Kehadiran narkoba memang tidak pandang bulu. Bisa singgah ke semua lapisan masyarakat. Korbannya pun tak tanggung-tanggung. Bisa menimpa siapa saja yang lengah, sekalipun anak dari orangtua terpandang, termasuk dunia artis dengan gaya hidup yang mewah dan hedonis.

Lihat saja, belakangan ini banyak deretan artis yang terkena kasus narkoba bermunculan di media. Narkoba bagi para selebritis, ibaratnya dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Maklum, dengan jam kerja yang tidak umum, syuting hingga larut malam bahkan pagi, membuat artis rentan tersangkut narkoba.

Belum genap dua bulan dari tahun 2018, sudah ada sederet artis yang diciduk polisi. Mereka adalah Jennifer Dunn, Fachri Albar, Roro Fitria, dan Dhawiya Zaida. Jennifer Dunn ditangkap polisi pada hari Selasa (2/1/2018) atas kasus kepemilikan narkoba.

Sementara Fachri Albar sendiri diringkus petugas di kediamannya pada hari Selasa (13/2/2018). Sehari kemudian, giliran artis kontroversial Roro Fitria yang berhasil diciduk di kediamannya. Penangkapan wanita kelahiran Yogyakarta ini bertepatan dengan hari Valentine, Rabu (14/2/2018).

Tak lama setelah itu, giliran putra-putri si ratu dangdut, Elvy Sukaesih, yang berurusan dengan pihak berwajib lantaran kasus yang sama (16/2/2018) sebagaimana dikutip laman tribun.com.

Kejadian demi kejadian, bukan hanya saja pribadinya yang malu, orangtuanya pun ikut menanggung beban berat atas kelakuan anaknya. Ibaratnya, anak menanam orangtua menuai. Anak mengonsumi narkoba, orangtua mengonsumi aib psikologisnya.

Fungsi Orangtua 

Mendidik anak di jaman sekarang, bisa dibilang ”gampang-gampang susah”. Dikatakan “gampang”, media pendidikan bagi anak di era digital ini sudah begitu melimpah. Tinggal klik saja di kotak ajaib, dengan sendirinya akan keluar semua. Maka urusan mendidik pun akan mendapat banyak cara.

Dikatakan susah, anak yang hidup dalam dekapan internet, tentu harus banyak cara dalam mendidiknya. Orangtua tidak boleh monoton dalam mendidik anak. Adakalanya orang bertindak sebagai teman akrab, sahabat berbagi cerita, kakak penuh kasih sayang, saudara perhatian, motivator ulung dan guru tauladan terbaik sekaligus orangtua berkepribadian hebat untuk anak jamannya.

Sebagai orangtua, disadari atau tidak. Mendidik anak era digital ini, tidaklah semudah era tahun 1980-an. Ditahun 1980-an, disaat dunia internet belum sebooming sekarang, mendidik anak belum banyak menemukan kendala.

Perlu kita renungkan ungkapan Khalifah Ali bin Abi Thalib. “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu.” Isyarat ini memberikan dorongan kepada orangtua bahwa dalam mendidik anak agar selalu mengedepankan profesional dan proporsional.

Jika kita berkaca kepada si Ratu dangdut, Elvy Sukaesih. Ketika diperiksa oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya 27/2/2018, pelantun lagu Bisik-Bisik Tetangga itu mengatakan dirinya tidak mengetahui jika anak mengonsumsi narkoba.

Karena 4 hari berturut-turut sebagai juri di Indosiar. Keluar rumah pukul 03.00 WIB, pulang jam 03.00 WIB, jadi saya tidak bisa lihat anak-anak," ucapnya seperti dilansir Republika 27/2/2018.

Kejadian ini menunjukan bahwa kontrol orang terhadap anaknya, sesibuk apa pun, harus tetap terjalin komunikasi yang baik. Walau secara kuntitias pasti kurang, namun kualitas komunikasi harus dijaga dalam setiap saat.

Setidaknya menyempatkan waktu di tengah-tengah kesibukan barang sejenak, untuk memastikan anak-anak dalam keadaan baik dan aman. Aman dari situs yang berbahaya dan aman dari segala yang merusak mental dan fisik anak.

Tantangan berat ini, mau tidak mau harus dihadapi oleh orangtua yang tidak menghendaki anaknya jadi korban ganasnya jaman now. Jaman dengan dinamika hidup yang terus berubah ke arah berbagai penemuan dalam berbagai sektor kehidupan.

