Terus terang, saya dan kerabat saya dikenal takut disuntik. Manusiawi, kata Pak Dokter. Dulu pernah waktu cek darah di salah satu Rumah Sakit, saya harus merasakan dua-duanya ditusuk jarum karena tusukan di lengan pertama tak bisa keluar darahnya. Entahlah, mungkin seketika darah saya mendadak beku saking takutnya. Walhasil, double tegang double sakit.

Paman saya lebih parah, terlibat dalam sebuah kecelakaan kerja dan mendapati kakinya terluka. Petugas Puskesmas kala itu menyarankan untuk dijahit. Ketika hendak disuntik, malah lari tunggang-langgang.

Kita harusnya sudah akrab dengan hal suntik-menyuntik. Bagaimana tidak, dari bayi kita sudah merasakannya, bukan?

“Tenang ya, gak apa-apa, kayak digigit semut.”

Sering kali atau pasti, kata-kata ini terlontar dari mulut bijak para guru Sekolah Dasar untuk menenangkan anak didiknya pada saat akan disuntik imunisasi.

Pertanyaannya, mengapa mesti semut? Bukan amoeba atau hewan bersel satu misalnya, “Tenang ya, kayak digigit amoeba.” Hehe..

Teringat beberapa kejadian pada saat pemberian imunisasi di sekolah tempat saya mengajar dulu. Jangan tanya bagaimana, atau apakah lancar dan baik-baik saja. Tendangan di kursi mereka lampiaskan, ada yang sampai mengangkat meja dan melemparkannya ke arah petugas kesehatan. Padahal, mereka tidak sedang berada dalam pelajaran olahraga.

Belum lagi ada yang berteriak histeris seperti hendak mengeluarkan kehebatan suara tingginya dengan wilayah nada c’- f’, barangkali bisa sampai 5 oktaf melebihi suara Michael Jackson yang hanya memiliki rentan vocal hampir 4 oktaf!

Ekstremnya lagi, pernah ada yang sampai seperti sedang beratraksi di pertunjukan di perayaan Imlek alias kayak jadi Barongsai! Loncat dari satu meja ke meja lainnya, bahkan naik ke atas lemari kelas. Bisa tidak terkontrol sebegitunya. Oh God.. ini terjadi pada saat akan diberikan suntik imunisasi Measless Rubella (MR) di sekolahnya.

Masih ada cerita-cerita berulang begitu setiap tahun, lebih tepatnya setiap kali akan dilakukan imunisasi.

Apakah memang sudah tradisi atau semacam gaungan rumor yang melekat pada anak-anak tentang horornya suntik imunisasi?

Dari berbagai kejadian tersebut, saya menelisik bahwa ini bisa teratasi atau dicegah bila para pendidik dan tenaga kesehatan bekerjasama menitik beratkan pada hal peredaman emosi para peserta didik. How did those actions grew up? Akankah ada siasat atau tindakan yang dapat dilakukan para petugas kesehatan yang akan bertugas ke sekolah-sekolah atau oleh para guru mengatasi ini?

Ini bukan sekedar pemberian suntikan, yang sakit sebentar kemudian mereka lupa dan main lagi atau belajar lagi. Tapi lebih ke emosi ketakutan berkala yang kemudian mengikat sendi-sendi keberanian mereka ke depannya.

Ada banyak kasus anak yang tidak mau disuntik imunisasi, selamanya.

Saya mengharapkan mereka yang berwenang di sekolah atas pemberian suntikan imunisasi—harus melihat jauh atas perkembangan sosial emosional para peserta didik. Pertanyaannya, mereka harus bagaimana? Mau melakukan apa?

Ini terdengar berlebihan, tapi maaf, ini bukan hal yang sepele.

Menurut saya, di Sekolah Dasar para guru harus menerapkan desain pembelajaran yang berbasis pada perkembangan dan kebutuhan siswa atau Developmentally Appropriate Practises (DAP). Para guru melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) seperti biasa namun ditambah dengan permainan, cerita inspiratif, serta disisipkan pembiasaan pengenalan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, seperti pentingnya hidup sehat melalui imunisasi.

Tidak kalah penting juga, yaitu pembangunan karakter berani dan mandiri harus dilakukan kepada siswa secara berkelompok, karena prinsip dari DAP sendiri bahwa seluruh aspek perkembangan anak saling terkait satu dengan lainnya dan saling mempengaruhi. Oleh karena itu, menghadirkan teman sebangku untuk mendampingi siswa yang terindikasi akan mengalami tantrum tersebut adalah salah satu pengejawentahan atas prinsip DAP di atas.

Bisa juga para guru dengan tenang mendampingi serta memegang badan siswa sambil terus memberi motivasi pada saat disuntik.

Oh iya satu lagi, membangun komunikasi yang intens dengan para orang tua siswa juga perlu dilakukan, sebab masih ditemukan adanya keraguan akan jaminan keamanan dan keaslian vaksin yang diberikan di sekolah oleh para orang tua.

Kompleks memang, namun itu diperlukan guna menumbuhkan rasa percaya diri pada diri siswa, sehingga mereka bisa menempatkan diri di berbagai situasi di lingkungan berbeda. Terlebih atau tepatnya—pada saat suntik imunisasi di sekolah.

Lantas apa yang dilakukan oleh para petugas kesehatan?

Berdasarkan pada UU Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2002, “Setiap anak berhak mendapat imunisasi sebagai bentuk pemenuhan haknya dalam memperoleh pelayanan dan jaminan kesehatan fisik, mental, spiritual dan sosial.” 

Kegiatan Imunisasi wajib, maka, para tenaga kesehatan yang akan terjun langsung berhadapan dengan para siswa hendaknya dibekali dengan pengetahuan khusus penanganan atas perkembangan sosial emosional mereka.

Ada bentuk kerjasama dengan sekolah, yaitu dengan sering datang ke sekolah—bukan hanya pasa saat akan melakukan suntik imunisasi saja, tapi lebih sering melakukan penyuluhan yang menarik tentang kesehatan, terlebih tentang “Asiknya Sehat dengan Imunisasi” misalnya, atau “Aku Anak Indonesia Sehat Berimunisasi”.

Disarankan juga dengan membawa barang penarik guna mengalihkan perhatian. Contoh bawa balon–balon, permen atau lainnya ketika hendak melakukan suntik imunisasi.

Jadi, terbiasanya mereka dengan penanaman dan pemahaman tentang kesehatan dari guru dan tenaga kesehatan, pembentengan atas emosional yang berhasil ditata—para siswa sudah siap dan tenang jika para petugas pemberian imunisasi datang.