Panggung politik di Indonesia selalu menarik untuk ditilik. Ditilik dalam artian negatif dan positif. 

Pada sisi negatif, sering kali kita dibingungkan oleh kebijakan politis dan keputusan politis yang membingungkan dan merugikan publik. Namun dari sisi yang positif, kita bisa saksikan bahwa dunia politik di Indonesia juga menghadirkan kejutan-kejutan yang menarik. Salah satunya adalah keterlibatan anak muda dalam dunia politik di Indonesia.

Tahun lalu kita merasakan euforia PILPRES. Kontestasi politik terakbar di Indonesia tersebut sejatinya bukan hanya milik para pasangan calon presiden dan wapres. Tetapi juga mereka yang terlibat menjadi jurkam masing-masing Paslon, di antaranya mereka yang masih berusia sangat muda. 

Bahkan Ketika presiden terpilih menentukan susunan pemerintah, publik sebenarnya cukup antusias dengan munculnya nama-nama anak muda, baik yang menduduki jabatan Menteri atau pos-pos lainnya. Bahkan Presiden Jokowi membuat susunan staf khusus yang diisi anak-anak muda, pos ini terkenal dengan sebutan Staf Milenial.

Di luar kontestasi nasional, Indonesia juga akan melaksanakan perhelatan PEMILUKADA di beberapa daerah. Kita bisa saksikan bahwa beberapa pemuda berani untuk maju menjadi paslon pemimpin di daerah. Untuk ukuran usia, mereka agaknya terlalu muda untuk menjadi seorang pemimpin. 

Selama kira-kira 10 tahun terakhir, kita akan menemukan cukup banyak fakta bahwa beberapa kepala daerah berusia antara 25 – 35 tahun, hanya segelintir namun cukup untuk memberikan sebuah alarm bahwa anak muda juga bisa berdaya dalam dunia politik.

Perlu keberanian bagi para pemuda tersebut untuk berpolitik, terutama pada masa yang membingungkan seperti ini. Sebagian dari mereka memang memiliki kemampuan politik yang mumpuni yang bisa dilihat dari rekam jejak pendidikan, organisasi, dan kemampuan mereka berargumentasi di depan publik. Sebagian lagi hanya “ikut-ikutan”, namun punya faktor yang mendukung misalnya karena status keartisan atau anak dari elit politik lainnya. 

Tapi benarkah gelora politik yang dilakukan oleh para pemuda hanya terjadi akhir-akhir ini saja atau pasca-Orde Baru?

Jawaban dari pertanyaan sebelumnya tentu saja tidak, Indonesia pada dasarnya merupakan “lahan subur” munculnya politikus muda, bahkan sejak masa kolonial. Politik etis yang terjadi pada awal abad 20 di Indonesia merupakan salah satu alasan mengapa anak muda terlibat dalam dunia politik. 

Kebijakan ini secara bertahap mengubah bentuk perjuangan bangsa kita yang sebelumnya merupakan perjuangan fisik tanpa koordinasi dan kesatuan yang kuat menjadi perjuangan intelektual dengan arah dan tujuan yang jelas. Dan perjuangan semacam ini rupanya digawangi oleh anak-anak muda.

Mereka yang terlibat di dalam dunia politik pada awalnya merupakan anak muda yang beruntung bisa sekolah pada masa itu. Salah satu sekolah yang dianggap menjadi tempat cikal bakal lahirnya kaum-kaum pergerakan di Indonesia adalah STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera). Lulusan sekolah ini justru sebagian “banting setir” menjadi politikus alih-alih menjadi dokter seutuhnya.

Hal yang sama juga berlaku bagi anak-anak muda yang pernah merasakan perjalanan keluar negeri, terutama perjalanan haji. Ketika menjalani proses haji mereka juga belajar dengan tokoh-tokoh gerakan Islam yang mereka temui di Makkah dan Madinah.

Selain itu, ada pula para politis muda yang muncul dari ruang-ruang diskusi yang ada. Contoh yang paling sohor adalah Bung Karno menjadi mahasiswa dan turut aktif menjadi salah satu bagian dari grup diskusi terkenal di Bandung Algeemene Studi Club. 

Bahkan Ketika menjadi siswa di Surabaya, Bung Karno juga aktif dalam diskusi ditempat indekosnya, pemilik indekos tersebut adalah politikus legendaris Sarekat Islam, HOS. Cokroaminoto. Sosok yang dianggap Bung Karno sebagai mentornya.

