Lima Menit Pertama

Kau ingin bertanya tentang cita-cita masa kecil pada seorang laki-laki ketika hujan lebat di luar sana. Tepat ketika air-air hujan itu menabrak genteng dan menempias di beranda rumah panggungmu.

Bersama kopi dan setoples kue bangke-bangke suasana tak berubah seketika menjadi hangat. Irama ritmik hujan mengganggu pikiranmu dan entah mengapa ruang tamu masih sepi setelah lima menit berlalu. Kalian masih berjarak dengan percakapan. Persis seperti kopi yang berjarak dengan panas dan gula ketika bibir sariawan.

Sementara di luar para tetangga petani bersorak dengan hujan yang turun setelah kemarau panjang, anak-anak kecil sepupu-sepupumu berlarian di halaman yang airnya tergenang karena selokan tersumbat oleh sampah-sampah plastik, kau malah merayakan ketaktahuan. Kau merayakannya dengan diam, mulut yang kehilangan daya berbicara dan kejujuran rasa ingin tahumu.

Siapakah kamu?

Andai kau cukup tenaga, pertanyaan itu harusnya tak masalah seketika kau ucapkan. Tapi semua berbeda. Bertanya langsung pada orang yang menyembunyikan kesedihan dan kemarahan tidaklah mudah. Siapapun ia. Bahkan ketika itu adalah suamimu sendiri.

Setelah 30 Menit Berlalu

Suasana masih sama setelah 30 menit berlalu. Suamimu, di hadapanmu masih diam. Perasaan  itu, lagi, kau merasa tak mengenal laki-laki di depanmu. Atau jangan-jangan selama ini kau memang hanya berpura-pura mengenalnya. Kau tak pernah memeluk ia yang ada di balik namanya.

Tapi kau sendiri siapa?

Dan bukankah kau tidak sendirian yang tak mengenal pasanganmu?

Bukankah orang lain di luar sana tak hanya belum pernah mengetahui pasangan masing-masing, malah mereka lebih asyik menyembunyikan diri sendiri?

Kau tidak mengenal hal lain selain yang ada dalam KTP, kartu keluarga atau data SIM dan STNK. Kenangan-kenanganmu dengannya pun seolah hanya menggenapi sebagian rasa ingin tahumu.

Semenjak ia lebih banyak diam dan tak bernafsu di kamar, serta waktu yang semakin hilang untuk anak-anak, ia seperti menjadi orang lain. Apalagi ketika tetangga mulai berbisik jarangnya ia ke mushallah, seringnya ia pergi melamun di dekat balai desa dan sederet hal-hal aneh lain yang belakangan kau dengar.

Ada hal yang ingin kau tahu lebih selain pikirannya terkait masalah utang kalian ke rentenir, uang sekolah anak-anak yang kian mahal, harga cabai yang melambung, panen yang gagal, atau ikan-ikan yang habis diracun para pemburu ikan dari kota kabupaten.

Ia mengetahuimu lebih baik dari orang lain. Mukamu ketika marah, sedih atau tatkala mentalmu sedang tak stabil setelah menstruasi. Bahkan sepertinya ia mengetahuimu lebih baik dari dirimu sendiri. Ia tahu cita-cita masa kecilmu, mantan-mantan pacarmu, teman-temanmu, sifat-sifat burukmu, tabiat-tabiat tante-tante penggosip di keluarga besar dan segala sesuatu tentang dirimu.

Sebaliknya, selain ia adalah Ayah dari anak-anakmu, kau tak mengenal laki-laki itu sepenuhnya.

Cita-citanya apa? Bisakah kau tahu saat ia marah atau sedih? Bisakah kau lihat kekecewaannya pada padi-padi di sepanjang pematang sawah yang rusak diterjang hama wereng? Bisakah kau rasakan penderitaannya atau apa bahagia menurutnya? Atau bahagiakah ia dengan perannya selama ini?

Kau merasa seperti buta dan hidup dengan laki-laki yang tak pernah kau tahu jelas ia di masa lalu. Walaupun ia begitu ramah dan sangat hati-hati memperlakukanmu selama beberapa belas tahun pernikahan itu.

Kau benar-benar tak rela waktu terbuang dan kau tak mengerti sedikitpun siapa laki-laki itu. Laki-laki yang menghidupi keluargamu dengan tulisan-tulisan. Laki-laki yang harus masuk satu dunia, keluar di dunia lain untuk membuat penerbit atau koran-koran besar memuat cerpen-cerpen atau puisi-puisinya.

