Pemerhati Sosial
1 tahun lalu · 489 view · 4 menit baca · Filsafat 31688.jpg
Foto : pixabay.com

Anak Saya Takut Filsafat?

Bagi para peserta didik kelas XII Sekolah Menengah Atas (SMA) dan yang sederajat (Madrasah Aliyah, STM, SMEA, dan lain-lain), hari-hari ini disibukkan dengan ujian-ujian akhir, Ujian Sekolah (US), Ujian Sekolah Bersatndar Nasional (USBN) dan Ujian Nasional (UN). Ternyata banyak amat ujiannya sekarang!

Saat seperti ini tentu bagi mereka sedikit banyak adalah hari yang sangat menegangkan, karena dengan begitu mereka dibebani pikiran apakah mereka akan lulus, atau paling tidak, mereka akan belajar sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai yang bagus seperti yang dicita-citakannya.

Selain itu tentu mereka bersiap-siap, terutama yang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk perguruan tinggi, memilih fakultas dan jurusan apa yang akan diambil.

Soal memilih fakultas dan jurusan, ini juga bagi mereka sangat membutuhkan pikiran dan pertimbangan yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi diri, kecenderungan, minat dan prospek, peluang kelulusan dan daya tampung---khusus yang ingin kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN)---untuk bisa lolos di jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017.

Tak terkecuali anak sulung saya yang juga saat ini duduk di kelas XII SMA, dan tidak lama lagi akan lulus, merasakan kondisi seperti itu. Ia merasakan kondisi yang berkaitan dengan proses untuk memilih dan menentukan jurusan atau studi apa yang akan diambil untuk kuliah di PTN itu, misalnya. Ia dihadapkan pada beragam pilihan yang menjadi minat dan kecenderungannya.

Sekali waktu, tiba-tiba ia bertanya pada saya tentang minat dan pilihannya pada jurusan atau studi filsafat. Saya jelaskan baik-baik sekilas seluk-beluk berkaitan dengan studi filsafat laiknya menyampaikan pengantar studi filsafat. Terus terang saya mendukung dan senang kalau anak saya itu memilih studi filsafat. Bagi saya tidak ada masalah.

Pertanyaan anak saya ternyata beralasan. Karena sejauh ini anak saya memang sudah sedikit banyak mendapatkan informasi dan pemikiran yang agak negatif, entah dari siapa dan dari mana, tentang studi filsafat dan dampaknya, terutama berkaitan dengan sebuah keyakinan agama dan perilaku keagamaan. Sehingga tampak sekali rasa kekhawatiran dan ketakutannya apabila ia memilih studi filsafat.

Kekhawatiran dan ketakuatan itu misalnya, bertumpu pada pemikiran, bahwa nanti kalau belajar filsafat, khawatir menjadi kafir, sesat, memengaruhi paham dan perilaku keagamaan, seperti tidak salat lagi dan lain-lainnya, yang berkaitan dengan pemikiran yang bersifat negatif terhadap dampak studi filsafat.

Bagaimana saya menyikapi ini? Itu pertanyaan yang ada di benak saya saat ini. Karena bagi saya yang saat kuliah dulu banyak bergelut dengan studi dan pemikiran filsafat ini, saya pikir tidak ada masalah. Baik-baik saja.

Bahkan saya sangat menikmati dan merasa nyaman dengan studi dan pemikiran filsafat ini. Asyik-asyik saja, begitu. Ibarat menikmati hidangan, saya sangat lahap mengkonsumsi beragam pemikiran filosofis dari berbagai tokoh filsuf. Misalnya, dari filsafat Yunani, filsafat barat sampai pada filsafat Islam. Atau ibarat petualangan, saya sangat menikmati petualangan di dunia filsafat ini.

Walaupun, misalnya, ada ekses negatif dari belajar filsafat, itu adalah oknum dan semacam kecelakaan intelektual saja, atau gagal paham dan sesat pikir dalam mempelajari filsafat.

Dari sini kemudian filsafat menjadi semacam korban dan "anak durhaka" yang mendapat kutukan dan sumpah serapah, sehingga pada gilirannya menjadi momok dan ketakutan luar biasa bagi sebagian orang untuk studi filsafat. Filsafat diklaim sebagai biang keladi untuk membuat orang sesat dan menyesatkan. Sehingga ada sikap antipati, membenci dan harus dijauhi filsafat itu. Bahkan sampai ada yang mengharamkan belajar filsafat. Filsafat...filsafat, kasihan amat kau!

Padahal seperti juga agama, filsafat itu sangat penting. Agama dan filsafat mestinya menjadi pasangan yang serasi. Keduanya harus didudukkan dan berada pada posisi yang sama-sama punya hak hidup dan peran dalam berkontribusi untuk kehidupan dan kemanusiaan (kemaslahatan).

Keduanya mestinya saling mengisi dan saling menggenapi, terkait erat dan terjalin berkelindan, bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dan saling melengkapi.

Makanya, wajar jika dikatakan bahwa belajar filsafat tidak jauh berbeda dengan belajar agama. Bahkan agama membutuhkan percikan filsafat, dan sebaliknya, filsafat juga memerlukan cahaya agama. Nabi saw juga bersabda, "Tidaklah beragama bagi siapa yang tidak berfilsafat/berakal".

Juga tampaknya tidak berlebihan, jika dinyatakan bahwa filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu adalah induk dari segala ilmu pengetahuan.

Apalagi ketika filsafat disebut sebagai metode dan cara berpikir, maka keberadaan manusia sangat bergantung dan tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Adalah beralasan, kalau seorang filsuf Barat, René Descartes (lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 - meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Pebruari 1650, pada umur 53 tahun), menyatakan, "Cogito ergo sum" (Aku berpikir, maka aku ada). Artinya, manusia berada karena ia berpikir.

Salah satu corak berpikir filosofis adalah berangkat dari sikap bertanya dan rasa ingin tahu (curiosity) manusia atau "kepo" (knowing every particular object) terhadap apa saja yang ada dan terjadi di sekitarnya. Filsafat memang berangkat dari sikap keraguan terhadap sesuatu atau apa saja yang ada. Dari sikap itulah (diharapkan) akan lahir sebuah kebenaran dan keyakinan.

Kembali ke anak saya.  Setelah dapat pengantar awal dan penjelasan pengenalan seluk beluk oreintasi studi filasafat, paling tidak, ia mengerti dan tercerahkan, bahwa filsafat bukanlah barang haram dan tidak perlu ada rasa ketakutan dan kekhawatiran bergelut dengan pemikiran filsafat.

Demikianlah, yang jelas, wish him luck! Do'akan saja semoga anak saya lulus di SBMPTN tahun 2017 ini, sesuai PTN dan studi pilihannya, salah satunya mungkin menjatuhkan pilihannya pada studi filsafat.

Kelulusanmu adalah keberhasilanmu, anakku. Itu adalah hadiah ulang tahunmu di tahun ini pada tanggal 8 April 2017, kemarin. Good luck and God bless you, always!