Pada sebuah kuliah umum saya di Mataram, saya menerima keluhan dari mahasiswa. “Saya itu nggak minat kuliah, Pak. Saya tadinya mau berbisnis. Saya sudah kumpulkan modal, siap mulai. Tapi orang tua saya memaksa saya kuliah. Saya bingung mau kuliah apa, karena saya nggak minat. Akhirnya saya masuk ke sini, prodi pendidikan fisika. Walau saya nggak tahu apa itu fisika.”

Saya beri dia nasihat kecil. “Kamu bisa tetap melaksanakan keduanya. Kuliah jalan, tapi jalankan juga bisnismu.”

Usaha orang tua untuk mengarahkan (memaksa) anak-anaknya untuk jadi ini dan itu suatu saat mungkin akan gagal. Karena, seperti kata Gibran, "anakmu bukanlah milikmu." Mereka adalah putra-putri kehidupan yang mendambakan hidup mereka sendiri. Mereka akan jadi anak panah yang lepas dari busur. Begitu kau lepaskan, kau tak lagi bisa mengendalikannya.

Di zaman ini seorang dokter bisa jadi artis atau pedagang. Ahli nuklir bisa jadi pengamat media sosial. Hidup penuh tikungan tak terduga, kata seorang teman. Saya yang berniat jadi guru, “terpaksa” jadi General Manager (GM). Life is never flat.

Apakah kita masih berpikir untuk menentukan hidup anak kita, misalnya, dengan memaksa mereka kuliah mengambil jurusan sesuai selera kita? Menurut saya itu perbuatan sia-sia. Kita tidak hanya menyiksa anak, tapi juga menipu diri. Kita tidak pernah tahu akan jadi apa anak kita kelak. Karena ada suatu saat di mana kita tak bisa lagi mengontrol mereka, dan mereka akan jadi apa saja.

Maka saya lebih suka mendorong anak-anak saya untuk belajar, memperkenalkan mereka dengan berbagai pengetahuan, serta berbagai profesi. Saya hanya berharap mereka berminat pada sesuatu, lalu menekuninya.

Tekun, itulah kuncinya. Anak hanya perlu semangat untuk menekuni sesuatu. Apa yang dia pilih untuk ditekuni, tidak jadi soal. Bisa jadi pula ia akan berganti minat kelak. Tak masalah. Karena orang tekun akan sukses di mana saja.

Bahkan kalau anak saya memilih untuk tidak kuliah demi menekuni sesuatu, saya akan dukung. Tidak semua orang perlu jadi sarjana!