Bukan rahasia lagi pada masa itu hampir semua generasi emas pendiri bangsa ini memulai karir politiknya dalam usia yang sangat muda. Soekarno belum genap berusia

30 tahun ketika memimpin salah satu partai legendaris di Indonesia, yaitu Partai Nasional Indonesia.

Moh. Hatta masih sangat belia ketika menjadi bendahara Jong Sumatra cabang Kota Padang dan menjadi politikus yang disegani di Belanda manakala statusnya masih mahasiswa di negara itu. Di waktu yang bersamaan anak muda Hatta juga aktif dalam Liga Anti-Imperialisme.

Dari gerakan kiri, muncul nama legendaris Tan Malaka yang terkenal dengan aktivitas politiknya selama masa pergerakan nasional. Anak muda dari Gerakan keagamaan juga tak mau ketinggalan, bisa dikatakan pionir dalam gerakan politik berbasis Islam pada masa kebangkitan nasional adalah Sarekat Islam. 

Organisasi massa yang cukup disegani oleh Pemerintah Kolonial pada zamannya ini telah memunculkan beberapa politikus yang memulai karir politik mereka dalam usia muda. Organisasi ini sangat kental dengan ketokohan HOS Cokroaminoto dan Haji Agus Salim, keduanya memulai karier dalam organisasi ini langsung sebagai pucuk pimpinannya. 

Cokroaminoto belum genap berusia 30 tahun ketika memimpin SI dan Haji Agus Salim kira-kira berumur 31 tahun ketika bergabung dengan SI dan menjadi orang kedua dalam tubuh organisasi setelah Cokroaminoto.

Bahkan salah satu peristiwa besar dalam perjalanan bangsa ini, yaitu Sumpah Pemuda, jelas diinisasi para anak muda dari hampir seluruh wilayah Indonesia. Ini adalah peristiwa yang sangat penting, karena dari sinilah persatuan Indonesia sebagai sebuah bangsa untuk kali pertama digagas.  

Intinya pada masa pergerakan nasional, politik dan kepemimpinan masa depan Indonesia sudah dipupuk sedari muda. Mereka pada masa-masa berikutnya akan menjadi penentu dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini.

Berlanjut hingga kemerdekaan kita, orang-orang muda juga menduduki berbagai posisi penting dalam perjalanan bangsa kita. Tetapi mungkin tidak sekencang pada masa pergerakan nasional, termasuk ketika munculnya Orde Baru di Indonesia. Padahal rezim ini muncul karena bantuan para mahasiswa yang kecewa karena kepemimpinan Bung Karno kala itu. 

Orde Baru menganggap gerakan mahasiswa bisa  jadi cukup berbahaya, oleh sebab itu perlu direduksi sejak dikampus. Pada masa ini gerakan- gerakan politik dikampus haram hukumnya dilakukan. Oleh sebab itu, praktis selama masa Orde Baru jarang ada anak muda yang berani berkancah dibidang politik. Anak-anak muda pada masa ini hanya disibukkan dengan kegiatan belajar dan kegiatan lain yang sifatnya hedonistik ala budaya barat (pesta, diskotek, musik dll).

Runtuhnya Orde Baru menjadi babak baru keterlibatan kembali anak muda dalam kancah politik di Indonesia. Reformasi telah memberikan peluang bagi para pemuda untuk kembali berkiprah dalam dunia politik. Walaupun sampai sekarang, kita belum merasakan betul efek kejut dari anak-anak muda yang berkancah di dunia politik layaknya yang terjadi pada masa pergerakan nasional.

Beberapa tahun yang lalu mungkin kita belum melupakan figur-figur muda yang berpotensi memiliki karir politik yang baik di republik ini terutama para kepala daerah dan anggota parlemen yang berusia muda, tapi sayangnya sebagian dari mereka tidak menghasilkan hal besar dalam periode politknya, parahnya sebagian lagi  berakhir dalam jeruji KPK. 

Mungkin sekali pada masa pergerakan nasional, politik merupakan keharusan bagi anak muda untuk merubah nasib bangsanya. Sedangkan pada masa sekarang lebih banyak berebut kontestasi kekuasaan yang pragmatis.

Jelas ini berbeda konteks, tetapi setidaknya ada teladan yang bisa diambil dari anak muda di masa lalu untuk dipikirkan oleh anak muda “zaman Now” dalam dunia politik sekarang.