Ingin rasanya mengadu kepada bintang-bintang di langit. Tentang pekatnya atmosfer kota ini. Ingin rasanya berteriak keras-keras, walaupun akan tenggelam jua oleh deru kendaraan. Di Congkaknya metropolis.

Serumit itukah kehidupan? Mengapa tak semudah kata-kata mutiara dari Mario Teguh? Ataukah Aku harus berjuang se-Teguh dirinya. Hingga bisa menciptakan kata-kata super itu? Rasanya malam pun tak akan berhenti sampai di sini, jika aku hanya terbuai dan larut dalam gundah.

Begitu banyak kisah usang yang telah menjadi sejarah. Entah itu baik maupun buruk. Ingin rasanya meninju sombongnya kota asalku. Yang cenderung apatis melihat aku larut lamun dalam sepi. Serumit inikah tangga kehidupan dalam hariku? Mengapa tak seperti eskalator maupun lift untuk mencapai puncak?

Seperti kebanyakan orang di sana. Yang rela lakukan apa saja demi menunjukkan kehebatan dan mendapatkan kekuasaan. Entahlah, atau aku hanya bermimpi di tengah hari bolong, saat melihat tulus senyummu kepadaku. 

Makin banyak gedung tinggi di kotaku ini. Makin terjepit pulalah hidupku. Kelak tak ada lagi kerikil kecil, hingga debu sepertiku berlalu-lalang, maupun mengganggu nafas Ibukota yang kian menjulang tinggi. Namun rapuh di dalam.

Tak akan ada lagi ruang untukku hidup. Seperti layaknya primata langka di Hutan sana. Akan musnah perlahan! Tingginya taraf kehidupan akan bertambah. Seiring dengan beragamnya tempat hiburan untuk kaum muda. Seperti bioskop hingga mal-mal besar.

Dan terciptalah jaman. Di mana musnahnya ruang publik juga hiburan tradisional. Mungkin sepuluh tahun mendatang. Tak ada lagi anak-anak bermain gangsing, galaksin, petak umpet. Hingga memaksa aku dan teman-teman harus berlarian di rel kereta, dan bermain perang-perangan di tumpukan mobil bekas. 

Apakah itu mencerminkan karakter asli bangsa ini? Apakah mencerminkan kesederhanaan yang menutupi eloknya status sosial. Layaknya penghuni kerajaan yang enggan bermandikan berlian.

Kenapa tidak bertindak seperti Karebet (Jaka Gledek) yang notabene keluarga kerajaan tapi malah hidup bersama rakyat jelata. 

Sekarang, banyak Sinetron trilogi juga FTV, hingga film stripping yang tayang setiap hari. Dengan konten yang tidak menunjukkan edukasi. Membunuh karakter.

Ya. Membunuh karakter konsumen setia acara tersebut. Kita ambil contoh sebuah sinetron yang menonjolkan betapa high classnya dia juga gengnya. Sampai-sampai merasa nggak sebanding main dengan sembarang orang.

Biasanya, konsumen film tersebut adalah anak ABG. Mereka akan menyerap langsung gaya hidup dari film atau sinetron itu. Karena mereka dalam masa pertumbuhan, jadi segala hal pasti akan terserap olehnya. Entah itu baik maupun buruk.

Dalam cerita di sana kebanyakan pemerannya tidak memainkan peran menjadi anak pintar pelajaran di sekolahnya. Hanya pintar berpenampilan glamour saja. Banyak lho ABG sekarang yang lebih pintar. Pintar menjawab. Terutama menjawab masalah asmara. Hebat kan? Coba kalau di tanya tentang pelajaran? Ah, hanya beberapa saja mungkin yang mengerti.

Apakah aku juga  harus memoles diriku dengan materi, tanpa mengisinya dengan ilmu seperti mereka di film atau sinetron itu? Aku  mendambakan sekolah tinggi. Aku juga menginginkan pengetahuan luas. Namun mengapa, mereka yang berkecukupan, merasa puas dengan ilmu yang sedikit? Apakah aku salah? Ia mengucap dengan sungguh-sungguh kepadaku. Ia, seorang anak penjual tisu.

Malam pun semakin larut. Tisu yang dijualnya baru laku dua. Lumayanlah, untuk membeli nasi bungkus.  Walaupun sedikit. Ia masih mensyukuri berkat yang diterimanya. Hebat kau, Dik...

Apakah figur pemimpin bangsa esok hari akan tetap rakus? Dan tak pedulikan mereka yang lemah, miskin, jua tertindas meratap dengan wajah yang hangus terbakar janji politik yang gencar mereka umbar?

Akankah Tikus, rayap, hingga babi-babi itu berkembang biak, dengan tenang. Tanpa pedulikan Tiang Negara yang nyaris rapuh.

Ataukah tercipta kembali tragedi-tragedi naas, yang mengatas namakan SARA? Semoga saja Burung Garuda nanti tak menjadi Burung Perkutut. Percuma dan sia-sia nanti para pahlawan yang merebut kemerdekaan. Jika sekarang Merdeka tapi tetap bingung. Ya.. Bingung sepertiku ini.

Cerita anak kecil yang menjajakan tisu hingga tertidur tadi, sempat membuatku miris. Ia menjalani kehidupan yang keras di kota ini, hanya sendiri. Terkadang harus terbentur oleh rasa lapar yang tak ada habisnya. Walau ia kini masih terus belajar. Usianya masih kanak-kanak. Belum waktunya menjadi dewasa karena keadaan. 

Tapi mau bagaimana lagi? Memang itu realita yang harus dijalani bukan? Walau harus memaku diri di papan kehidupan yang penuh duri. Ya, setidaknya Tuhan tidak buta dan tuli. Tidak seperti Manusia. Yang terkadang membutakan matanya kepada hal yang menurutnya menjijikan, juga menulikan telinganya dari erangan juga jeritan mereka yang tertindas.