmuan-ilmuan muslim yang sangat hebat dan menguasai semua lini pengetahuan dunia. 

Abad ke-8, saat benua Eropa masih terbenam dalam seribu tahun kegelapan, Baghdad salah satu kota di Jazirah Arab kemudian menjadi imperium yang sangat berkuasa. Ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, perdagangan dan industri adalah yang paling maju di Dunia. Kertas menandai sebuah revolusi besar bangsa arab melalui buku yang menjadi sarana pengembangan ilmu pengetahuan di abad pertengahan. Kertas menghubungkan pemikiran dari generasi ke generasi dan menciptakan berbagai karya ilmuan besar muslim yang bahkan dapat dilihat hingga sekarang.

Hal ini membuktikan bahwa peradaban sebuah bangsa mampu terwujud dengan tradisi literasi yang tercipta karena peran besar kertas di dalamnya. Jika peradaban mampu terwujud karena tradisi ini, maka hancurnya peradaban sebuah bangsa pun dipengaruhi oleh hancurnya tradisi tersebut. Abad ke-12 adalah masa menjelang hancurnya peradaban bangsa Arab. 

Ilmu pengetahuan yang dulunya sangat berkembang bahkan nyaris mati. Pemikiran-pemikiran maju dikunci dan ditinggalkan sementara tradisi literasi tidak lagi menjadi sebuah kebiasaan. Umat islam terkekang dalam pemikitan konservatif yang berlebihan, menganggap rasionalitas sebagai wujud ilmu pengetahuan akan menghilangkan kepercayaan terhadap tuhan yang tidak mampu dirasionalkan.

Akhir peradaban bangsa arab dan ilmu pengetahuan berlandaskan islam  ditandai dengan serangan ratusan ribu tentra mongol yang mengepung seluruh penjuru kota Bagdad. Laki-laki, perempuan, tua ataupun muda diseret ke jalan dan dibantai satu demi satu secara brutal. Tentara mongol melakukan pembantaian dengan kepercayaan, semakin banyak yang mereka bunuh, maka semakin dekat mereka dengan kesucian. 

Sungai tigris kala itu merah karena darah dari jutaan orang yang dibantai.  Hari lainnya berwarna hitam pekat karena darah bercampur tinta dari jutaan buku yang dibuang ke sungai. Jutaan buku terbaik dunia yang dikumpulkan beratus-ratus tahun lamanya dan menjadi buah pemikiran dari ilmuan-ilmuan dunia. Perpustakaan-perpustakaan besar bahkan diratakan dengan tanah. 

Besarnya kesadaran mereka akan pentingnya buku sebagai sumber ilmu pengetahuan membuat tentara mongol menjadikan buku salah satu target utama mereka untuk segera dimusnahkan. Akhirnya, peradaban islam yang besar hancur saat itu juga. Begitu besarnya peran kertas sehingga mampu menciptakan dan mampu meruntuhkan sebah peradaban.

Sementara Eropa bangkit dari zaman kegelapan “The Dark Age” dan belajar dari peradaban islam, peradaban islam sebaliknya mundur ke zaman kegelapan. Abad ke-13, semua ilmu yang lebih maju dari bangsa Arab habis diterjemahkan dan ditransfer ke Eropa, tidak terkecuali tata cara pembuatan kertas. Setelah kejayaan Islam redup, bangsa Eropa kemudian mendominasi produksi kertas dan membangun sebuah rumah industri di Italia. Hal ini terus berlanjut hingga ke masa peradaban modern yang ditandai dengan “Rennaisance” atau kelahiran kembali kebudayaan Eropa kuno sampai sekarang.

Jika abad ke-2 dengan pesatnya peradaban cina, abad ke-7 peradaban islam dan abad ke-12 peradaban eropa, maka abad ke-21 adalah peran kita untuk mengukir sebuah sejarah peradaban bangsa. Sekarang, kertas tidak lagi hanya digunakan sebagai media baca, kertas juga digunakan dalam pemanfaatan sehari-hari, seperti pembungkus dan pembersih. Hampir disemua kegiatan masyarakat terdapat peran serta kertas didalamnya. Produksi kertas terus meningkat namun sayangnya, kemudian menghasilkan masalah baru, pencemaran lingkungan.

