Seorang anak memang dilahirkan dari rahim seorang ibu dan didampingi seorang ayah. Orang tua diberikan karunia oleh Tuhan untuk memelihara, membesarkan, dan membimbing anaknya sehingga mengenal dunia dan siap untuk hidup mandiri saat dewasa. 

Namun, bukan berarti orang tua berkuasa penuh atas hidup anaknya dan boleh memaksakan kehendak kepada anak-anaknya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, seberapa sering kita mendengar cerita tentang orang tua yang memaksa anak untuk menekuni profesi tertentu demi memenuhi ego orang tuanya? Misalnya anak seorang dokter harus menjadi dokter; anak seorang pengusaha harus menjadi pengusaha; dan beragam profesi lainnya dengan cerita yang serupa.

Setiap anak adalah seorang manusia yang unik dan tiada duanya di dunia. Tuhan telah menitipkan bakat tertentu pada diri setiap anak, meski bakat ini harus kita gali sendiri untuk mengetahuinya. Seandainya di dunia ini ada satu miliar anak, maka akan ada satu milyar manusia yang unik dengan bakatnya masing-masing.

Oleh karena itu, orang tua diberikan kesempatan untuk membantu anak supaya mengenali dirinya sendiri. Alih-alih memaksa seorang anak menekuni profesi tertentu karena faktor ekonomi, keturunan, gengsi, atau faktor lainnya.

Orang tua sebaiknya membantu anak untuk mengenali bidang apa yang tidak bisa dilakukan dan bidang apa yang bisa dilakukan dengan mudah oleh anaknya. Dengan modal ini, orang tua dapat lebih mudah mengarahkan anaknya untuk lebih mendalami bidang yang bisa dilakukan oleh anaknya, belajar langsung kepada ahlinya, bahkan bersekolah sampai ke luar negeri untuk menekuni bidang tersebut sampai menjadi ahli.

Lalu bagaimana nasib masa depan anakku kalau mengikuti bakatnya?

Faktor masa depan inilah yang sering dijadikan kambing hitam oleh orang tua untuk memaksa anaknya menekuni bidang atau profesi tertentu. Secara psikologis, orang tua merasa lebih nyaman apabila anaknya menekuni profesi tertentu karena tahu dengan pasti bahwa profesi tersebut mampu menghasilkan uang yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan hidup anaknya di masa depan.

Tenang saja, kita sebagai orang tua tidak perlu merasa terlalu khawatir karena setiap orang di dunia ini pasti bisa menghasilkan uang di dalam hidupnya selama dia menguasai minimal satu bidang keterampilan di antara jutaan bidang yang tersedia di dunia ini. Izinkan saya mengutip kata-kata Bruce Lee, “Saya lebih takut menghadapi seseorang yang menguasai satu jurus yang dilatih seribu kali daripada seseorang yang menguasai seribu jurus yang dilatih satu kali saja.”

Kalau anak kita menguasai bidang koreografi, bimbinglah dia menjadi koreografer terbaik di Indonesia, bahkan terbaik di dunia. Kalau anak kita menyukai melukis, ajaklah anak untuk belajar kepada pelukis terbaik di dunia. 

Dengan membimbing anak menjadi yang terbaik di bidangnya, apakah kita sebagai orang tua masih khawatir tentang masa depan anak sampai tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri?

Tentu saja, pendidikan formal tetap memiliki peran penting untuk diajarkan kepada anak, namun jangan memaksa anak untuk menjadi yang terbaik di semua bidang mata pelajaran. Ajarkan semua bidang pada anak, lalu bimbing anak untuk menguasai satu bidang yang paling mereka sukai dan kuasai.

Bukankah di sekolah menengah, satu orang guru hanya mengajar satu mata pelajaran saja? Kalau seorang guru saja tidak mampu menguasai seluruh mata pelajaran, bagaimana mungkin kita hendak memaksa anak untuk menguasai seluruh mata pelajaran?

Pernahkah kita membayangkan apabila Rudi Hadisuwarno dipaksa ibunya menjadi ahli matematika, seorang Ayu Ting Ting dipaksa ibunya menjadi akuntan, atau seorang Rudi Hartono dipaksa ibunya menjadi ahli komputer?

Seorang Rudi Hadisuwarno dikenal masyarakat Indonesia karena ahli menata rambut, Ayu Ting Ting dikenal masyarakat Indonesia karena ahli menyanyi dangdut, Rudi Hartono dikenal dunia karena ahli bermain bulu tangkis. Seseorang yang ahli di bidangnya masing-masing pasti akan dikenal dunia dan tentu saja uang akan mengikuti ke manapun dia pergi.

Oleh karena itu, mari kita ajarkan sebanyak-banyaknya bidang pada anak kita lalu bimbing anak untuk menguasai satu bidang yang paling dikuasai dan paling disukainya. Masa depan anak pasti terjamin, orang tua menjadi bahagia, dan anak juga bahagia menjalani hidupnya karena pekerjaan paling mudah di dunia adalah melakukan hal yang kita sukai dan tentu saja dibayar mahal.

Baiklah, mulai saat ini mari kita bimbing anak-anak kita untuk memenuhi misi hidupnya sesuai dengan bakat yang Tuhan titipkan dalam diri mereka, bukan untuk memenuhi misi hidup orang tuanya. Karena anak adalah seorang manusia merdeka yang berhak untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Tugas kita sebagai orang tua adalah mendampingi anak dari kecil sampai mereka siap untuk menjalani kehidupan mereka sendiri. 

Selamat menjadi orang tua hebat yang berani memberikan kehidupan merdeka untuk anak-anak kita.