Aku salah satu anak indonesia yang sangat suka membahas kondisi politik yang ada di indonesia.

Kalian tahu tujuan adanya politik? Tujuan adanya politik itu demi kepentingan bersama,demi kenyamanan bersama, demi kesejahteraan masyarakat, dan demi mewujudkan cita-cita bersama.

Memang belakangan ini banyak politikus-politikus yang “mengubah” tujuan politik dia menjadi “politik untuk kepentingan keluarganya demi kesejahteraan keluarganya dan demi mewujudkan cita-cita keluarganya.”

Sebagian anak muda zaman sekarang itu membenci dan ogah-ogahan untuk terjun ke dunia politik jalankan mau terjun ke dunia politik memiliki teman yang terjun ke dunia politik saja mereka ogah.

Setiap aku mengajak teman-temanku untuk membahas tentang politik pasti mereka menjawab, “ngapain sih mikirin gituan ga ada gunanya.” Ada juga yang berkata, “terjun ke dunia politik itu sama saja terjun ke kegelapan, orang-orang politik itu pembohong selalu berjanji tapi ga pernah dikabulkan speak doang.” 

Jujur saja mendengar pernyataan mereka yang tidak peduli terhadap kondisi politik di indonesia aku sangat sedih.  Tapi aku juga tidak bisa memaksa mereka agar suka dengan dunia politik ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka, mereka hanya merasa kecewa terhadap para koruptor koruptor yang berkeliaran dan menganggap semuanya itu sama saja semuanya koruptor, semua politikus hanya memikirkan diri sendiri.

Tapi kalau gitu kenapa mereka tidak berpikir ingin mengubah kondisi politik di indonesia? Kalau mereka tidak mau terjun ke dunia politik atau apapun itu yang berkaitan dengan politik bagaimana kondisi indonesia dimasa yang akan datang nanti?

Siapa yang akan meneruskan para politikus di indonesia nanti? Siapa yang akan meneruskan jejak para pejuang di indonesia?  

Dan menurutku kita tidak akan pernah lepas dari dunia politik karena sampai kapan pun politik itu akan selalu ada dan menjadi salah satu bagian di hidup kita seperti pemillihan presiden kita pasti harus memilih presiden demi masa depan bersama bukan? (Tapi kalau sudah cukup umur)

Nah, dengan memilih presiden saja itu sudah termasuk “politik”, pemilihan lurah dan camat pun begitu dan masih banyak lagi.

Aku pengen ketawa ketika melihat teman-temanku berkata, “lu ngapain sih mikirin itu, itu kan OPS, lu itu IPA, ngapain masuk IPA kalau gitu?”

Aku Cuma bisa tersenyum tapi di dalam hatiku aku tertawa dan berkata: “ aku memang anak IPA, tapi emang anak IPA ga memerlukan itu? Emang cuman anak IPS yang boleh mikirin masa depan Indonesia? Indonesia kan milik bersama, setiap orang memiliki hak untuk mengubah indonesia, suatu saat nanti aku akan memilih presiden aku akan memilih pemerintah, aku akan memilih RT/RW, aku akan memilih camat dan itu semua demi kesejahteraan bersama dan kenyamanan bersama.

Salah pilih, kita bisa masuk jurang. Indonesia bisa masuk ke lubang yang sama lagi, bisa dijajah lagi, dan aku peduli dengan kondisi politik karena aku peduli dengan orang tuaku, keluargaku, teman-temanku, seluruh masyarakat Indonesia dan diriku sendiri, aku tidak mau nantinya Indonesia akan merasakan memiliki pemerintah yang korupsi, presiden yang tak bertanggung jawab dsb.”

Aku sering bingung kenapa mereka bangga atas sikap anti korupsinya itu? Mengapa mereka bisa dengan bangganya berkata “aku tidak peduli tentang politik Indonesia.” Tidak peduli dengan politik Indonesia sama saja tidak peduli dengan kehidupannya sendiri, tidak peduli dengan masa depan Indonesia.