Menurut Indonesian Pulp and Paper Association Directory menyatakan bahwa konsumsi kertas di Indonesia mencapai 5,96 juta ton pada tahun 2006. Tercatat 65-69 juta pohon ditebang untuk memenuhi kebutuhan akan kertas para angkatan kerja di Indonesia. Jika hal ini terus dibiarkan, maka pepohonan yang ada di negara kita akan habis dan akan memicu bencana karena berkurangnya jumlah pohon di Hutan. 

Badan Planologi Dephut, 2003 menyatakan bahwa pada tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak dengan 59,62 juta hektar berada di kawasan hutan. Hingga tahun 2003, tercatat telah terjadi 647 kejadian bencana di Indonesia dengan 2022 korban jiwa dan kerugian milyaran rupiah, dimana 85 persen dari bencana tersebut merupakan bencana banjir dan longsor yang diakibatkan kerusakan hutan (Bakornas Penanggulangan Bencana, 2003). Jika ini terus dibiarkan maka akan memicu masalah besar bagi kehidupam masyarakat.

Masalah pencemaran lingkungan memaksa manusia modern untuk berfikir keras, bagaimana cara menyelesakannya. Hal yang kemudian dilakukan adalah menghadirkan media baru bernama internet. Secara perlahan, internet sebagai transformasi digital mulai menggantikan peran dokumen berbasis kertas sebagai media penyebarluasan informasi. 

Alhasil, terjadilah “paperless society”atau berkurangnya tingkat penggunaan kertas dalam kehidupan masyarakat modern. Satu sisi, hal ini tentu baik karena dengan berkurangnya produksi kertas maka berkuran pula kemungkinan terjadinya kerusakan lingkungan. Internet kemudian menjadi media penyebaran berita dan informasi yang berkembang di zaman modern, tetapi kertas tetap mendominasi dalam hal pemenuhan kebutuhan seperti pembungkus dan pembersih.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar melalui website resmi Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menyatakan, pada tahun 2013, Indonesia memiliki 82 industri pulp dan kertas yang terdiri atas 4 industri pulp, 73 industri kertas serta 5 industri pulp kertas terintegrasi dengan kapasitas terpasang industri pulp dan kertas sebesar 18,96 juta ton. Disampaikan pula bahwa peningkatan penggunaan media online tidak akan menghambat perkembangan industri pulp dan kertas di tanah air yang masih sangat besar. Indonesia bahkan menempati peringkat ke-9 untuk produsen pulp terbesar dan ke-6 untuk produsen kertas di Dunia.

Kertas telah memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap peradaban dunia. Mulai dari lahirnya inovasi yang berasal dari Cina, kemudian dikembangkan oleh masyarakat muslim dan berhasil mengantarkan Arab sebagai imperium yang sangat berkuasa, hingga keberhasilan Eropa mencapai “Rennaisance” dan menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Industri kertas yang berkembang pesat lalu memicu permasalahan lingkungan dan lahirlah ide pemanfaatan teknologi internet sebagai media penyebarluasan informasi. Berkurangnya peran kertas (paperless society) yang dikhawatirkan akan terus berlanjut tidak menjadikan produksi kertas hilang begitu saja. 

Sejarah panjang peranan kertas dalam pembangunan sebuah peradaban ini hendaklah disikapi dengan bijaksana. Kita tidak akan bisa menjauhkan teknologi dan tidak juga menghilangkan kertas dari kehidupan manusia. Keduanya harus berjalan secara beriringan. Teknologi tetap dijalangkan dan kertas tetap dimanfaatkan. Bagaimanapun, kertas tidak akan pernah hilang dari sejarah peradaban, dulu, sekarang dan yang akan datang.