Kau kembali ragu. Jika laki-laki itu harus memasuki ragam dunia untuk mendapatkan uang, seperti apakah hidupnya yang sebenarnya. Hidup seperti apakah yang ia inginkan?

Apakah aroma napasnya, belaian jarinya yang lembut; mengusapmu mesra sampai sekarang, tatapan matanya yang menyemangati seakan membuat waktu seperti rakit yang ikut terbawa arus sungai kehidupan kalian belumlah cukup?

Dia berkata padamu setelah 30 menit berlalu, “bukankah itu tak terlalu penting. Lebih baik kita bicara tentang tagihan listrik, uang sekolah anak-anak kita dan hutang-hutang ke rentenir yang beberapa hari lagi sudah sampai tenggat waktunya.”

Percakapan beralih sebentar. Lalu kau berkata ringan lagi tentang niat ingin mencaritahu lebih dalam diri suamimu.

Ia terdiam saaat kau mulai bertanya dengan sungguh-sungguh.

Waktu berlalu beberapa menit. Seolah itu terasa lama.

Selain suara hujan tidak ada suara-suara lain.

/1/

Ia mulai bercerita.

Apalagi yang ingin Umi tahu sih dari Abi?. Bukankah belasan tahun sudah kita sama-sama. Kalau itu belum cukup, baiklah Abi akan bicara panjang lebar.

Tuturnya lembut. Ia memperbaiki posisi duduk. Kopinya ia seruput lebih cepat. Ia melanjutkan cerita.

Abi memelihara dua anak kecil dalam diri persis seperti orang yang memelihara dua ikan dalam gelas air mineral. Satu anak ikan emas dan satunya anak ikan cupang. Jika satu ikan mati, maka Abi masukkan lagi ikan baru dari jenis yang sama.

Itu adalah cara aneh untuk menyiksa dua ekor ikan dalam wadah yang memang disiapkan sebagai arena ikan untuk saling bertempur. Seaneh anak kecil yang bercita-cita menjadi wali dan di saat yang lain harus berhadapan dengan kenyataan.

Jika Umi berani menyimak cerita Abi, jadilah serupa air saja.

Ada jeda sunyi sesaat sebelum ia melanjutkan ceritanya.

Mungkin Umi tidak akan terlalu percaya—atau meragukan dengan sembunyi-sembunyi. Persis seperti ketakpercayaan Umi dengan kemungkinan meilhat penampakan seekor naga yang terbang di langit saat sore hari, atau hujan yang jatuh ke atas.

Tapi, itulah masa kecil dan itu Abi. Masa kecil Abi adalah milik Abi dan masa depan adalah juga milik Abi yang lain. Semua hanya soal waktu dan tempat. Selebihnya tak ada bedanya.

Sekali lagi mungkin Umi tidak akan percaya jika Abi ceritakan secara detil.

/2/

Kau tak menghiraukan kalimat terakhirnya.

Kalimat-kalimatnya yang dalam kini kembali mengalir.

Ia bercerita tentang masa kecilnya di keluarga yang bernasab bagus. Konon kakeknya adalah imigran dari Kerajaan Bone. Karena terjadi konflik antara para keluarga-keluarga bangsawan dalam hal perebutan kekuasaan, buyutnya memilih pergi dari kerajaan dan bergerak ke Kerajaan Otonom terdekat untuk mengungsi. Buyutnya dan rombongan akhirnya datang ke Kerajaan Polongbangkeng.

Bersama para prajurit dan orang-orang kepercayaannya, serta tanaman jambu, mangga, rambutan, langsat, rumbia, ia meninggalkan kerajaan yang begitu dicintainya.

Dari informasi generasi sebelumnya, buyutnya dianggap  seorang ulama dan orang yang menyenangi pengetahuan.

Waktu berlalu dan buyutnya bahkan dianggap wali oleh generasi-generasi setelahnya. Namanya harum sebagai orang yang berilmu dan memberi kebaikan. Mendengar cerita-cerita itu akhirnya ia sedari kecil bermimpi menjadi wali. Seperti buyut yang sangat diidolakannya itu.

/3/

“Apakah kau masih ingin menjadi wali?” serumu.

“Entahlah. Tak ada wali di zaman ini. Aku lebih cocok jadi suamimu saja.”

Mukanya terlihat lega. Kau pun ikut lega. Setidaknya kau tahu apa yang tidak ditahu orang lain kalau suamimu pernah bercita-cita menjadi wali. Bukannya pilot, dokter, politikus, polisi atau pengusaha.

Antara menahan tawa, kagum dan rasa tak percaya, akhirnya suamimu membagi apa yang ada dalam pikiran kanaknya. Seketika suasana menjadi cair.