Saya berasal dari daerah yang lumayan jauh dengan pusat kota. Dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas tinggal dengan keluarga sehingga segala kebutuhan tercukupi dan tiada kurang suatu apapun.

Namun, ketika berhasil menyelesaikan masa studi SMA maka saat nya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Setelah melalui beberapa proses akhirnya berhasil lulus di salah satu perguruan tinggi terbesar yang letaknya di ibukota provinsi.

Semua aktivitas saya pun berubah drastis. Awalnya kehidupan biasa di desa dan kini harus merasakan hiruk pikuk kota yang ramai penduduk dan beranekaragam. Suasana di penuhi dengan bangunan-bangunan mewah bertingkat dan kendaraan banyak berlalu lalang.

Bertemu dengan orang-orang baru sudah menjadi kewajiban yang akan dilalui. Beruntung saya mendapat beasiswa penuh dan pada tahun pertama diharuskan bertempat tinggal di rusunnawa. Tujuannya tak lain tak bukan agar saling mengenal dan terjalin hubungan kekluargaan dan lebih akrab.

Satu tahun berlalu tinggal di rusunawa sebagai mahasiswa tentunya banyak yang telah dilewati. Memang kami saling mengenal dan peduli satu sama lain. Intensitas hubungan didukung dengan adanya program pertemuan wajib antar penghuni rusun sehingga secara tak disengaja kami akan mengenal dari kamar 01 hingga kamar 300.

Tidak hanya mengenal nama, tetapi juga tau asal dan fakultas masing-masing. Ada pula kebiasaan makan saprahan (makan bersama) antar kamar sehingga tak mungkin tidak makan meski hidup pas-pas-an.

Setiap kali akan berangkat ke kampus maupun kembali ke kamar, apabila berpas-pasan dengan teman lain maka akan saling tegur sapa bahkan tak jarang ada obrolan singkat misalnya bahas tentang kuliah maupun air yang ngalir tidak lancar.

Satu tahun penuh menjalani keseharian seperti itu dengan jalinan persaudaraan dan tingkat sosial yang tinggi. Peduli satu sama lain, satu rasa susah dan senang. Apalagi dengan teman satu kamar, empat orang dalam satu ruangan terasa seperti keluarga kandung dan sangat menyenangkan.

Perubahan terjadi pada tahun kedua dan tepatnya melangkah ke semester 3. Kami para penghuni rusunawa harus bergantian dengan adik tingkat untuk tinggal di sana. Kesibukan mencari kos-kosan harus dihadapi. Keluar masuk gang untuk mendapat kos yang tersedia kamar kosong dengan harga yang sesuai dan dekat dengan kampus.

Tempat telah ditemukan tepatnya di seberang jalan tidak jauh dari rusunawa. Suasana berbeda kembali didapatkan. Barang-barang telah tersusun rapi di ruangan berukuran 4x4 meter tersebut dengan tempat tidur bertingkat khas anak kos.

Awal pindah memang sudah terasa aura perbedaanya. Sambutan tidak sehangat waktu di rusun karena setiap insan yang ditemui palingan hanya menyapa dengan senyum seadanya.

Setelah beberapa hari pindah baru ada tetangga yang ikut menyapa dan ngobrol dan memang sampai bertahun-tahun di sana yang sangat dekat itu hanya kamar sebelah saja.

Jangankan akan mengenal yang lain, tau nama saja tidak. Jika bertemu di tangga atau dekat kamar mandi, cukup taburkan senyuman termanis saja.

Pada Selasa, 11 Juli 2017 yang lalu kita dikejutkan dengan berita meninggalnya Sartika Tio Silalahi, seorang mahasiswa ITB. Ia ditemukan tak bernyawa di dalam kamar kos nya kawasan Taman Sari Kota Bandung.

Meninggalnya Sartika diketahui karena ia memiliki penyakit maag kronis. Sakit ini bisa kambuh dan berakibat fatal apabila penderita tidak makan dengan teratur.

Yaa, wajar saja peristiwa ini terjadi apabila anak rantau harus ngekos seorang diri dalam satu kamar. Biasanya setiap penghuni sibuk dengan aktivitas masing-masing. Jika sedang berada di kos, pintu akan tertutup rapat dan penghuninya sibuk dengan tugas kuliah atau yang lainnya.

Sangat jarang ada kumpul-kumpul dengan sesama anak kos. Adapun biasanya hanya sebagian saja. Apalagi jika orang tersebut termasuk orang yang tertutup maka hidupnya akan sendirian. Tidak akan ada yang peduli dengan keadaannya, entah dia sakit atau apa.

Makanan khas anak kos pun tidak jauh-jauh dari mie instan dan makanan sederhana lainnya.

Saya pernah mengalami sendiri, ketika itu teman satu kamar tidak sadarkan diri mungkin sudah 2 jam. Beruntung pada hari itu dosen tidak masuk sehingga pulang lebih awal. Ketika sampai di kamar melihat badan yang terbujur kaku, tidak ada satu kamarpun yang pintunya terbuka sehingga saya harus menghubungi teman dari luar kos untuk membantu membawa rekan tersebut ke rumah sakit terdekat.

Belajar dari kasus Sartika, banyak pihak yang harus bekerjasama seperti pemilik kos dan penghuni. Sebaiknya penghuni lebih peduli terhadap sesamanya dan sering-sering untuk ngobrol agar tau keadaan satu sama lain.

Untuk pemilik atau pengelola kos, ada baiknya melakukan pengecekan atau ronda bagi setiap kamar agar tau juga keadaan penghuni dan yang terakhir untuk keluarga, perhatikan kesehatan anggota keluarga yang sedang merantau, sering-sering berkomunikasi dan pastikan ia makan tepat waktu.

Harta yang paling berharga adalah kesehatan. Jaga dan rawat selalu dirimu.