Penulis
1 tahun lalu · 702 view · 5 min baca menit baca · Keluarga 98549_70161.jpg
shutterstock

Anak Dijejali Buku, Medsos Referensi Ortu

Mengenalkan budaya literasi pada anak membutuhkan contoh nyata orang tua

"Memang apa salahnya menyebarkan info dari twitter ustadz itu, toh pasti buku yang beliau baca lebih banyak dari pada kamu," kilah seorang teman ketika diingatkan lebih baik membaca buku daripada mengambil informasi yang berasal dari sumber anonim atau orang-orang yang bukan ahlinya.

Ustadz tersebut membahas mengenai demokrasi yang tak tepat, khilafah solusinya. Seolah demokrasi dan Islam tak bisa mempunyai titik temu. Dimaklumi saja, seleb twitter yang dianggap guru agama itu tidak mempunyai latar belakang mengenai ilmu politik dan pemerintahan.

Banyak orang yang mempercayai Ustadz Seleb Medsos ini, termasuk teman saya,  dan mengabaikan argumen-argumen pakar politik yang benar-benar ahli dan telah menelurkan banyak buku di bidangnya. Bahkan keterangan guru besar di bidang tata negara dari kelompok Islam seperti Mahfud MD pun tak bisa membuat mereka yakin. Seperti yang dikutip dari kolom Mahfud MD di Koran Sindo, demokrasi menjadi ijtihad para ulama yang kemudian diterima sebagai mistsaqon ghaliedza atau kesepakatan luhur di Indonesia memberi jaminan seluruh bangsa untuk beribadah dan menyalurkan aspirasi politik secara gotong royong.

Rasanya tak ada nilainya membaca banyak buku atau menuntut ilmu setinggi mungkin bila lawannya saklek berpegang teguh pada cuitan di Twitter atau posting-an di Facebook.

Namun persoalannya bukan itu. Minimnya kita belajar langsung dari buku yang dibuat berdasarkan kepakaran terganti dengan kegiatan bergulir dari sumber tak jelas dan klik kemudian dikopi lalu dipindahkan ke media sosial kita sudah menjadi kebiasaan. Voila, informasi simpang siur bercampur hoax menyebar dalam kecepatan cahaya.

Penganut paham "baca-sekilas-kopi-sebar" ini bukan berarti tak paham baiknya kebiasaan membaca buku dibanding media sosial. Mereka banyak yang mahfum betul bahwa buku adalah sumber ilmu. Terbukti, mereka semangat mengajari anak membaca buku sejak dini.

Misalnya, masih teman yang sama seperti di atas. Selain getol menyebar informasi sepotong-sepotong, dia juga gemar mengajak para orang tua membiasakan anak-anak mencintai buku sedini mungkin. Yang terakhir ini tentu bagus, hobi membaca buku memang perlu dipupuk sejak kecil.

Semangat mendekatkan si kecil dengan buku berkualitas kadang kala disertai dengan menghadirkan paket buku seharga jutaan rupiah. Mereka bahkan sampai rela mengikuti arisan buku dengan menyisihkan ratusan ribu setiap bulan demi buku anak impian. Tak hanya itu, agar anak kian suka membaca, orang tua juga membelikan boneka robot harga jutaan yang bisa mengaji. Alasannya, dari pada bermain gadget lebih baik membaca buku.

Usai melihat anak bermain boneka sambil belajar membaca, orang tua kembali menghadap gawai berselancar di media sosial dan mengunggah foto sang buah hati yang sedang membaca. Tak lupa postingan disertai tagar #yukbacabuku , #saynotogadget. Setelah itu, kembali melakukan kegiatan "baca-sekilas-kopi-sebar" dan tak jarang mengunggah informasi tak benar.

Suatu ketika dia membagikan unggahan video yang memperlihatkan laki-laki dewasa yang nampak seperti Presiden Amerika Donald Trump. Dalam video itu, Trump  sedang merengek-rengek di tempat bermain anak. Keterangan yang ditulis menggambarkan betapa memalukannya Donald Trump, seperti orang mabuk dan sangat kekanakan. Nyatanya video itu merupakan parodi yang dibuat Comedy Central. Gambar asli beresolusi tinggi, tapi entah apa niatnya mengunggah dengan resolusi rendah.  Di waktu lain, dia ikut menyebarkan hoax lintah dalam kangkung yang menimbulkan kepanikan pada sebuah grup Whatsapp.

Kontradiksi ajakan membaca buku dan menghindari gadget ini bukan hanya terjadi di satu atau dua orang. Banyak orang tua yang menjejali anak-anak dengan buku seharga jutaan rupiah sedangkan dirinya hanya mengunakan media sosial sebagai bahan referensi.