Orientasi Pilar Pendidikan 

Pilar pendidikan di era lini masa ini hampir tak berdaya melawan derasnya arus informasi yang datang silih berganti. Belum lama kita menggunakan jaringan 3G, teknologi jaringan pun terus berinovasi menjadi 4G. Belum lagi, belakangan kita dengar masyarakat di luar negeri sana sudah menggunakan jaringan 5G.

Jaringan 5G tersebut, lebih cepat 40 kali bahkan menurut pendapat lain 100 kali lebih cepat dari jaringan 4G. Demikian dahsyatnya perkembangan teknologi informasi, sampai mendownload film berdurasi dua (2) jam pun dalam hitungan menit sudah selesai.

Jika jaringan tersebut dimanfaatkan untuk memperkaya pembelajaran di dunia pendidikan, akan sangat membantu para pendidik dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Karena pembelajaran era lini masa ini, mau tidak mau sebagai pendidik harus melek teknologi informasi.

Dalam KBM sehari-hari misalnya; seorang guru tidak lepas dari media pembelajaran yang sangat membantu siswa memahami sautu materi. Sebaliknya, jika tidak menggunakan media pembelajaran, sebagian siswa akan merasa kesulitan karena tidak ada contoh yang nyata.

Alhasil pendidik harus benar-benar melek teknologi informasi yang dapat membantunya mencapai tujuan pendidikan. jika tidak, maka bukan tidak mungkin akan ditinggalkan oleh murid-muridnya yang lebih dulu menguasai teknologi informasi.

Melihat kecenderungan pendidikan ke arah global dewasa ini, perlu mendapat pembenahan di tiga sektor pilar pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Pertama, keluarga. Keluarga sebagai sekolah pertama sebelum atau sesudah sekolah pun perlu mendapat perhatian orangtua. Bagi kedua orangtua yang lebih banyak menghabiskan jamnya di luar rumah untuk bekerja.

Ketika menitipkan anak yang masih balita, keharusan yang pertama adalah mencari orangtua asuh yang mampu mendampingi anak. Di samping bisa dipercaya dan tantunya aman dari segala macam bahaya.

Kemampuan orangtua asuh terhadap pendidikan anak dinilai sangat penting, karena dialah yang setiap harinya akan menghadapi berbagai macam tingkah pola anak.

Jika orangtua asuh tidak cakap dalam mendampingi dan mengarahkan anak, maka risikonya adalah anak kita akan menjadi korban. Baik korban psikologis atau kekerasan fisik akibat ketidakmampuan orangtua asuh dalam mengendalikan kepengasuhan. Tentu anak kita tidak mau dibesarkan dengan menakut- nakuti yang akhirnya jadi penakut.

Didampingi di dalam rumah tanpa keluar dengan cara eksklusif, yang pada akhirnya kurang bersosialisasi dengan tetangga hingga terbawa dewasa. Dididik dengan aneka permainan mewah yang akhirnya anak tidak mau belajar kesederhanaan hidup, dan lain-lain.

Namun, jika tidak menemukan orangtua asuh yang betul-betul bisa diandalkan. Lebih baik memilih orangtua asuh dari kalangan keluarga dekat. Semisal; nenek, paman, bibi atau kakak yang mengetahui persis kemauan kita dalam mendampingi anak.

Jika anak sudah sekolah, sebaiknya orangtua tidak boleh menyerahkan pendidikan sepenuhnya ke sekolah tanpa mengontrol keberadaan sang anak. Di lapangan banyak terjadi kasus demikian, akhirnya anak menjadi korban terbawa arus pergaulan liar di luar rumah.

Yang ideal tentunya kerja sama pendidikan antara keluarga dan sekolah. Biar bagaimana pun sekolah mempunyai keterbatasan dalam mendidik anak. Tapi jika dipikul bersama antara sekolah dan keluarga maka akan tercipta pendidikan yang kuat dan sinergis.

Sinergi tersebut bisa dalam bentuk buku monitoring akitivitas harian anak atau melalui media group WhatsApps yang rutin melaporkan perkembangan mental anak. Dari sini setidaknya bisa menangkal kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Namun, kerja sama ini membutuhkan komitmen bersama antara keluarga dan sekolah dalam upaya menjaga keberlangsungan pendidikan yang dapat membebaskan dari segala sesuatu yang membuat sang anak tidak maju. Baik kemajuan secara akademik maupun mentalitas anak.