Aku pribadi sangat benci dengan para koruptor yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Siapa sih yang suka sama koruptor? Tapi aku tidak pernah berpikir untuk tidak mau atau membatasi hidupku dengan diding “anti politik”.  

Aku sering ditanya, “kenapa kamu mau menjadi salah satu dari mereka yang memikirkan dirinya sendiri?”

Setiap kali aku ditanya hal tersebut aku menjawab: “Aku bukan mau menjadi salah satu dari mereka yang memikirkan dirinya sendiri, aku mau menjadi salah satu dari mereka yang peduli terhadap Indonesia, aku mau memperbaiki kondisi politik di Indonesia, aku mau memberantas para koruptor itu.”

Ingat, tidak semuanya politikus itu memikirkan dirinya sendiri, lihat saja Erdogan, politisi Islam yang sangat merakyat, Andi Mariattang dia sangat peduli terhadap sesama dan masih banyak lagi.

Jangan satu berbuat, semuanya kena. Karena tidak semuanya politikus itu korupsi, tidak semuanya politikus itu memikirkan dirinya sendiri.

Jujur saja aku juga tidak begitu suka dibilang generasi penerus karena apa yang harus aku terusin? Korupsi, malas-malasan warga Indonesia, pengangguran atau apa?

Jujur aku lebih suka dibilang generasi pelurus bangsa, dengan artian aku ingin meluruskan “jalan belok-belok yang dibangun oleh para pengecut, para koruptor, dll di Indonesia.” 

Kita mestinya malu kita itu negara kaya,negara yang banyak terdapat orang-orang pintar, negara yang besar, Indonesia itu termasuk negara idaman, tapi kenapa warga Indonesia itu malah tidak memanfaatkan Indonesia dengan baik?

Tuhan telah memberikan kita nikmat yang sangat banyak tapi kita tidak pernah mensyukurinya. Kasihan para pejuang yang dahulu yang berjuang mati-matian demi menyelamatkan Indonesia, bayangkan gimana perasaan para pejuang Indonesia ketika melihat warga Indonesia sekarang?

Siswa yang malas-malasan, pengangguran di mana-mana, pengemis di mana-mana, koruptor yang makin banyak, dsb. Pasti mereka sangat kecewa.

Mungkin kalau aku jadi salah satu dari mereka (pahlawan Indonesia) aku akan sangat marah dan aku akan berkata: “Ngapain aku susah-susah menyelamatkan bangsa Indonesia dari penjajahan dulu sampai rela mati kalau endingnya Indonesia seperti ini?”

Sekarang kita berpikir, apa penyebab adanya pengangguran, siswa yang malas, pengemis, koruptor?

Salah satu penyebab dari masalah itu adalah banyak sekali sarjana pengangguran yang salah satu penyebab dia nganggur ialah tidak tersedianya lapangan pekerjaan. Sekarang kita pikir Indonesia ini kaya, kita bisa melakukan semuanya di Indonesia, tetapi para pejabat-pejabat itu lebih memilih warga negara luar untuk mengisi atau membuat lapangan pekerjaan di Indonesia.

Sekarang kita berpikir mengapa siswa malas-malasan, jujur saja aku juga masih duduk di bangku SMA kelas 2, aku juga pernah mengalami yang namanya bosen sekolah malas sekolah dan penyebab dari kemalasanku itu karena aku tidak menyukai sistem belajarnya.

Nah, sistem belajar itu diatur oleh kurikulum yang dibuat oleh pemerintah. Sebagian dari temaku juga malas sekolah dengan alasan yang sama seperti aku, pusing karena kurikulum diubah terus menerus tapi sama saja ga ada hasil (mungkin ada tapi sedikit).  

Dan semua yang kujelaskan di atas seperti pengangguran, siswa malas, dll itu semuanya ada sangkut pautnya dengan pengangguran yang aku jelaskan salah satu penyebabnya ialah kurangnya lapangan kerja.

Lapangan kerja di Indonesia semua dipakai untuk warga negara lain. Nah, itu yang memberikan izin pasti “orang politik”, sama halnya dengan kurikulum di Indonesia itu juga diatur oleh “orang politik”. 

#LombaEsaiPolitik