Menjauhkan anak dari gawai dan mendekatkan pada buku memang baik, tapi bukankah orang tua perlu memberi contoh langsung di depan si kecil. Anak merupakan peniru ulung orang terdekatnya. Buku seharga jutaan rupiah tak akan berhasil bila orang tua juga tak gemar membaca.

Literasi Keluarga Perlu Contoh Nyata 

Peribahasa mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Anak tumbuh tak jauh berbeda dengan orang tuanya. Orang tua menjadi role model bagi anak di awal kehidupannya. Jika orang tua suka membaca, anak akan menunjukkan hobi yang sama.

Banyak orang tua yang sudah mahfum bahwa mengenalkan buku sejak dini mempunyai keuntungan hingga besar nanti. Departemen Pediatri, Fakultas Kedokteran Universitas New York mengeluarkan riset terbaru yang berjudul Early Reading Matters: Long-term Impacts of Shared Bookreading with Infants and Toddlers on Language and Literacy Outcomes. Isinya mengenai kebiasaan membacakan buku sejak dini dapat meningkatkan kemampuan mengenal kosa kata dan bisa membuatnya gemar membaca ketika beranjak dewasa.

Namun ternyata mengenalkan anak dengan buku tak disertai dengan membiasakan diri sendiri membaca buku. Padahal, orang tua yang terlalu sibuk dengan gadget menyebabkan anak tumbuh dengan perilaku buruk. Dilansir dari laman online Boldsky, penelitian yang dihasilkan dari  University of Michigan dan Illionis State University menyatakan jika orang tua terlalu sibuk dengan gawai, anak akan memiliki perilaku mudah marah, kurang ramah, dan kurang memiliki sopan santun.

Karena itulah, daripada mencari referensi di media sosial, orang tua sebaiknya mengalihkan sumber pengetahuan dari buku. Anak dan orang tua yang suka membaca buku akan membentuk kebiasaan literasi dalam keluarga. Ini tak hanya membuat anak berlatih berpikir kritis dan mampu menemukan solusi tetapi juga mendorong orang tua menjadi pembelajar sepanjang hayat. Orang tua dan anak sama-sama belajar untuk menyaring informasi dusta atau hoax.

Buku Konvensional Tak Tergantikan

Kita pasti sepakat bahwa membaca buku memiliki banyak manfaat bagi anak-anak maupun orang dewasa. Tak hanya menambah wawasan, membaca buku memperbanyak kosakata, mempertajam, ingatan dan kemampuan analisis.

Buku tak hanya menjadi sumber informasi dan ilmu tetapi juga menjadi pengikat agar tak dilupakan dan bisa dilanjutkan ke generasi berikutnya. Buku yang dari lembaran-lembaran kertas menyatukan ilmu pengetahuan dan informasi yang berserakan dan dapat dipelajari demi kemajuan peradaban manusia.

Seiring dengan perkembangan tekonologi, orang mulai beralih membaca buku melalui layar komputer atau gawai. Alasannya paperless, lebih mudah dibawa dan tak terlau banyak makan tempat. Begitu pula untuk anak-anak. Buku eletronik untuk anak dinilai lebih atraktif dan menarik minat si kecil membacanya.

Toh nyatanya e-book tetap tak bisa menggantikan buku konvensional dalam menyampaikan pengetahuan. Diambil dari portal Mental Floss, penelitian West Chester University menunjukan pembaca buku elektronik kesulitan mengingat alur cerita dan memahami isinya karena cenderung melompati teks. Ini jarang ditemui pada pembaca buku konvensional.

Memandang layar komputer atau gawai juga membuat mata dan otak cepat lelah. Sebuah studi dari Harvard University mengemukakan membaca buku eletronik  sebelum tidur menyebabkan produksi melatonin berkurang sehingga sulit tertidur. Sinar LED dari gawai membuat tidur menjadi tak berkualitas. Padahal anak membutuhkan waktu tidur yang cukup di masa pertumbuhannya.

Sebaliknya, membaca buku konvensional justru membuat tidur lebih nyenyak. Aktivitas membalikan lembaran kertas dan melihat huruf-huruf berjajar rapi mampu mengalihkan orang dari stres dan membuat cepat mengantuk. Karena itulah, membacakan buku cerita sebelum si kecil tidur sangat dianjurkan.

Alhasil, membaca buku yang terdiri dari jilidan kertas-kertas masih tak bisa tergantikan dengan buku yang berbentuk elektronik. Apalagi dengan hasil tulisan di media sosial yang sangat jauh di bawah kualitas sebuah buku. Membaca unggahan media sosial justru membuat stres, galau, tertekan, dan emosional. Alih-alih mendapatkan informasi, kita malah bisa makan hati.

Jadi jangan berharap anak-anak menjadi generasi pecinta buku bila kita masih menggunakan media sosial sebagai bahan referensi ilmu. 

 

Artikel Terkait