Kelebihan dan keutamaan seorang perempuan sudah mulai disematkan oleh Allah Swt sejak perempuan masih berstatus sebagai anak kecil, dalam hadis disebutkan Imam Baihaqi meriwayatkan dari Auf bin Malik, Rasulullah Saw bersabda:

“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan dan menafkahi mereka hingga dewasa atau sampai meninggal dunia, anak perempuan itu akan menjadi perisai pelindung dari jilatan api neraka.”

Rasulullah memahamkan umatnya bahwa kehormatan seorang perempuan telah dianugerahkan Allah sejak masih bayi, bahkan walaupun masih bayi atau anak-anak, perempuan memiliki peranan yang sangat penting bagi orang tuanya untuk kehidupan akhirat. Secara kodrati perempuan memang sudah dalam posisi mulia dan terhormat. (Joko Syahban, Misteri Bidadari Surga, 2008).

Perempuan bagaikan mutiara yang memiliki nilai tinggi tiada tara, ia istimewa dan dimuliakan dalam Islam. Ada dua sisi yang melekat pada diri seorang perempuan yang dianugerahkan Allah, kemuliaan dan kehormatan. Begitu juga dengan Rasulullah mengangkat derajat perempuan dari hina menuju kemuliaan.

Pada masa jahiliah, kedudukan perempuan sangat rendah dan hina. Perempuan dianggap aib bagi keluarganya, dari itu setiap anak perempuan yang lahir harus dibunuh. Jika tidak, anak perempuan menjadi pemuas nafsu para laki-laki ketika itu.

Masa jahiliah adalah masa-masa di mana kekurangan pada material dan spiritual. Kekurangan material, taraf ini kesejahteraan dan keamanan sosial sangat rendah, sementara kekurangan spiritual, masyarakat kosong dari jalan hidup yang bersih. Ciri-ciri yang menonjol masa ini adalah kebodohan, kemiskinan, dan kehinaan.

Dari kondisi di atas, anak dari Aminah yang bernama Muhammad diutus menjadi nabi dalam rangka mengurangi kebodohan, membangun kesejahteraan sosial, dan membangkitkan spiritual. Pada masa itu juga Nabi Muhammad Saw mengangkat derajat kaum perempuan dari hina menuju kemuliaan.

Melihat perempuan dari kaca mata Islam, ia istimewa dan dimuliakan. Namun dalam praktiknya di banyak tempat, keberadaan perempuan justru tidak aman dan tidak dimuliakan dikarenakan kekerasan terhadap anak perempuan dalam bentuk pelecehan seksual semakin merajalela dan mengkhawatirkan.

Nah, meningkatnya pelecehan seksual terhadap anak perempuan masa modern ini, apakah ini merupakan suatu siklus kehidupan yang membawa kembali ke masa-masa suasana jahiliah yang kelam? Pelecehan seksual terhadap anak perempuan masih tinggi di beberapa tempat di Indonesia, salah satunya di Aceh.

Menurut catatan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Aceh menyebutkan angka kekerasan anak dan perempuan di Provinsi Aceh mencapai 1.044 kasus pada 2019. Adapun kekerasan yang paling menonjol adalah pelecehan seksual, mencapai 160 kasus. (Republika.co.id).

Di awal tahun 2021 ini, kabar tentang pelecehan seksual kembali hadir di provinsi yang bernafaskan Islam ini. Kabar tersebut terjadi di Kabupaten Bener Meriah yang dikenal dengan kabupaten islami dan harmoni, berdasarkan informasi yang beredar bahwa korban pelecehan seksual dialami oleh anak di bawah umur.

Hal ini, Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Darwati A Gani yang fokus terhadap isu perlindungan anak dan perempuan di Aceh, mengaku prihatin dengan meningkatnya angka kasus kekerasan seksual terhadap anak di Bener Meriah.

“Kasus kekerasan seksual terhadap anak adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa,” ia berharap para pelaku kekerasan seksual terhadap anak di Aceh selain dihukum kurungan juga ditambah dengan hukuman cambuk, kata Darwati A Gani. (Serambi).

Meningkatnya kasus pelecehan seksual terhadap anak perempuan. Apakah keberadaan anak perempuan benar-benar tidak aman lagi dan tidak terjamin keselamatannya? Apakah perempuan dimuliakan sesuai dengan ajaran Islam?

Dalam suku Gayo (salah satu suku yang ada di Provinsi Aceh) anak perempuan itu bagaikan emas permata, harta paling berharga, istimewa, membawa ceria dan bahagia dalam keluarga, terlebih-lebih anak bungsu (bahasa Gayo: Bensu).

Anak perempuan bungsu digambarkan dalam salah satu lagu Gayo ‘Bensu’ yang dibawakan Bina, ciptaan Banta Cut Winar. Di bawah ini penggalan lagu Gayo ‘Bensu’ yang enak didengar dan liriknya mengandung falsafah.

Ipak si bensu, kao si menye bensu o

Mungemeken labu beloh ku telege

Kelubung ni ulu sulam berbunge

Lelang mujangko uah ni ungke

Wo... wo... bensu

**

Uwo bensu ipak si bensu

Bantal ni ulu ken ules nome

Ken ules nome

Kedudukan perempuan dimuliakan dalam agama Islam dan dalam kehidupan sehari-hari suku Gayo, bukan hanya di Gayo; daerah-daerah lain di Indonesia juga pasti anak perempuan dimuliakan. Tapi keberadaan anak perempuan sepertinya jauh dari kata aman selama predator seksual bergentayangan dengan bebas.

Perlunya Peran Pemerintah 

Untuk menjaga keselamatan dan keamanan anak perempuan, peran pemerintah (pemimpin) setempat dalam menjaga rakyatnya, terutama perempuan; merupakan kewajiban dan tanggung jawab besar yang diemban oleh pemerintah.

Pemerintah punya wewenang dan kekuasaan dengan menerapkan peraturan, dari itu seharusnya pemerintah dengan sigap menjaga anak perempuan dari penjahat seksual dan bagi siapa yang merusak kehormatannya maka tidak segan-segan menghukum dengan seberat-beratnya.

Sebagai pemimpin, Nabi Muhammad mengangkat derajat perempuan dari hina menuju kemuliaan. Sementara itu pemimpin hari ini, apakah mau mengangkat derajat perempuan atau meruntuhkan kehormatannya? Apakah kita ke depannya akan terus mendengar berita-berita yang membuat hati terkoyak?

Mau dibawa ke mana anak perempuan hari ini? Apakah terus dalam bayangan sedih dan trauma atau menciptakan senyuman dan kebahagiaan? Mau dibawa ke mana?

.