Kedua, sekolah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan kedua setelah keluarga, harus menyadari betul bahwa paradigma pendidikan sudah berubah sejak lama. Di tahun 1990 ke bawah, guru memukul murid tidak dipermasalahkan.

Sekarang guru memukul murid bisa dipidanakan dengan alasan kekerasan fisik, perlakuan tidak menyenangkan, melanggar HAM dan lain-lain.

Gaya pembelajaran pun tidak lagi didominasi oleh guru (teacher center) melainkan sudah berubah menjadi lebih fokus ke peserta didik (student center). Peran dan fungsi guru di masa silam menjadi pusat pembelajaran siswa, sekarang sudah berubah menjadi mediator, motivator, fasilitator, dan sublimator.

Metode ceramah yang dulu sering mendominasi KBM di kelas, sekarang sudah banyak bermunculan metode KBM yang sudah mengakomodir perkembangan teknologi informasi.

Belum lagi kecendrungan orangtua murid yang ingin mendapatkan pelayanan prima (service excellent), diperlakukan secara adil, responsif atas berbagai persoalan anak, wali kelas yang ngemong, satpam yang melayani, staf TU akomodatif sampai kepala sekolah yang menyapa hati orangtua siswa.

Sekolah yang menyadari hal itu, tentu tidak akan berdiam diri sebelum mendapat protes dari orangtua siswa. Sebaliknya sekolah dengan cepat akan men-design dan merumuskan format pendidikan yang adaptif, compatible dan visioner terhadap segala kemungkinan yang terjadi.

Ketika menemukan guru yang masih menggunakan paradigma pendidikan lama, metode konvesional dan konservatif, banyak mengintimidasi anak, KBM teks book, kurang disiplin, kurang inovasi, dan lain-lain. Maka sekolah akan memberikan berbagai platihan sesuai dengan kebutuhan guru tersebut.

Guru di zaman sekarang, dituntut untuk mengasah diri, berkreativitas, melakukan lompatan pendidikan yang membebaskan anak didik dari ketidakmajuan lewat serangkaian training, baik oleh sekolah dengan mengundang pihak luar atau undangan dari pemerintah setempat.

Selain itu, guru juga harus aktif koordinasi dengan rekan sejawat mengenai kondisi terkini peserta didik, terlibat aktif dalam musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) dalam upaya mengasah kemampuan mata pelajaran yang diampunya.

Tentu yang tak kalah penting bagi sekolah adalah melakukan sinergi antar komponen pendidikan di sekolah dalam rangka memajukan lembaga pendidikan sesuai dengan amanat UUD 1945 pasal 31 ayat 1-5 dan sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 yang sudah digariskan oleh pemerintah.

Ketiga, Masyarakat. Masyarakat sebagai lembaga pendidikan nonformal adalah tempat yang tak kalah besar pengaruhnya setelah pendidikan keluarga dan masyarakat. Justru di lingkungan masyarakatlah anak-anak akan belajar etika pergaulan, kepedulian, gotong royong, tenggang rasa, toleransi, dll.

Tidak sedikit anak yang baru pulang ke rumah membawa perubahan besar bagi diri sang anak. Syukur jika pergaulan dengan teman-temannya membawa kebaikan, jika tidak pulang ke rumah dengan membawa aneka macam akhlak yang miris didengarnya.

Misalnya; pembicaraannya kotor, beringas, melawan orangtua, merusak sampai tidak peduli. Jika ini terjadi, tentunya semua elemen masyarakat, mulai dari RT, RW, tokoh masyarakat dan pemerintah harus bersatu padu untuk mewujudkan lingkungan masyarakat yang bisa mendidik anak-anak.

Selain itu, media TV, Koran, Majalah, Media online, pengguna media sosial  ikut bertanggung jawab memberikan berita yang mendidik, mencerahkan dan membelajarkan anak-anak. Tapi sayang, tidak semua media ikut memiliki tanggung jawab tersebut.

Termasuk para politisi yang banyak menghiasi layar kaca dan media cetak atau pun online harus turut andil memberikan edukasi kepada masyarakat.

Di sisi lain, bagi media yang tetap membandel memberikan berita yang tidak mendidik apalagi hoax, pemerintah mempunyai kewenangan untuk menegur bahkan menutup operasionalnya demi menjaga masa depan pendidikan anak-anak.

Jangan sampai anak menanam, orangtua menuai hasilnya. Anak melakukan keburukan, orangtua menanggung malu selamanya.