Beberapa hari yang lalu saya sedang khusyuk bermain Facebook, saya iseng mengecek sebuah grup curhat. Ada sebuah akun anonim yang mengaku sebagai remaja perempuan merasa kesepian dan depresi, merasa hidupnya tidak berarti. Banyak komentar positif berdatangan menyemangatinya. Tapi, menurut saya, justru ada yang salah dengan lingkungan sekitar gadis tersebut berada.

Keberadaan grup Facebook merupakan sebuah cara baru dalam komunikasi kelompok. Orang-orang tidak perlu lagi harus bertemu dalam satu tempat bersama-sama untuk membahas suatu hal. Begitu pula dengan grup yang khusus dibuat untuk mencurahkan isi hati. Seseorang bisa leluasa curhat dengan orang yang tidak dikenalnya. Bahkan, ia bisa membuat akun anonim atau akun palsu sehingga bisa lebih bebas membahas hal sensitif.

Grup curhat menjadi salah satu solusi bagi seseorang yang ingin mencari tempat menumpahkan beban pikirannya. Dengan akun anonim, mereka bisa menceritakan hal-hal yang sensitif diceritakan. Akun tersebut membuat anggota grup lain hanya berfokus pada ceritanya, bukan ke orangnya. Mungkin ada benarnya bila saya mengatakan kalau grup tersebut berisi tumpukan masalah.

Salah satunya adalah curhat masalah mengenai berat badan. Salah seorang anggotanya, sebut saja Mirna, mengaku insecure dengan berat badannya. Di dunia nyata, ia sering dikomentari negatif bahkan diejek karena berat badannya yang melebihi rata-rata.

Awalnya, ia bersikap bodo amat, namun kata-kata orang sekitar justru malah makin menyakitkan. Mirna bahkan sampai menangis karena orang lain menganggapnya menjijikkan. Ia ingin lepas dari rasa insecure tersebut.

Komentar yang diperoleh beragam, mulai dari komentar standar seperti “yang sabar ya, semua pasti ada hikmahnya” sampai komentar yang berbobot seperti memberikan tips menurunkan berat badan. Semua komentar tersebut memiliki kesamaan, yakni komentar positif.

Ya, walaupun ada yang positifnya toxic sih sampai bilang ‘bersyukur aja, semangat terus”. Hal ini membuat Mirna merasa lebih nyaman menumpahkan isi hatinya daripada kepada lingkungan sekitarnya di dunia nyata.

Selain itu, ada pula Santi (nama samaran juga) yang selalu mendapat perlakuan buruk dari ibu temannya hanya karena prestasinya lebih baik dari anak ibu tersebut. Santi selalu dijelek-jelekkan di depan umum sehingga membuatnya malu.

Sebenarnya Santi dan anak ibu tersebut bersahabat, bahkan sering bertukar rahasia. Tapi, suatu hari sang sahabat membiarkan ibunya membaca rahasia Santi. Santi pun merasa sangat kecewa dan akhirnya sulit percaya pada orang lain.

Kedua contoh tersebut memperlihatkan dua sisi dari media sosial. Pada satu sisi, media sosial dapat menjadi alternatif bagi orang yang ingin mencurahkan isi hatinya tanpa harus takut dan malu dengan penghakiman orang lain. Terlebih lagi apabila ia melakukan curhat ke grup curhat. Di sisi lain, hal ini menunjukkan bahwa di dunia nyata mereka tidak diterima, terutama dari orang terdekatnya. Mereka lebih memilih curhat pada orang tak dikenal daripada keluarganya sendiri.

Berdasarkan pengamatan saya, kebanyakan dari orang-orang yang curhat tersebut merupakan remaja yang masih sekolah. Hal itu dapat dilihat dari masalah mereka yang berkutat pada seputar persahabatan, masalah keluarga, percintaan, dan kecemasan akan karier di masa depan.

Para remaja tersebut di dunia nyata sebenarnya memiliki support group, seperti guru dan orang tua. Namun ke mana mereka? Atau kenapa si remaja itu justru tak mau curhat kepada mereka?

Menurut saya, seyogianya orang yang paling pertama didatangi oleh para remaja tersebut adalah orang tuanya. Kedua sosok tersebut sewajarnya mampu menjadi tempat pelarian si anak ketika mengalami masalah. Bukan hanya masalah sepele seperti bertengkar dengan teman, tapi juga ketika menghadapi masalah sensitif seperti pelecehan seksual atau toxic relationship.

Pada kenyataannya, anak remaja justru lebih senang curhat di media sosial, baik secara terang-terangan atau menggunakan akun anonim.

Padahal, remaja yang curhat ke media sosial itu sangat rawan dengan predator. Kondisi kejiwaan mereka yang sedang rentan memberikan peluang bagi para penjahat seksual yang mengincar remaja yang kesepian.

Pada saat kondisi rentan tersebut, seseorang predator akan datang sebagai sosok penyelamat yang selalu ada setiap saat baginya. Ketika ia sudah mendapatkan kepercayaan korbannya, sang predator siap melakukan apa pun yang ia inginkan.

Selain itu, remaja tersebut sering melupakan satu hal penting. Meskipun dunia maya sering kali dianggap jauh berbeda dengan dunia nyata, apa yang ada di dunia maya dapat berdampak ke dunia nyata. Curhat di media sosial yang menyinggung perasaan orang lain dapat berakibat pada serangan fisik di dunia nyata. Lebih parahnya lagi, curhat yang mengandung fitnah dapat berujung ke ranah hukum.

Pertanyaannya, ke mana orang tua dan lingkungan terdekat para remaja tersebut sehingga sampai harus curhat di media sosial? Apakah mereka bahkan tidak memiliki media sosial sehingga tidak tahu bagaimana aktivitas anak-anaknya di sana? Apakah sebegitu jauh jarak orang tua dan remaja saat ini sehingga banyak remaja yang merasa terasing di rumah sendiri?

Saya rasa tulisan ini adalah momentum bagi kita semua yang masih berjarak jauh dengan orang di sekitar kita. Orang tua yang tidak mengenal anaknya, bahkan sesederhana tidak tahu apa lagu kesukaan anaknya atau warna favoritnya. Para guru yang tidak mengenal bagaimana siswa-siswanya bertutur di media sosial, bagaimana mereka dengan leluasanya berkata jorok dan kasar di media sosial. semua itu merupakan kenyataan yang dialami remaja di media sosial saat ini.

Media sosial memanglah bukan dunia nyata. Apa yang ada di media sosial hanya terjadi di dalam sebuah genggaman saja. Tapi, kita mungkin perlu menyadari bahwa di balik setiap akun tersebut, termasuk akun anonim sekalipun, terdapat orang-orang yang bisa jadi sedang menjerit kesakitan tapi hanya berani curhat di dunia maya.

Ketika kita melihat anak, adik, atau saudara kita begitu bahagia di depan kita, apakah kita yakin kita sudah mengenal mereka? Atau jangan-jangan di dalam kamarnya ia sedang menumpahkan bebannya itu ke grup curhat tadi?