Biar kusempurnakan masa dengan menjenguk zaman
Memahat citra fase akut kegandrungan yang tak berkesudahan
Tak apa walau bertumpu pada kenihilan
Tak menjadi soal meski harus memborong segala bentuk keculasan
Tak masalah walau harus menyandarkan diri pada pundak buih tak berhaluan

Sementara itu, aku sibuk menerjemahkan
Berkali-kali menguliti diri kutemukan
Tak cukup sekali saja isian kepala kubenturkan
Keyakinan yang mengendap di dalam diri kugoyahkan

Hingga sesalnya sampai di persinggahan yang kusebut gubuk tak bertuan
Dan warisan cara pandang kekolotan itu tanpa ragu melucuti kesangsian
Meminta-minta penghakiman, menuntut keadilan
Memintal benang putus sebagai puncak kemenangan

Lantas apa yang harus ditegakkan?
Pada posisi mana aku menaruh tangan
Menggenggam patahan keangkuhan itu sungguh memalukan, bukan?
Mengebiri hasrat itu nama lain ketidakmampuan

Tegak seketika, menatap saling berhadapan
Persis di bahu jalan buntu kebingungan
Tak sengaja berpapas sosok paruh baya ideal kebanggaan
Teladan, pemilik potret rumah yang bernama perwakilan
"Bu Tejo! Bu Tejo! Bu Tejo!", sorak-sorai jelma pemujaan

Idola milenial, pemegang tampuk kekhalifahan ras-rasan
Ruju' ila internet khoshoh sumber solutif andalan
Tajasus, ghibah dan fitnah adalah do'a-do'a harapan
Savana instan dalam kubang kemerasaan
Doyan melatah segudang label penilaian
Namun dicutat sejengkal namanya ogah-ogahan

Kebenaran bukan menyoal banyak riwayat kebetulan
Tapi lantang suara netizen sanggup menjejali daun jendela penuh kepongahan
Menyewa kalimat cerca menjadi mantra kepercayaan
Dan semua sibuk meraba-raba bahasa selangkangan Dian

Yu Sam dan Yu Tri pembawa panji-panji persengkokolan
Sekutu handal sebagai lantaran
Penyambung lidah kecurigaan
Pelumat rasa yang terus-menerus dipanaskan

Percuma,
Begitu jua dengan Yu Ning!
Menjadi moderat takan pernah mampu menundukkan keakuan
Menjadi orang bijak hanya berakhir diinjak-injak
Ruang di balik dada mereka telah telanjur dikontrak
Akal sehatnya menumpul, tertimbun muak

Ah, Aku lelaki bejat benar-benar telah pandai mendikte peran
Berhasil menyirnakan identitas diri para puan
Tak menyentuh kujur awaknya namun mereka menyerahkan
Tak bermaksud menjinakkan namun mereka merasa butuh dikorbankan

Aku terbahak-bahak di pojok keserakahan
Merasa geli dengan tipu daya yang berserakan
Sempat tertegun sejenak, dikala bercinta kopi berkawan Simon De Beauvior
Menerka tajam ke muara sesungutan

Sementara Bu Tejo menatap cermin membayang diri dengan paras angkuh kelelakian
Dan aku memergoki segerombol semut di bibir gelas sedang cekikikan
Hingga akhirnya mereka saling membisik memilukan, "dasar anak zaman!".


Cermin Kenangan

Aku, kamu dan sepenggal cerita
Beberapa paruh waktu telah terhabiskan atas nama kita
Terbahak-bahak membopong langit bahagia
Tersendu-sedan merangkul luka

Sementara itu dunia serasa milik kita
Cukuplah kita!
Berdua saja,
Biarlah mereka-mereka membayar upeti atas nama imigran asmara

Ah, gila!
Tapi tak ada yang benar-benar berani menyewa
Apalagi, kalau-kalau berlapang tangan memberi suku bunga
Mungkin kita telah lama dapat berjingkrak ria
Menyusun gelak tawa
Melampiaskan nafsu di gelap gulita
Membombardir pertahanan rasa
Menundukkan kepala di atas etika

Kini hambar semuanya,
Semua telah kembali pada asal semula
Asal-muasal yang masing-masing kita sebut sebagai tuna
Kesepian sejati yang tak pernah mampu kita terima

