Pekan lalu ketika sedang mengantri di penjual ikan, saya melihat dua anak usia sekitar 10 tahun, bersepeda. Mereka berhenti di dekat kami, memarkir sepeda mereka, lalu keduanya menuju ke selokan di dekat kami. Salah satu anak menjulurkan tongkat yang ujungnya berjala ke selokan, mencoba menangkap ikan. Rupanya mereka mendapat beberapa. Ikan yang tertangkap di jala mereka masukkan ke plastik yang berisi air, yang mereka bawa sebelumnya. Dua kali mereka menjala, lalu setelah itu mereka pergi.

“Harusnya anak-anak bermain seperti itu,” celetuk seorang ibu yang juga sedang mengantri. Saya mengiyakan. Lalu kami terlibat percakapan singkat tentang ‘tantangan orang tua jaman sekarang yang seragam: anak kecanduan gadget’.

Anak-anak tidak bisa lepas dari gawai, sejak bangun tidur, sampai mau tidur lagi. Kotak kecil itu seperti menyihir mereka, sehingga waktu mereka habis digunakan untuk ‘main game’. Eh.., tapi sebentar, benarkah ini semata-mata kesalahan anak-anak?

Tiba-tiba saya teringat serial televisi Super Nanny, reality show tentang seorang pengasuh anak yang dimintai tolong oleh keluarga-keluarga yang menghadapi masalah dalam pengasuhan anak. Hebatnya, di hampir setiap episode-nya, Super Nanny bisa menemukan bahwa ujung dari kenakalan anak adalah orang tua yang bermasalah. Entah karena orang tua yang selalu mencela anak, terlalu galak, atau sebaliknya, tidak tegas. Intinya, masalah anak (biasanya) bermula dari orang tua yang bermasalah. Dalam hal anak yang tidak bisa lepas dari gawai, saya kira ‘teori’ Super Nanny relevan juga.

“Anak-anak ini memang tidak bisa pisah dari HP, main game saja kerjaan mereka”. Hm, apakah kita juga tidak demikian? Coba kita catat apa yang kita kerjakan sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi. Bangun tidur, langsung melihat HP, bekerja sebentar (itupun juga sambil sesekali lihat HP), lalu berapa jam sisanya kita di depan layar HP? Kalau kita catat, barangkali kita akan terkejut mendapati jumlah jam yang kita gunakan untuk ‘berkegiatan di depan layar HP kita’.

“Tapi saya buka HP karena pekerjaan”. Yakin semua kegiatan membuka HP ada urusan dengan pekerjaan? Berapa persen yang berurusan dengan pekerjaan dan berapa yang tidak? Memang tidak semua kegiatan ‘pegang HP’ sifatnya hura-hura, tetapi saya dapat perkirakan, lebih banyak orang tua yang juga tidak bisa lepas dari smartphone mereka, dan sebagian besar urusannya adalah setara dengan ‘main game’ anak-anak kita, entah itu buka WA, FB, atau youtube. Bisakah orang tua yang ‘main game’ melarang anak-anaknya untuk tidak main game? Walk the talk!

Sikap mendua lainnya adalah ketika kita merindukan anak-anak main di alam (seperti komentar kami pada dua anak yang mencari ikan pada saat kami antri di penjual ikan seperti saya ceritakan di awal tulisan ini), sementara di sisi lain, sejak awal sikap kita tidak mendukung. Saat anak-anak kita kecil, dan mereka main di alam, main hujan, main di tanah becek, jalan-jalan di halaman tanpa alas kaki, masih ingat komentar kita? Sebagian dari kita akan melarang.

“Jangan hujan-hujanan, nanti sakit”.

“Kalau ke luar rumah pakai sandal, dong, nanti kakinya kotor”.

“Hati-hati kalau jalan, itu tanah becek, nanti kotor baju dan celanamu, kecipratan lumpur”.

Lalu tiba-tiba sekarang kita berharap anak yang kita besarkan dengan cara seperti itu menjadi anak-anak yang senang main di luar rumah? Menginginkan mereka bermain seperti dua anak bersepeda yang menangkap ikan di selokan itu? Lalu merasa heran ketika mendapati anak-anak kita takut ulat, jijik sama kecoa? Sikap yang membingungkan, bukan?

Konon, cara yang efektif untuk memisahkan anak-anak dari gawai adalah menciptakan kegiatan saingan. Bukan dengan kalimat berawalan “Jangan”. Salah seorang teman bercerita bagaimana anak-anaknya bisa sedikit lepas dari gawai, ya karena hampir setiap hari punya kegiatan di sela-sela waktu sekolah mereka. Belajar musik, ikut kelas taekwondo, dan les robotik. Di masa pandemi ini memang kelas-kelas tersebut terhenti, sehingga mereka menggantinya dengan bersepeda dan memasak bersama di rumah.

Selain kegiatan yang dirancang khusus untuk menyibukkan mereka, melibatkan anak dalam pekerjaan rumah tangga (seperti: mencuci piring, menyapu, mengepel, menyeterika) juga baik dilakukan. Bukan hanya mengurangi ‘jatah waktu’ bergawai mereka, kegiatan-kegiatan itu juga bagus sebagai life skill untuk bekal mereka nanti ketika saatnya harus mandiri. 

Cara terakhir yang bisa dicoba untuk menjauhkan anak dari gawai adalah dengan membatasi penggunaan jaringan internet di rumah, yang berlaku untuk semua anggotanya. Termasuk ayah dan ibu. Mengapa? Ini akan memberi sinyal rasa keadilan pada anak. Jika orang tua juga menunjukkan bahwa mereka tidak menghabiskan waktunya dengan gawai, anak akan menirunya. Konon anak-anak adalah peniru ulung orang tua mereka, dan contoh langsung adalah nasihat yang paling manjur.