Aku tumbuh menjadi ular. Yang hadir dalam gelap malam. Dari seorang yang membuangnya sembarang. Dari seorang yang menampungnya secara tak sadar. Itu terjadi sebelas tahun yang lalu. Sejak saat itu, aku di daulat menjadi seekor ular. Oleh ibuku sendiri. Meskipun aku tidak melakukan kesalahan apapun.

Kini di umurku yang kesebelas tahun, aku sering disuruh ibuku berjualan. Anehnya, orang-orang tidak melihat aku sebagai ular. Padahal, di rumah, ibuku selalu berkata bahwa aku seekor ular. Bukan seorang manusia. Dan aku harus mematuhi perkataannya.

Siang hari aku disuruhnya membawa baskom berisi gorengan untuk keliling kampung. Di situ kadang aku merasa tertekan, sebab, ejekan dari teman sebayaku selalu datang. “Goblok, mereka bisanya cuman namprak ke orang tua.” Aku mendengus setiap ada anak yang mengolok-olok. Ibuku tidak peduli, rupanya ibu lebih peduli terhadap uangnya dari pada diriku.

“Tutup telingamu, jangan dengarkan perkataan mereka, ingat dirimu hanya seekor ular.” Selalu berakhir dengan perkataan demikian.

“Telingaku berfungsi dengan baik. Bahkan getaran saja bisa kudengar. Apalagi omongan orang-orang.” Ingin aku berkata demikian. Tapi nyaliku ciut di depannya.

Ibuku semakin menjadi-jadi. Di momen tertentu, aku akan disuruh berjualan lebih banyak dan lebih lama. Melebihi buruh yang bekerja di pabrik. Saat tujuh belasan misalnya, sejak pagi aku disuruh berjualan. Baru selesai tengah malam saat acara dangdut bubar.

“Aku mau mandi dulu, Bu. Nanti aku balik lagi ke sini. Biar kakak yang menggantikan sebentar.”

“Tidak perlu, sudah diam saja di situ.”

Segera tanganku mengepal dengan sendirinya. Aku begitu geram terhadapnya. Jika bukan karena ia ibuku, akan aku guyurkan minyak panas di penggorengan itu ke wajahnya.

“Kau pikir, kenapa perempuan itu ingin melumatmu?” tanya salah satu temanku.

“Ia benci melahirkan ular.”

“Ia menganggapmu seekor ular?”

“Ibuku mendapatkanku di dalam kegelapan.”

“Karena itu kau dianggap ular?

Aku tidak ingin disalahkan karena itu. Tapi ibuku tidak peduli apakah aku salah atau tidak. Ia hanya benci atas benih yang bersarang dan tumbuh di rahimnya. Benih yang ditanam oleh seekor ular di kegelapan malam.

“Semua itu salah mereka!” aku menjerit. “Ibuku sendiri yang menyukai tempat itu, dan ular itu yang senang menanam benih di sana.”

Bayanganku melayang terhadap ular-ular yang senang berkeliaran dalam gelap. Mereka bersembunyi di balik semak menungu mangsanya. “Harusnya ia tidak di sana, kalau pun di sana, seharusnya lebih waspada dengan memasang kawat berduri di selangkangannya.”

“Jika ular ini lahir, akan aku buat penderitaan menjadi karibnya.”

Aku susah payah bertahan di dalam sana. Ibuku tak membiarkan aku hidup dengan kenyang. Ia membiarkan makanan yang masuk sangat sedikit. Hanya untuk memenuhi dirinya sendiri. Ia tidak membiarkan sisa makanan diambil olehku.

Teman-temanku membentuk benteng mengelilingiku. Mereka begitu lunak terlihat seperti cairan. Selama berada di sana, mereka yang menyediakan makan dan minum untukku. Juga melindungi jika ada racun yang ingin menerobos masuk.

“Kau jangan khawatir, aku akan melindungimu selama kau berada di sini,” begitu salah satunya berkata.

Aku senang atas upayanya. Meskipun mereka terlihat kepayahan. Tak pernah sekali pun mereka mengeluh dan ingin pergi meninggalkanku. Aku kasihan melihatnya, semakin lama, mereka mulai membiru. Racun-racun yang mereka hadang menyerap ke dalam tubuhnya.

