Bersekolah di sekolah formal dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia rupanya tidak serta merta membuat semua siswa jadi bisa berbicara bahasa Indonesia dengan lancar. Apalagi siswa yang sejak kecil sudah terlatih dan terdidik menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi sehari-harinya. Pada umumnya memang rata-rata orang Indonesia itu bilungual, menguasai bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Akan tetapi, sebagian ada yang hanya mampu memaknai setiap kata bahasa Indonesia namun kesulitan untuk berbicara bahasa Indonesia dengan lancar. Dengan kalimat lain, orang-orang tipe ini tidak menguasai bahasa Indonesia sepenuhnya.

Fenomena ini tidak pernah saya sadari sebelumnya. Pertemuan dengan teman SMA saya beberapa waktu lalu membuat saya menyadari bahwa fenomena tidak bisa lancar berbicara bahasa Indonesia di kalangan anak sekolahan ternyata merupakan fenomena yang sudah tumbuh subur sejak dulu. Teman saya bilang, dulu dia tidak berani menyapa saya dan teman sepergaulan saya hanya karena dia tidak lancar berbahasa Indonesia. Padahal saya dan teman-teman saya menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi di sekolah dan hanya beberapa kali saja menggunakan bahasa Indonesia, saat sedang ingin dan butuh.

Pada suatu kesempatan, saya berbincang dengan salah seorang murid saya di luar kelas. Di tengah percakapan, dia bilang "Bu jangan pakai bahasa Indonesia, saya tidak bisa bahasa Indonesia", dia bilang begini dengan bahasa daerah. Sontak saya kaget. Selama ini di dalam kelas, beberapa murid saya memang jarang menggunakan bahasa Indonesia. Ketika bertanya, mereka menggunakan bahasa daerahnya. Sudah saya tegaskan berkali-kali kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, semuanya harus berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Saya baru mengajar empat bulan, selama empat bulan saya tidak menyadari kalau mereka kesulitan berbicara bahasa Indonesia. Rupanya Tuhan memang sengaja mempertemukan saya dengan teman lama saya untuk lebih memperhatikan murid-murid saya.

Baru-baru ini, seorang murid pindahan dari Jambi menempati salah satu kelas yang saya ajar. Murid-murid di kelas tersebut katanya kesulitan berinteraksi dengan murid pindahan itu karena sering keseleo lidah jika berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Betapa bagi mereka, berinteraksi menggunakan bahasa Indonesia menjadi hal yang cukup luar biasa untuk dilakukan.

Saya jadi ingat ketika SD, saya dan teman-teman saya pernah dikira sombong hanya karena berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Hanya karena berbicara menggunakan bahasa Indonesia langsung dicap sombong, lalu apa kabar orang yang suka pamer kekayaan di zaman ini. Selain dikira sombong, beberapa teman SD sy kala itu juga menganggap setiap orang yang menggunakan bahasa Indonesia adalah orang kaya. Streotipe itu, entah dari mana asal muasalnya.

Kakak saya yang mengajar di salah satu sekolah swasta yang terletak di desa juga mengatakan hal yang sama. Murid-murid di tempatnya mengajar juga kesulitan berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Mereka akan lebih luwes apabila bertanya atau berdiskusi dengan bahasa daerahnya.

Memang, berkomunikasi menggunakan bahasa daerah sendiri dapat menciptakan ikatan humanis dan emosional yang lebih kuat. Seperti yang pernah dikatakan Nelson Mandela bahwa berkomunikasi dengan bahasa asli lawan bicara akan lebih mengena di hati lawan bicara tersebut. Akan tetapi hal ini bukan menjadi alasan bagi seseorang untuk tidak bisa berbicara bahasa Indonesia dengan lancar.

Permasalahan seperti ini mungkin tidak terjadi di sekolah perkotaan karena mereka terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sejak kecil. Keragaman budaya dan etnis di perkotaan juga secara tidak langsung mendorong anak sekolahan di perkotaan untuk menggunakan bahasa Indonesia karena kalau tidak, ya bakal susah saling memahami satu sama lain.

Kebanyakan anak sekolahan di kota memang lancar berbicara bahasa Indonesia. Akan tetapi, beberapa anak masih kurang dalam hal perbendaharaan kata. Saat PPL dulu, saya di tempatkan di sebuah SMK perkotaan. Saya tercengang bukan kepalang tanggung. Salah satu murid saya bertanya, "Bu apa arti definisi?", sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak terlontar dari anak sekolahan jenjang menengah atas, sekolahnya di kota lagi. Ketika saya bertanya, "Lawan kata, nama lainnya apa?", mereka menjawab "Anonim". Saya yakin dengan seyakin-yakinnya, kurangnya perbendaharaan kata ini sudah pasti biang keladinya adalah minat literasi yang masih melorot.

Sejak mengetahui hal ini, banyak hal berkelindan di kepala saya. Sebagai guru tidak tetap bahasa Indonesia di sebuah sekolah negeri yang terletak di desa, saya merasa punya tanggung jawab besar untuk mengatasi permasalahan yang cukup serius ini. Walaupun saya hanya seorang guru tidak tetap, yang kalau gajian bilangnya mau ambil honor bukan gaji karena kata "gaji" eksklusif hanya dan hanya untuk PNS.  Bukan bermaksud mediskreditkan, tapi supaya bendaharanya tidak keliru saja, begitu hemat husnudzon saya.


Jika saya subur dan bernasip mujur punya satu, dua, tiga, atau bahkan sebelas anak, saya akan membiasakan mereka untuk berbicara bahasa Indonesia sedini mungkin. Dengan begitu, bahasa Indonesia tetap bisa lestari dan menjalankan tugasnya sebagai lingua franca dengan sebaik-baiknya.