Keduanya sejak kecil sudah menjadi teman bermain. Rumah mereka tidak begitu jauh, jika melalui pintu depan mereka harus memutar. Tapi dengan pintu belakang dan halaman yang hanya terpisah oleh tembok mereka bisa berdiri untuk sekedar menengok atau memanjat dan melompot untuk pergi ke halaman sebelahnya.

Itu tiga belas tahun yang lalu saat Randu masih bocah ingusan berumur 8 tahun dan Mayang gadis kecil berusia 5 tahun. Mayang dan kedua orang tuanya menempati rumah itu setelah hampir 3 tahun kosong. Dengan pohon jambu dan semak belukar yang tumbuh di halaman belakang. Kini setelah mereka pndah kesan rumah angker-berhantu itu seketika lenyap bersama semak belukar yang berubah menjadi abu dan kepulan asap.

Randu kini tidak takut untuk bermain di halaman belakang. Bukan saja karena halaman di sebelah sudah nampak terawat, melainkan karena gadis kecil yang tiap hari bermain di halaman tersebut. Ia hanya perlu menaiki sebuah palet kayu yang biasa digunakan bapaknya menyimpan buah-buahan sebelum dibawa kepasar.

Setiap pagi selapas mandi dan sarapan ia selalu berdiri di atas palet itu untuk melihat Mayang bermain. Ibu dan bapaknya sejak subuh pergi ke pasar, mereka hanya meninggalkan baju di samping tempat tidurnya untuk ia pakai selepas mandi. Dan makanan untuk ia sarapan. Ia memiliki waktu sekitar 2 jam sebelum Bi Imas datang untuk mencuci pakaian, mengepel, memasak makan siang dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.

Suatu waktu Mayang menoleh ke arahnya dengan garis senyum yang manis yang membuatnya tersipu malu. Itu adalah kali pertama ia mendapat respon seperti itu. Kecuali ibu, bapak dan Bi Imas, semua orang memandangnya dengan tatapan jijik dan takut terhadapnya. Itulah sebabnya di usianya yang sudah cukup untuk masuk sekolah dasar ia tetap berada di dalam rumah.

Desas-desus tetangga beseliweran tentang Randu dan keluarganya. Konon kutukan turun-temurun menimpa keluarganya jauh sebelum ia lahir, melintasi beberapa generasi keluarga. Itu terjadi akibat nenek moyang mereka pernah melakukan pesugihan. Dengan mahar keturunannya kelak akan lahir menyerupai iblis, katanya.

Dengan ingus yang senantiasa mengalir keluar dari hidungnya, wajah legam hitam tak beraturan, dan tubuh yang tidak menyerupai manusia pada umumnya, Randu tumbuh menjadi anak rumahan. Ibu dan bapaknya tak kuasa melepasnya berkeliaran di kampung. Jika bukan karena ia di lahirkan dari rahim dan di tanam dengan benih kedua orang tuanya. Ia mungkin sudah lama mati.

Di hari kelahirannya, ia tidak disambut dengan meriah dan lantunan suara azan seperti yang biasa orang-orang lakukan. Selain karena bapaknya tidak tahu bagaimana mengucapkan azan, tapi ia lahir dengan kondisi yang membuat paraji pingsan dan tak sadarkan diri seusai melihat pertama kali wajahnya. Begitu menjijikan dan menakutkan untuk wajah seorang bayi. Hoek.

Mayang kini beranjak menjadi remaja yang begitu cantik. Di usianya yang ketujuh belas tahun ia menjadi perempuan paling cantik di kampungnya. Tingginya sekitar 165 sentimeter dengan buah dada yang menonjol di balik seragam putihnya. Rambutnya yang panjang terurai menjadi dua untaian melewati pinggul. Jalannya gemulai menampakan lekuk tubuhnya yang indah saat berjalan.

Sejak kelas satu SMA ia sudah memenangi lomba putri kecantikan di sekolahnya. Para siswa perempuan dibuat iri olehnya. Sementara itu, beberapa siswa laki-laki bergantian berusaha merayunya. Beberapa diantaranya bahkan memiliki keberanian untuk mengatakan rasa sukanya. Walaupun kebanyakan diantara mereka lebih di dorong oleh rasa berahi.

Setiap orang yang melihatnya akan gelisah membayangkan lekuk tubuhnya yang nyaris sempurna untuk perempuan seusianya. Perlahan tangan mereka bergerak ke arah selangkangan. Jika sudah tak tahan, mereka akan pergi ke toilet untuk memuntahkan hasratnya.

Mayang sangat menyadari posisinya. Tatapan penuh berahi senantiasa mengarah kepadanya. Seperti anjing-anjing yang sedang mengincar mangsanya. Meskipun begitu ia tidak banyak menanggapinya. Sebab, tatapan mereka tetap tidak akan bisa mengalahkan tatapan laki-laki yang sejak ia berumur 5 tahun senantiasa ada di balik tembok di halaman belakang rumah.

Meskipun menjijikan dan membuat orang yang melihatnya takut, Randu tetap tumbuh menjadi Remaja lainnya. Yang mengalami mimpi basah dan konak saat melihat Mayang yang duduk di ayunan pohon jambu di halaman rumahnya. Tak jarang tangannya mulai meraba kemaluannya yang tiba-tiba mengeras dan dengan bantuan tangan ia menumpahkannya di tembok sembari tetap memandanginya.

Sesekali keduanya bermain di halaman belakang rumah. Biasanya Mayang yang datang dengan memanjat dan melompati tembok itu. Lantas keduanya duduk di teras belakang dengan es kelapa atau sirup yang di sajikan Bi Imas.

