Anak adalah sebuah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada orang tua. Kehadiran seorang anak terutama anak pertama adalah sesuatu yang paling ditunggu oleh orang tua, kehadiran seorang anak dalam kehidupan rumah tangga dipercaya akan meningkatkan keharmonisan dan kebahagiaan sebuah rumah tangga.

Orang tua akan memberikan kasih sayang dan cinta yang tak terhingga untuk anaknya. Mereka akan melakukan apapun untuk membuat anaknya bahagia. Hadirnya anak pertama menjadi pelengkap dalam kehidupan para orang tua baru. Tapi, apakah menjadi anak pertama akan selamanya menyenangkan? 

Mungkin, saat masih berusia kanak-kanak menjadi seorang anak pertama merupakan hal yang sangat menyenangkan. Mendapatkan limpahan kasih sayang merupakan hal yang semua anak harapkan. Saat masih kecil, seorang anak pertama akan mendapatkan semua yang mereka inginkan sebab kedua orang tua mereka akan selalu berusaha memberikan yang terbaik. 

Seorang anak pertama mungkin berpikir bahwa menjadi dewasa itu menyenangkan seperti saat mereka masih berusia kanak-kanak, tetapi hal tersebut tidaklah benar seluruhnya. Kenyataannya menjadi dewasa tidak pernah menyenangkan untuk seorang anak pertama. 

Saat memasuki usia dewasa seorang anak pertama seakan dituntut untuk melakukan semuanya sendiri. Seorang anak pertama di tuntut untuk untuk memikirkan masa depan terhadap dirinya sendiri. Segala beban dari semua ekspektasi kedua orang tuanya sudah mulai ia pikul.

Pundak seorang anak pertama selalu di tuntut kuat dan kokoh. Pundaknya seolah-olah sudah dipersiapkan untuk memikul semua tanggung jawab yang mungkin saja sangat memberatkan dirinya. Menjadi seorang anak pertama tidaklah menyenangkan.

Seorang anak pertama harus memiliki hati setegar karang untuk menghadapi kejam-nya dunia ini. Anak pertama dituntut untuk menjadi seseorang dengan pribadi yang kuat, mereka seakan-akan tidak boleh lemah walau dunianya sedang hancur. 

Seorang anak pertama sangat identik dengan sebuah perjuangan karena dalam kehidupan mereka banyak hal yang harus diperjuangkan termasuk harapan, tuntutan, dan ekspektasi kedua orang tua mereka. Tidak peduli seberapa lelah yang dirasakan, tidak peduli seberapa sakit yang diderita, seorang anak pertama harus tetap kuat dan melanjutkan apa yang telah ia perjuangkan karena sekali lagi, dia seorang anak pertama. 

Menjadi seorang anak pertama tidaklah mudah. Ada beberapa alasan mengapa menjadi seorang anak pertama terasa sulit. Berikut penjelasannya.

1. Seorang anak pertama memikul tanggung jawab besar

Anak pertama diberikan tanggung jawab yang besar oleh kedua orang tua mereka. Anak pertama selalu dituntut untuk bisa menjadi seorang tulang punggung keluarga yang kelak bisa menggantikan peran sang ayah. Seorang anak pertama juga diberikan tanggung jawab untuk menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya, mereka juga dituntut untuk hidup mandiri dan melakukan semuanya sendiri.

2. Seorang anak pertama selalu di tuntut sempurna

Seorang anak pertama selalu dituntut untuk menjadi sempurna, mereka harus bisa melakukan semuanya sendiri. Selain itu, mereka juga dituntut untuk selalu kuat dan tidak boleh lemah. Keberhasilan anak pertama menjadi gambaran jika orang tua berhasil mendidik anaknya dengan baik. Anak pertama dituntut untuk selalu sempurna agar orang tua dianggap berhasil mendidik anaknya.

3. Seorang anak pertama harus selalu baik-baik saja

Seorang anak pertama harus selalu terlihat baik-baik saja. Mereka tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain. Saat sedang menghadapi masalah, seorang anak pertama akan memilih menyembunyikannya dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. 

Pada kenyataannya anak pertama tidak sekuat yang orang-orang lihat, mereka terkadang menangis dan terisak tanpa suara. Mereka terkadang lemah, mereka terkadang rapuh, hanya saja mereka selalu menyembunyikan sisi itu agar tidak terlihat oleh orang banyak. 

Walaupun sulit, terlahir menjadi seorang anak pertama merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Hal tersebut karena Tuhan percaya bahwa kamu mampu dan kuat menghadapinya. Tuhan percaya bahwa menjadi seorang anak pertama kamu mampu memenuhi  setiap harapan, tuntutan, dan tanggung jawab yang diberikan kedua orang tua. 

Meski menjadi anak pertama juga merupakan hal yang harus di syukuri, tetapi mungkin sudah saatnya semua orang tua menyadari bahwa baik anak pertama, anak kedua, laki-laki, atau pun perempuan, memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dan setara dalam keluarga. 

Menuntut satu pihak dengan memberi pemakluman pada pihak lain hanya akan menyuburkan kesewenang-wenangan dan diskriminasi dalam bentuk yang lebih besar dan mendasar di masa depan. Semua anak berhak untuk mendapatkan sebuah keadilan, baik itu anak pertama, anak kedua, baik laki-laki maupun perempuan. 

Sudah seharusnya mereka mendapatkan sebuah kesamaan, baik itu harapan dan tanggung jawab yang akan mereka pikul. Tidak boleh ada pembeda antara harapan yang diberikan kepada seorang anak pertama dan harapan kepada anak yang lainnya. 

sejatinya setiap anak mengharapkan sebuah kebebasan tanpa harapan dan ekspektasi yang memberatkan langkahnya. Karena, anak pertama juga ingin hidup dengan harapan dan tanggung jawab yang sama seperti saudara-saudari mereka yang lain.