Wah pastinya tulisan ini di baca karena judul artikel ini sedikit ekstrim ya?

Mengapa ini di bahas atau mungkin pembaca akan menghujat saya karena tulisan ini, yuk baca  kelanjutannya!

Anak adalah salah satu bentuk karunia Tuhan yang di hadirkan lewat perantara orang tua, biasa kita sering dengar "Anak adalah darah daging bagi kedua orang tuanya"

Sudah tidak asing bukan dengan kata orang tua, bahkan bisa di bilang sangat familiar, setiap orang juga pastinya memiliki orang tua.

pembahasan yang sering di sebutkan orang-orang adalah anak yang egois,  pastinya muncul pertama kali di otak kita bagaimana anak yang tidak pernah mengerti orang tuanya, tapi pernahlah kita mendengar pembahasan orang tua yang egois.

Sangat jarang bukan perihal ini di bahas?

Sangat, karena pada dasarnya bukan saya ingin memojokkan posisi orang tua yang pernah melahirkan dan membesarkan anaknya sedari kecil, namun memang faktanya begitu.

Fakta ini  saya singgung karena berkaitan  dengan  sebuah studi yang dilakukan di Inggris menemukan, anak-anak dengan ibu yang mudah emosional memiliki resiko yang lebih besar terkena depresi, kegelisahan dan nekat di usia remaja. Para peneliti itu berasal dari University of Bristol, Exeter, Kings's College of London dan Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development.

Beberapa orang sekitar saya juga mengalaminya, merasakan keegoisan orang tuanya, anak diharuskan memenuhi standart orang tuanya, mereka di ikat dengan doktrin harus seperti ini, seperti itu, mereka pelan-pelan di kekang di balik kata:

"kami membesarkan kamu dengan susah, kamu harus mengikuti apa mau kami, kamu tidak punya hak atas hidupmu dalam mimpi, karena kami lebih tau dan mana menurut kami baik"

Bisa di percaya kan mengapa mental para anak perlahan rusak?

Kalau saya percaya, perlahan mental anak perlahan rusak, tulisan ini bukan mengeklaim banyak orang tua egois, saya menulis  benerapa orang saja mungkin mengalami pengalaman ini.

salah satu fakta lain yang saya akan bahas juga yaitu  kasus Hanum Mega salah satu beauty vloger  youtobe yang masalah sempat heboh di sosial media yaitu ayah hanum mega meminta syarat mobil dan uang tunai beberapa ratus juta sebagai syarat jika ingin ayahnya menjadi wali nikahnya.

Orang-orang menyarankan Hanum memakai wali hakim, tapi ia menolak karena masih ingin berjuang, ada ayah di acara pernikahannya sebagai wali.

Menjadi wali nikah saja memang kewajiban seorang ayah, tetapi jika wali nikah tersebut menolak kita bisa saja menggunakan wali hakim bukan?, bahkan semisal  Hanum Mega memakai wali hakim saya termasuk orang orang yang setuju dengan pilihannya.

Kasus seperti bukan tidak mungkin membuat para anak depresi bagi yang pernah mengalaminya, dimana menurut saya juga orang tuanya termasuk orang tua yang egois, hanya untuk menjadi wali nikah, ayahnya memberi persyaratan bagi anaknya. 

Jika orang tua merasa paling berhak atas hidup anaknya dan orang tua kata orang harus di dengarkan suara mereka lalu bagaimana seorang anak juga ingin di dengarkan, bagaimana seorang anak memperjuangkan hak atas hidupnya, menjunjung pilihan hidup yang mereka pilih.

Suara tangis para anak sering di abaikan sekitar, anggapan orang  kami para anak yang selalu salah dan anak yang selalu saja membantah orang tua.

Asumsi di atas yang selalu ada di pikiran masyarakat, padahal kita tau sendiri seorang anak tidak mungkin egois ketika keinginan mereka suara mereka mulai di dengarkan, mereka selalu merasa keluarga bukan rumah mereka Karena segala hal dalam keluarga mereka di mulai dengan makian para orang tua.

Para Orang Tua Kadang Lebih Egois

bukan tidak mungkin menurut saya orang tua egois, sangat mungkin. Orang tua terkadang tidak mau mendengarkan suara anaknya, tidak menerima proses para anak dengan dalih"kami lebih tau untuk kamu, karena kami yang lebih lama menjalani hidup"

Tak jarang orang tua menutut anaknya harus memilih cita-cita yang di pilih orang tuanya karena menurut mereka cita-cita yang mereka pilih adalah yang terbaik, meski anak menolak, mereka tidak mau menerima alasan apapun.

Kata kata kasar banyak di lontarkan, siksaan fisik, ancaman mulai membabi buta di hujami kepada para anak. Sadarkah kita , kita sebagai anak dilarang untuk berkata kasar kepada orang tua, lalu pastinya di larang juga ketika orang tua berkata kasar kepada para anak.

Ribuan orang di luar sana memiliki impian berbeda dengan orang tuanya, mereka ingin jadi diri yang mereka mau, tetapi ribuan orang di luar sana juga ketakutan menyuarakan suara hatinya di depan orang tuanya.

Mungkin kita akan kesulitan menyadarkan para orang tua yang egois, tapi kita bisa melakukan perubahan dengan menjadikan genarasi kita sekarang menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita nantinya di masa depan.