Tidak seperti orang-orang yang memandangnya dengan jijik, ngeri dan takut, ia begitu santai, tenang dan tidak menampakan ekspresi seperti itu. Seolah semuanya seperti tidak ada yang aneh. Keduanya bercengkrama seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang memadu cinta.

Di momen-momen seperti itu menjadi waktu di mana Mayang banyak bercerita tentang segala hal. Mulai dari kehidupannya di sekolah dengan tatapan-tatapan penuh berahi yang mengintai hingga cerita tentang kemaluannya yang berhasil diterobos oleh sebuah batang yang keras di sebuah ruangan di sekolahnya. “Perihnya masih terasa sampai sekarang.”

Randu begitu terkejut, cemburu dan marah atas apa yang ia dengar. Ia naik pitam meskipun tetap seperti biasanya diam tak bersuara. Mimiknya pun tak banyak berubah meskipun marah. Sebab tak ada perbedaan dari raut wajahnya saat ia senang, marah maupun sedih. Wajahnya tetap menjijikan seperti yang orang-orang katakan.

Saat itu sore hari di saat kebanyakan siswa sudah pulang kerumahnya. Ia bersama beberapa temannya sedang mempersiapkan sebuah acara pentas seni yang akan diadakan akhir pekan nanti. Ia bertugas untuk menghias tempat acara tersebut dengan riasan kertas wajik, balon-balon yang diletakan di sudut-sudut panggung, juga lukisan yang disimpan di sekeliling lapangan. Tak lupa tempat bagi setiap kelas menampilkan hasil kreasinya harus ia petakan.

Sebelum pulang seorang guru memanggilnya kesebuah ruangan. Tentunya ia sudah hafal dengan guru itu dan cukup akrab. Selain pernah diajar olehnya, guru itu pun menjadi pembimbing dalam kegiatan tersebut. Maka, ia pun menyuruh temannya untuk pulang terlebih dahulu sebab ia akan menemui guru itu.

Ia tak menyangka kedatangannya menjadi awal kepedihannya. Selain perih yang ia rasakan di selangkangannya berhari-hari. Juga harus menerima kenyataan bahwa benih di perutnya mulai tumbuh. Kini ia hanya bisa berdiam diri di rumah. Orang tuanya mengurungnya di rumah. Sekolahnya ia tinggalkan, meskipun sebentar lagi ujian.

Hampir sembilan bulan ia terpenjara di rumahnya sendiri. Satu-satunya hiburan baginya adalah Randu yang senantiasa memandangnya di balik tembok tersebut. Begitu pagi tiba ia akan duduk di kursi yang kini disediakan bapaknya setelah perutnya mulai mengembung. Dan memandang laki-laki yang sejak kecil ia lihat berdiri di balik tembok itu. Pun hal yang sama dilakukannya saat waktu sore tiba.

Keributan terjadi di sebuah rumah yang berada di pojok jalan. Seorang wanita dengan memangku bayi berdiri di depannya dan menyuruh pemilik rumah keluar. Orang-orang mulai berkerumun. Pagi itu Jayarunda diramaikan pertunjukan dadakan tersebut.

Mayang yang keluar rumah setelah sembilan bulan terpenjara di rumahnya sendiri akhirnya mendatangi rumah laki-laki biadab tersebut. Seluruh kronologis yang pernah terjadi ia teriakan di depan rumah itu. Orang-orang semakin ramai mengerubunginya.

Seorang pedagang di pasar pergi meninggalkan kiosnya. Seorang petani tidak langsung pergi ke sawahnya. Sopir angkutan memelankan kendaraannya, beberapa diantaranya berhenti. Penumpang di dalamnya terlihat begitu penasaran, kepalanya menyembul keluar dari balik jendela.

Si pemilik rumah keluar dan berdiri dengan tegang dan malu yang tak terkira. Meskipun awalnya ia menyangkal semua yang dikatakan Mayang, tapi melihat orang-orang yang berkumpul dan polisi yang mulai datang ia pun takluk atas pertahanan diri yang dibuatnya. Di sebelahnya sang istri menangis di ikuti seorang anak perempuan 3 tahun yang tak mengerti apa yang terjadi.

Randu yang mengetahui kabar itu dari Bi Imas yang bercakap-cakap dengan tetangga berang. Cemburu dan marah yang sudah sembilan bulan lalu ia terima kini memuncak. Dini hari saat orang-orang terlelap dalam tidurnya, saat penjaga tahanan tertidur di kursi piketnya. Ia masuk dan membuka jeruji besi yang menghalanginya. Tali yang telah ia persipkan tanpa banyak waktu ia ikat di leher lelaki itu. Mencekiknya sekuat tenaga dan tak perlu waktu lama lelaki itu ambruk dihadapannya.

Karung yang dibawanya ia gunakan untuk menyimpan mayat lelaki itu dan membawanya ke sungai. Di sana ia lantas melemparkan karung tersebut dan membiarkannya hanyut di bawa air. “Itu akbiatnya bagi seorang pemerkosa.”

Kabar matinya lelaki itu cepat tersebar seperti debu yang tertiup angin. Hal itu belum berhasil membuat Mayang beranjak dari sedihnya. Ia sadar walau bagaimana pun lelaki itu adalah bapak dari bayi ini.

“Maafkan Ibu, Nak, yang belum bisa membawa bapakmu datang melantunkan azan untukmu. Jika kau mau, mari kita susul lelaki biadab itu ke tempatnya.”

Bayi itu seolah menyetujui. “Kalau begitu, bawa aku menemuinya segera Ibu.”

Dan mereka pun benar-benar menyusul lelaki itu. Dengan tali yang melingkar di leher mereka.