Memang begitu seharusnya
Adalah keterasingan wujud hakikatnya
Ada perjumpaan begitu halnya perpisahan kita
Kamu-aku kini bukan siapa-siapa
Bahkan satru, enggak menyapa
Padahal kita tetangga

Semua telah terukir dalam masanya
Berbaur menjadi satu-satunya jejak tentang riwayat singkat cinta
Pertautan ekspresi tiada dua
Tentang gejolak rasa yang pernah terumbar ke muka
Kita jalani bersama,

Lucunya,
Sesekali marah menjadi jembatan pengasah rasa
Saling menuding, menaruh curiga
Serta-merta menunggang alasan sebagai kuda
Atas nama cinta semua nampak indah di mata

Sesekali terbakar api cemburu buta yang semena-mena
Bahkan tak dapat menapikannya
Menyisihkannya lebih sering menanggal sayatan di dada

Begitu jua kini, ketika aku harus mengingatnya
Tertatih harus sedikit mengulur cerita cinta yang telah lama aku melupa tentangnya
Aku mematung,
Dan kutemukan lolongan panjang suara hatiku untuk yang terakhir kalinya


Netizen

Harus kusebut apa sikapku di hadapan tuan?
Kerudung ekspresi telah berhasil kulenyapkan
Prasyarat mandul kusingsingkan
Jemari tangan ini berkidung dalam kesenyapan

Tapi, aku melulu dirangkul ketakutan
Diliput rasa was-was yang kambuhan
Berkubang lumpur antara ketidaktahuan dan kepuasan
Dan aku masih tertegun memintal satu pertanyaan
Haruskah berakhir dengan berlaga pilon?

Hendak kritis divonis melontar nyinyiran
Hendak empati digadang-gadang generasi baperan
Perlente ekspresif emoticon dituding kaum rebahan
Acuh tak acuh jelmaan penghuni julid tak berbudiman

Sampai di tepian ini aku lebih sering mengernyitkan dahi berkali-kali
Mencari-cari kubu satu frekuensi
Bersikeras mengelana di penghujung sesi Pandemi
Bohong tapi,

Yang nampak hanya sekadar hukum rimba yang suka mencaci
Setiap waktu berbondong-bondong malpraktek bak kelinci
Padahal kami berpijak di bumi subur kata Ibu Pertiwi
Kami bernaung di bawah nisan keadilan sosial yang sebenarnya tak pernah dibagi
Namun, bodohnya aku, secepat mungkin mengamini

Dan aku terbelalak bahwa hidupku sejauh ini hanya mimpi
Batasan angan yang membebal karena terpagari
Bahkan undang-undang kemaslahatan umat itu dimonopoli
Aku tak tahu kalau-kalau itu dibuat dalam setengah berahi dan berlari
Hingga menjadi udzur di senja hari
Menarik demonstrasi yang tak kunjung sembuh menangkap arti

Ah, apa iya aku-jelata masih banyak membual tentang tapi
Terlalu musykil untuk menyumat api
Meratap hidup tanpa merubah warna apapun yang terjadi
Mungkin iya aku sedang melupa diri
Bahwa aku singgah di republik omongkosong yang berapi-api
Negeri pesulap didikan tuan muda yang bernama korupsi


Hoak

Terpasung kabar angin tak beribu
Menyulut api yang menggebu
Tak pikir panjang kalau-kalau khalayak ramai diam-diam sedang ditipu
Mati kutu,
Akalnya sudah telanjur sayu

Mulanya sesungutan acakadut itu bangga memecah buntu
Pamer jidat lebar, berjingkrak ria tentang urusan baru
Membusung dada sembari tersipu-sipu
Ia menyebut diri sebagai suhu
Dan kegemarannya menyimpan satru
Mengebiri malu yang kemudian menyelipkannya di tunas bambu

Mungkin ia sedang asyik menabur benih kedustaan di pelipis hari Sabtu-Minggu
Bahkan sampai hati tak menabuh genderang ragu di saku
Ah, cukup sekian dulu
Tak ingin rasanya banyak menggamit candu Pun sejengkal kalimat rengekan sebagai tanda mengadu