“Kau harus lebih kuat jika urusanmu di sini sudah selesai,” katanya kepadaku, “tinggal sebulan lagi kau bebas.”

Itu terlalu lama. Aku tak bisa terus-terusan membiarkan mereka kepayahan. Besoknya, aku menerobos keluar dari dalam sana. Kubilang aku harus keluar segera, jika tidak, aku dan mereka akan mati konyol. Mereka membantuku untuk terakhir kali, mendesak, mendorong aku keluar.

“Aku siap,” sahutku.

“Mungkin kau belum siap. Tapi ini pilihan terbaik bagi kita semua. Semoga kau kuat di luar sana.”

Tangisku memecah suasana. Ibuku pingsan setelah aku berhasil keluar. Tubuhku terasa begitu lengket. Aku melayang di pangkuan seseorang. Rasa hangat menjalar keseluruh tubuh. Setelah siuman, ibu membawaku ke rumahnya, begitu gelap, tak ada cahaya yang terpancar darinya. 

Ia menjelma seperti buldoser yang biasa meratakan kehidupan. Memorakporandakan tubuh-tubuh yang berdiri diatasnya. Aku merasa kesepian. Jika begitu, aku ingat kepada teman-temanku yang tak lagi di sisiku.

Mereka akan memulihkan diri terlebih dulu, sebelum kembali bertugas melindungi ular-ular yang bernasib sama denganku, begitu pesan terakhir sebelum kita berpisah. Mungkin mereka berada di saluran-saluran air, berenang ke sana-sini. Setiap bertemu dengan air yang akan masuk ke pembuangan, aku selalu berpesan. “Jika kalian melihat mereka, tolong sampaikan rinduku kepadanya. Datang saja lewat lubang kloset di kamar mandi. Pelan-pelan jangan sampai ibuku tahu.”

Di kamar mandi, kuarahkan pandanganku pada air yang ada di kloset sambil berharap bahwa teman-temanku akan muncul dari cerukan air mendatangiku. Tapi di cerukan itu, biasanya aku hanya bisa menemukan sisa-sisa tahi. Kau tahu, benda ini tidak bersahabat denganku, mungkin juga manusia lainnya, sebab tak ada manusia yang sengaja mau bersalaman dengannya. Aku lalu mengambil air dengan gayung di bak dan menumpahkannya di kloset itu.

“Kau bodoh, kau diam saja saat ibumu menyuruhmu berjualan,” tahi itu memakiku.

“Kau yang bodoh! Kau tidak bisa kemana-mana jika tidak ada orang yang mengalirkanmu.”

“Justru itu, aku tidak bodoh, sebab tidak memiliki kehendak. Sedangkan kau memilikinya tapi diam saja.”

“Diam kau, tahi!”

“Kau ular.”

“Aku manusia.”

“Tapi ibumu menganggapmu ular.”

“Jangan sebut-sebut nama itu lagi.”

“Kau hanyalah seekor ular.”

Aku ingin sekali mencekiknya, memisahkan kepala dan tubuhnya. Tapi itu ku urungkan, sebab aku tak sudi mengotori tanganku dengan menyentuhnya. Ia berputar-putar sebelum menghilang. Aku melompat-lompat, bangga karena berhasil membunuhnya.

Suara benturan terdengar tiba-tiba. Pintu kamar mandi terbuka seketika, ibuku mendobraknya. Caci maki mendarat di telingaku. Mulutnya penuh cabai, begitu pedas rasanya caci maki yang mendarat di telinga. Aku ingin bertanya padanya. “Kenapa ibu selalu memakan cabai yang banyak hingga pedasnya terasa olehku?” Tapi rasa pedas tak pernah bisa di ganggu oleh pertanyaanku. Telapak tangannya mendarat di pipiku.

Aku tak menyangka hal itu terjadi. Ular yang bersarang di kepalaku pelakunya. Bukan aku. “Bukan aku yang melakukannya Ibu. Ular itu yang melakukannya,” sergahku. Ibuku terus berteriak, meronta-ronta, kini ia terkapar di lantai.

Betapapun aku membencinya, aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Aku membantunya berdiri, aku lap tubuhnya. Di kulitnya mulai tampak luka bakar. “Bukan aku yang melakukannya ibu.” Ibuku masih diam, tak membalas pernyataanku.