Masuknya Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep dalam bursa calon Wali Kota Surakarta (Solo) periode 2020-2025 menarik untuk kita diskusikan. Berdasarkan survei di 96 titik yang dilakukan Laboratorium Kebijakan Publik Universitas Slamet Riyadi (Unisri), nama Gibran yang paling populer.  

Membawa nama besar sang ayah, wajar keduanya dikenal publik, apalagi Jokowi dua periode menjadi Wali Kota Solo. Peluang mereka juga sangat besar dan bagi saya itu biasa saja. Banyak contoh anak Presiden yang meniti karier politik dan menyamai capaian ayahnya.

Di Amerika Serikat, misalnya, ada George Herbert Walker Bush (Presiden AS ke-41) yang kemudian capaiannya itu diikuti anaknya George Walker Bush (Presiden AS ke-43). Presiden Suriah, Bashar al-Assad, ayahnya juga seorang presiden. Di Indonesia, kita kenal Megawati, anak dari presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Contoh-contoh di atas barangkali yang melatar belakangi keinginan AHY, dan sekarang barangkali Gibran Rakabuming Raka atau Kaesang. Sebagaimana pepatah lama mengatakan, buah tumbuh tak jauh dari pohonnya. Bagi saya, mereka tidak kreatif apabila jalur itu yang ditempuh.

Jarang kita dapati kasus anak presiden atau mantan presiden yang berani beda dengan ayahnya. Kalaupun ada tidak ekstrem, misalnya bergelut dalam dunia bisnis. Berkarier di dunia politik tetap menjadi pilihan utama para anak mantan presiden sambil bisnis.

Jarang kita dapati anak presiden atau mantan presiden yang berkarier sebagai petani. Padahal menjadi petani tak kalah mentereng dengan profesi lain. Meski profesi ini sering dianggap sepele, bahkan dianggap jauh dari kata sejahtera.

Namun saya percaya, andai anak seorang presiden mau terjun di dunia ini, petani akan mendapat perhatian lebih. Jeritan petani akan lebih didengar karena anak publik figur ada di dalamnya. Selama nasib petani dari satu panen ke panen lainnya jauh dari kata sejahtera. Meskipun mereka tetap mensyukurinya.

Petani memang bukan profesi yang dijadikan rebutan. Namun pernahkah kita bayangkan bila suatu hari semua orang enggan bercocok tanam? Sementara kebutuhannya makin lama makin meningkat. 

Bagi saya, jika ada anak seorang presiden mau bercocok tanam, barangkali profesi petani akan naik kelas. Bukan mustahil akan bersaing dengan profesi terkenal lainnya. Soalnya ada orang terkenal yang menjadi petani.

Naik kelasnya profesi biasanya akan diikuti dengan pendapatan pelaku profesi tersebut. Pendapatan petani tak kalah jauh dari start-up dan sejahtera didapat. Barangkali minimal 8-10 juta per bulan. Pokoknya gak kalah dengan Youtubers.

Dan yang berharap gaji di atas 8 juta per bulan silakan menjadi petani gak harus ngantor. Bukan hanya lulusan Unsyiah Banda Aceh, barangkali lulusan UI (Universitas Indonesia) mau menjadi petani. Meski ada, sarjana yang benar-benar mau menjadi petani amatlah langka.

Anak presiden menjadi petani setidaknya dapat menghapus ego para sarjana yang menganggap remeh profesi petani. Di bangku kuliah, dorongan menjadi petani nyaris tak pernah diberikan. Barangkali hanya sarjana pertanian yang mendapatkan inspirasi tersebut.

Umumnya para sarjana didorong menjadi karyawan perusahaan besar, menjadi CEO, PNS, maupun profesi-profesi yang gajinya besar. Tak salah memang, namun setidaknya janganlah melupakan profesi yang perannya sangat strategis bagi kehidupan manusia, petani.

Anak seorang presiden dapat menjadi pelopor gerakan sarjana menjadi petani. Ia akan menjadi inspirasi bagi para sarjana yang selama ini gengsi dan malu menjadi petani. Melalui gerakan sarjana menjadi petani, dengan sendirinya angka pengangguran dari sarjana akan berkurang.

Kisah sukses FA Bambang Nilo Konco, Sarjana Sosiologi UGM barangkali dapat dijadikan contoh. Meski hasil pertaniannya hanya cukup menghidupi ibu dan istrinya, namun ia bahagia dan bersyukur. 

Sebagai sarjana yang lulus dengan predikat cum laude, ia harus menghadapi beragam ejekan maupun sindiran karena memilih bertani. Namun semuanya ia hadapi dengan rasa syukur. 

Menarik apabila salah satu anak Jokowi memilih bertani ketimbang menjadi wali kota Solo. Popularitas mereka dengan sendirinya akan ikut mengangkat popularitas. Mereka akan menjadi contoh bagi anak muda lainnya, terutama para sarjana.

Barangkali keinginan saya ini hanya mimpi. Mana ada anak presiden yang mau mengotori tangannya dengan tanah? Barangkali hanya di dongeng-dongeng setelah ngopi kita dapati anak presiden terjun ke sawah dan ladang.

Kedaulatan pangan sulit terwujud apabila mindset tentang bertani tak diubah. Seolah-olah bertani tak mungkin kaya dan jauh dari kata sejahtera. Benar bahwa mafia pangan masih berkeliaran. Mereka 'memangsa' petani melalui permainan harga hasil pertanian. 

Salah satu cara mengalahkan mafia pangan kita saya kira dengan hadirnya para sarjana dalam dunia pangan. Petani terdidik yang tidak mudah tertipu atau dipermainkan. Praktik permainan harga harus dihentikan. 

Dunia pertanian menanti datangnya Gibran Rakabuming Raka atau Kaesang. Sejarah akan mencatat, di Indonesia, anak presiden tak malu dan gengsi menjadi petani. Bukan seperti kebanyakan anak presiden lain yang hanya menjadi bos atau CEO perusahaan atau mengikuti jejak ayah atau ibunya dalam dunia politik. 

Beranikah Gibran dan Kaesang menjadi petani?