Tuntutan suatu pekerjaan atau pendidikan yang lebih baik dapat membuat seseorang merelakan dirinya jauh dari keluarga dan sanak saudara. Pindah ke daerah yang jauh dari halaman rumah tercinta. Menjalani kehidupan baru di lingkungan yang begitu asing dan harus mandiri dalam memenuhi segala kebutuhan dan keperluan diri sendiri. Mereka adalah anak rantau. 

Tidak ada lagi yang membangunkan saat pagi hari, makanan yang selalu siap di atas meja persegi, ataupun pakaian yang sudah siap terpakai. Yang ada hanyalah suara alarm yang memekakkan telinga, makanan sisa semalam, dan tumpukan baju yang belum tercuci.

Banyak lika-liku yang dilalui anak rantau. Seperti beradaptasi dengan lingkungan baru, mencari teman baru, hingga menyusun kebiasaan baru. Dari keputusannya untuk pergi ke luar kota jauh dari tempat kelahiran, membuat anak rantau mengenal dunia luar yang berbeda dan tentunya menjadikannya pribadi yang lebih mandiri di segala bidang. 

Perjalananku dalam menempuh pendidikan dilakukan sebagai anak rantau. Gadis desa yang melanjutkan pendidikan SMP hingga kuliah jauh dari tanah kelahiran. Aku lahir di dekat tempat wisata Dataran Tinggi Dieng yang terkenal di Jawa Tengah.

Aku tinggal di tanah kelahiranku hingga berusia 12 tahun saat lulus dari bangku Sekolah Dasar. Setelah itu, sangat tidak disangka bahwa aku dan ibuku harus ikut merantau ke Jawa Barat bersama ayahku karena tuntutan pekerjaan yang berada di Jakarta. Dan saat itu pula, ayahku membangun rumah di Depok yang jauh dari kemacetan Jakarta. Pada akhirnya, aku melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di sana. 

Banyak perubahan yang aku dapatkan. Setiap pagi di desa sangat damai, udara dingin yang menusuk kulit membuatku tidak ingin mandi dan berangkat sekolah. Namun, dalam sekejap aku tak lagi merasakan suasana pagi seperti itu, yang ada hanya suasana hiruk pikuk Kota Depok dan keinginan mandi terus-menerus karena hawa panas di perkotaan. 

Di sekolah aku mulai beradaptasi dengan teman, guru, sekolah, maupun lingkungan sekitar yang asing bagiku. Kepercayaan diri yang sudah aku persiapkan dari jauh-jauh hari runtuh begitu saja karena logat-ku yang masih sangat medok, ini membuat beberapa temanku mengenali darimana asalku. Tapi tenang, mereka orang-orang yang sangat baik.

Bersyukur bisa mendapatkan teman yang menerima apa adanya tanpa membeda-bedakan satu sama lain adalah hal yang diinginkan setiap orang ketika beradaptasi dengan lingkungan baru. Beberapa tempat yang mulai dikunjungi satu persatu bersama teman dan mulai mengenali daerah perkotaan ini membuatku merasa tenang jika bepergian sendiri. Selain itu, aku mendapatkan banyak pengalaman baru sebagai siswa SMP dan juga sebagai pendatang. 

Hanya karena rasa penasaran dan iseng terkadang bisa membawa kita ke jalan kehidupan terbaik yang tidak kita duga. Seperti aku yang iseng mendaftarkan diri melanjutkan sekolah di Bogor dan hasilnya di luar dugaanku, ternyata aku diterima untuk melanjutkan jenjang pendidikan SMA di Bogor selama 4 tahun. Aku kembali merantau seorang diri, ke kota tetangga. Beradaptasi dengan lingkungan baru dan orang-orang yang datang dari berbagai daerah. 

Awalnya sangat sulit untuk mengatur waktu, keuangan, dan kegiatanku. Karena semuanya aku yang mengatur dan menghadapinya sendiri, tidak ada campur tangan orang tua yang sebelumnya membantu mengurusi perlengkapanku selama di rumah. Makan sendiri, mencuci sendiri, membersihkan kamar sendiri, berbelanja sendiri, bahkan jalan-jalan pun sendiri. Beruntungnya aku berada di kota yang serba ada dan tidak kesulitan suatu apa pun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan aku menikmatinya.

Mencari dan menemukan teman yang bisa satu frekuensi denganku sangat mudah. Teman satu kos menjadi teman terbaik selama berjuang bersama-sama menjalani kehidupan anak rantau dan kehidupan anak SMK. Namun seiring berjalannya waktu, aku menemukan banyak teman baru tentunya sesama anak rantau yang sampai saat ini masih akrab denganku.

Masa SMA-ku hanya digunakan untuk mengerjakan tugas sekolah, laporan praktikum, membuat PowerPoint, dan bermain saat hari libur. Dalam setahun pertama badanku mudah pegal-pegal karena banyak kegiatan baru, ini membuat aku pulang ke rumah hanya 2 minggu sekali yaitu pada hari Sabtu pagi dan kembali lagi hari Minggu malam menggunakan kereta KRL. Tahun kedua aku lebih jarang pulang ke rumah karena terlalu nyaman dengan berbagai kegiatan dan suasana Kota Hujan.

Tidak ada penyesalan dari hari pertama memulai kehidupan di kota Hujan dan menjalani hari-hari sebagai anak rantau. Aku lebih merasa bebas untuk menjelajahi kehidupan bersama teman-teman dan jauh dari pandangan orang tua. Namun, belum genap empat tahun aku menjalani kebahagiaan anak rantau dan bersekolah di sana, pandemi membawaku untuk kembali ke rumah di pertengahan tahun ketiga, lebih tepatnya saat aku kelas 12 SMK semester genap. 

Hingga saat ini, aku lulus SMK dan menjalani kehidupan sebagai anak kuliah di salah satu universitas di Kota Batik. Ya, aku kembali merantau ke Jawa Tengah. Dan masih dalam kondisi pandemi yang membuatku berkuliah melalui daring. Aku tidak begitu terkejut dengan Kota Batik, karena di sana ada beberapa saudara yang akan membantuku menjelajahi kota itu.

Kehidupan anak rantau memang menyenangkan, tapi jangan hanya melihat bahagianya saja, karena banyak kesedihan dan kesulitan dibalik itu. Butuh penyemangat yang besar dari diri sendiri untuk berjuang di kota yang tidak dikenali. Dukungan dan penyemangat dari teman tentunya sangat berarti bagi kami, anak rantau yang tidak memiliki keluarga di kota rantau.