Area taman Dukuh Atas seakan menjadi panggung peragaan busana bagi ratusan remaja yang datang dari wilayah penyangga Jakarta seperti Depok, Tangerang, Bekasi dan Citayam. Dengan padu padan bertema Street Fashion, mereka memenuhi ruang publik kawasan bisnis ini. 

Fenomena unik ini pun melahirkan istilah Catayam Fashion Week di kalangan warga net. Kini banyak warga yang datang justru untuk menonton tingkah polah para remaja dari pinggiran Jakarta itu.

Bonge, seorang laki-laki yang sering seliweran dalam banyak konten belakangan ini, dandanannya yang nyentrik jadi perhatian. Cerita-cerita manisnya dengan Kurma mungkin dapat membuat orang tersenyum dan sepintas mengingatkan kita pada sosok Radit dan Jani. 

Konten-konten yang ada Bonge-nya selalu punya engagement yang tidak main-main. Bonge tidak sendirian, ada banyak anak muda yang jadi perbincangan di internet. Mereka ekspresif, Dukuh atas menjadi lokasi nongkrongnya. Dan mayoritas berasal dari pinggiran Jakarta, dari Bojonggede, Bekasi hingga Citayam.

Persoalannya, tidak semua merasa cocok dengan kegiatan muda-mudi ini. Pihak kepolisian sempat memberikan warning diantaranya memberi batas waktu remaja untuk nongkrong di kawasan itu adalah Jam 22.00 WIB, jika mereka masih di lokasi itu sampai melewati batas maka akan dibubarkan petugas. 

Di luar Dukuh Atas yang tiba-tiba disulap seperti catwalk, ada hal lain yang tidak kalah menarik untuk dibahas yaitu “Kebutuhan Ruang Publik”. Dalam perjalanan menuju Dukuh Atas, aksesnya mudah dijangkau dan biasa menjadi hak para pekerja urban ke kantor-kantor yang lokasinya ada di Sudirman.

Namun sejak Pemprov DKI Jakarta memutuskan membangun Dukuh Atas sebagai kawasan berorientasi transit semua perlahan berubah. Seketika kawasan ini menjadi ruang publik yang ramai didatangi. Ada terowongan yang artsy, pedestrian yang lebar dan yang menarik bisa melihat gedung-gedung pencakar langit.

Ruang publik adalah hal yang penting bagi kota dan warganya, masalahnya tidak semua ruang public benar-benar hadir untuk semua publik. Zenevia Toloudi, dosen arsitektur di Dartmouth College mengatakan, di Los Angeles AS ada kesenjangan akses ruang publik di permukiman orang Hispanik dan Afro-Amerika dengan permukiman kulit putih dan ini berhubungan dengan kesenjangan akses ruang publik di pinggiran dan pusat Jakarta.

Fenomena warga Citayam dan pinggiran lain marak di Dukuh Atas, membaca melalui analisis Gregory Smithsimon, akademisi dari University of New York yang mengajar sosiologi urban, dalam risetnya ia berkata “pembangunan di kawasan pinggiran kerap menihilkan eksistensi ruang publik seperti taman atau pedestrian bahkan untuk hal-hal yang basic seperti trotoar saja kerap luput dari perhatian”.

Melihat Depok dengan area pedestriannya hanya sebatas Margonda, ada upaya untuk memperbaiki, ada alun-alun, namun apakah hal ini cukup untuk mewadahi semangat dan ekspresi anak muda? Daerah luar jalanan Margonda di Depok seperti Citayam atau Bojong Gede yang masuk Kabupate Bogor dan yang tidak di dapat di daerah-daerah tersebut bisa dijumpai dengan mudah di Sudirman. 

Di TikTok, kita menemukan konten-konten ruang publik urban dari kawasan Sudirman, namun bukan ruang publik seperti layaknya taman, tapi jalan dan trotoar di tengah lanskap gedung dan jalan layang yang membuat mereka menjadi bunga Jakarta.

Menurut Devie Rahmawati, pengajar komunikasi sosial dari UI “Kita ini masyarakat hierarkis, Jakarta yang sudah elit, itu juga ada hierarkinya, yang dianggap paling kota di antara orang kota adalah Jaksel, namun mengapa anak-anak tersebut tidak pergi ke Jaksel, sederhana, karena tidak mempunyai akses”. 

Anak-anak muda ini ingin menjadi bagian dari kebesaran Jakarta. Dari sini kita dapat menarik benang merah betapa besarnya effort Bonge dan anak-anak muda suburban lainnya untuk mendapatkan hak mendasar mereka sebagai masyarakat urban, pemenuhan ruang publik. 

Mereka harus menempuh perjalanan nyaris dua jam menggunakan transportasi publik untuk sampai ke jantung Ibu Kota. Hal tersebut sebenarnya dapat diantisipasi apabila ruang publik merata pembangunannya. 

Mal dan kafe memang tumbuh menjamur akan tetapi makanan di sana juga membutuhkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Ironisnya sudah sampai Jakarta mereka dihadapkan dengan warning polisi dan shaming dari warganet yang menganggapnya alay. 

Daya tarik kawasan jalan Jenderal Sudirman, dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langitnya seakan menjadi magnet bagi banyak remaja untuk berlomba-lomba membuat konten sosial medianya. Fenomena Citayam Fashion Week di Ibu Kota tak lepas dari sosial media, kehadiran ratusan remaja berkerumun di trotoar mengganggu lalu lalang pejalan kaki

Geger Street Fashion yang terjadi di kawasan Sudirman ini, memiliki arti penting penggunaan ruang publik untuk interaksi dan aktualisasi diri bagi semua kelas. Namun tentunya penggunaan ruang publik pun harus bertanggungjawab karena kerap kali para remaja ini menimbulkan kerumunan di trotoar yang bisa mengganggu lalu lalang para pejalan kaki lainnya.