Indonesia sudah terkenal dengan keanekaragaman akan ciri khas budayanya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya suku bangsa, adat, kesenian, dan bahasa yang ada di Indonesia. Ragam budaya dan bahasa yang muncul itu membentuk adat kebiasaan yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal.

Salah satu dari sekian banyak bahasa daerah yang keberadaannya mewarnai keragaman budaya Indonesia adalah bahasa Jawa. Bahasa jawa ini sendiri memiliki struktur bahasa yang berbeda dari bahasa yang lainnya. Masyarakat awam di luar pengguna bahasa Jawa akan sulit menggunakan dan memaknainya tanpa memahami struktur leksikal dan gramatikalnya dengan baik.

Penulisan karya sastra biasanya dipengaruhi oleh sistem budaya, konvensi, dan adat kebiasaan yang diangkat ke dalam teks kesastraan secara fungsional. Sehingga tidak jarang kalau dalam teks sastra terdapat kata-kata bahasa asing atau bahasa daerah di dalamnya.

Pada dasarnya bahasa adalah bagian dari hasil kebudayaan, yang terdiri dari rangkaian nilai-nilai dan simbol dalam perilaku masyarakat. Pemakaian ditentukan oleh faktor-faktor linguistik daan nonlinguistik, faktor linguistik meliputi kajian mengenai fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.

Dalam kajian semantik, semantik dibedakan menjadi dua yaitu semantik gramatikal dan semantik leksikal. Semantik leksikal merupakan tataran kebahasaan yang paling peka untuk berkembang (Kridalakasana, 1978: 563). Sehingga semantik leksikal ini mempunyai makna dari unsur-unsur bahasa yang lepas dari penggunaan dan konteksnya.

Dalam cerpen Sri Sumarah dapat diketahui bahwa latar budaya Jawa digunakan sebagai pijakan dalam cerpen ini. Cerpen ini mengangkat tema “Sosio kultual”, yang menggambarkan Sri sebagai tokoh utama yang merupakan seorang perempuan Jawa yang kuat dan tangguh serta masih tunduk dan terikat terhadap tradisi Jawa yang ada, namun setelah suaminya meninggal dan harus menghidupi anaknya ia mampu melepaskan dirinya dari tradisi yang mengekang itu.

Berdasarkan latar budaya yang terdapat dalam cerpen Sri Sumarah ini, terdapat istilah bahasa Jawa di dalam teks cerpen Sri Sumarah diantaranya adalah:

Pepatah

Pepatah adalah peribahasa yang terjadi dari kalimat yang tidak lengkap, berisi hal-hal umum, dan berisi nasihat. (Kridalaksana, 2008: 187). Pepatah merupakan ungkapan tradisional yang diungkapkan oleh suatu kelompok masyarakat sebagai wujud ungkapan budaya dan adat istiadat dalam suatu masyarakat. Seperti dalam ungkapan berikut:

“Dan pada waktu Sumarto sudah duduk berhadapan dengan Sri, makin yakinlah Sri bahwa dialah jodoh sing wis pinasti, kata orang Jawa lagi” (Kayyam, 1975: 9)

Kutipan ‘jodoh sing wis pinasti’ yang berarti ‘dialah jodoh yang sudah tersedia’ itu merupakan sepenggal kutipan pepatah bahasa Jawa yaitu ‘jodoh, pati, rizki iku wis pinesti dening Gusti’ yang artinya ‘jodoh, mati, dan rezeki sudah pasti ada di tangan Tuhan’. 

Pepatah tersebut merupakan salah satu pedoman hidup yang diyakini oleh masyarakat Jawa. Mereka sangat mempercayai bahwa jodoh, kematian, dan rizeki seseorang sudah ada yang mengatur, sehingga kita sebagai manusia hanya bisa menjalankannya.

Dalam pepatah tersebut, arti yang melekat pada leksem ‘jodoh’ yang berarti ‘jodoh, ‘sing’ berarti ‘yang’, ‘wis’ berarti ‘sudah’, adalah arti leksikal. Sedangkan verba ‘pinasti’ berarti ‘tersedia’ ini adalah arti gramatikal.

Pemajemukan

Pemajemukan atau compound lexeme merupakan leksem yang terdiri atas gabungan dua buah simple lexeme atau lebih. (Subuki, 2011:63) dalam bahasa Indonesia hasil pemajemukan disebut dengan kompositum. Dalam cerpen Sri Sumarah terdapat pemajemukan dalam bahasa Jawa, seperti berikut:

“Mereka bukan tuan tanah seperti Pak Mohammad. karena itu mereka akan lebih tepo sliro terhadap nasib ibu.” (Kayyam, 1975: 36)

Dalam kalimat di atas terdapat kata majemuk dalam istilah bahasa Jawa ‘tepo sliro’ yang berarti ‘tenggang rasa’. Leksem ‘tepo’ dan ‘sliro’ jika tidak digabungkan menjadi ‘tepo sliro’ maka leksem tersebut tidak mempunyai makna. Leksem ‘tenggang rasa’ ini merupakan gabungan dari simple lexeme ‘Tenggang’ dan ‘rasa’.

Dalam cerpen Sri Sumarah ini kita dapat mengetahui bahwa pemajemukan tidak hanya terdapat dalam bahasa Indonesia saja namun bahasa Jawa pun terdapat pemajemukan.

Pengulangan

Pengulangan bentuk yang terjadi pada kata dapat membentuk arti yang berbeda dari kata yang membentuknya (Kridalaksana, 1995: 8). Dalam teks cerpen Sri Sumarah terdapat kata pengulangan dalam bahasa Jawa, seperti dalam ungkapan berikut:

“Alangkah aman hidup pemimpin-pemimpin desa itu dengan bengkok-bengkok sawah mereka.” (Kayyam, 1975: 19)

Kata ‘bengkok-bengkok’ ini merupakan hasil pengulangan piranti gramatikal yang menunjukkan arti jamak. Kata ‘bengkok-bengkok’ dibentuk oleh kata ‘bengkok’ yang berarti ‘tanah milik desa yang dipinjamkan kepada pamong desa untuk digarap dan dipetik hasilnya sebagai pengganti gaji’. 

Jadi dapat kita ketahui bahwa tidak semua pengulangan dapat mengubah arti dari kata dasarnya, namun dapat juga untuk menunjukkan arti jamak.

Referensi:

  • Kayyam, Umar. 1975. Sri Sumarah dan Bawuk. Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Subuki, Makyun. 2011. Semantik. Jakarta: TransPustaka.
  • Kridalaksana, Harimurti. 1988. Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.