Makhluk manis yang bernama perempuan, jika mempunyai masalah, ia tak akan sanggup menyimpannya sendiri. Tentu ia akan menceritakan atau curhat kepada kawannya. Kawan tempat curhat bukan sembarang kawan, tapi kawan yang tentunya dapat dipercaya dan bisa menjaga rahasia. Iya, layaknya menjaga rahasia hatimu di hatiku. Eak.

Semasa kuliah, ada seorang kawan yang ingin menceritakan suatu ketakutan yang ia rasakan selama ini. Awalnya ia tak berani dan bahkan malu untuk bercerita kepada saya. Saya tak memaksanya dan saya akan mendengarkannya ketika ia bersedia. Apalagi perihal itu katanya tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Seiring berjalannya waktu, dengan sendirinya ia menemui saya di kos tercinta untuk menceritakan perihal yang ia rasa. Karena ia sudah memercayai saya untuk mendengarkan curhatannya, tak henti-hentinya saya mengajukan pertanyaan. Uhhh, kepo banget sih. Sehingga dengan mendengarkan curhatannya saya menyimpulkan bahwa ia adalah wonderwomen.

“Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ketika kelas VII SMP, ayah dan ibu berpisah, untuk kata kasarnya, yaitu bercerai. Suatu keputusan yang tak pernah masuk dalam list impian. Rasanya sangat sakit dan hati saya begitu terpukul. 

Saat itu saya tidak tahu apa alasan ayah dan ibu mengambil keputusan berpisah. Alasan itu sekarang sudah saya ketahui, ternyata ayah lebih memilih hidup bersama dengan mantan pacarnya ketika SMA,” ungkapnya sambil menyeka air mata yang hampir jatuh ke pipi.

Idih, ternyata pelakor laris manis juga ya semenjak dulunya. Seberapa menarik sih si benalu perusak rumah tangga itu?

Perempuan mana saja bisa jadi pelakor. Untuk itu, mak-mak kudu berhati-hati dan tetap menjadi istri yang bisa membahagiakan suami.

“Saya pernah menyampaikan kepada ibu, bahwa saya tidak ingin menikah. Saya tidak percaya dengan yang namanya laki-laki. Apalagi jatuh cinta, tidak akan! Toh, saya bisa hidup tanpa laki-laki. Saya bisa berjuang sendiri untuk biaya kuliah dan kebutuhan ibu. Saya masih bisa. Apakah keputusan ini salah menurutmu?” sambungnya dengan mengajukan pertanyaan kepada saya.

Perceraian itu tampaknya adalah mimpi terburuk dalam hidup teman saya. Tanpa disadari, ternyata ia bersikap egois pada dirinya sendiri. 

Dilihat dari kesehariannya, ia adalah perempuan ceria dan fine fine aja dalam menjalani hidup. Eh, di balik itu, ternyata ia menyimpan mimpi buruk yang entah kapan akan terhapus dalam ingatannya. Sehingga tak salah Geisha kalau melagukan, “Hilangkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia...”

Jelas sekali teman saya itu tidak butuh pasangan. Benarkah? Mungkinkah hal ini terjadi karena selama ini ia tidak mendapatkan contoh pernikahan yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Seolah ia tidak membutuhkan orang lain karena sudah terbiasa menjalani kehidupan dan mengatasi masalah sejak kecil dengan sendirinya. 

Begitu besar imbas perceraian kepada anak. Tidak hanya berimbas saat anak kecil, tapi juga berimbas hingga anak sudah beranjak dewasa.

Bersumberkan dari Republika, berdasarkan data dari Dirjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung pada periode 2014-2016, perceraian di Indonesia trennya meningkat. 

Pada tahun 2014, terjadi 344.237 perceraian, hingga tahun 2016 naik menjadi 365.633. Jadi rata-rata angka perceraian naik 3 persen setiap tahunnya. Tentunya tren ini kudu dimusnahkan. Agar tidak ada hati yang terus terlukai. Hufh tahu nggak sih, sakitnya tuh di sini.

Keluarga adalah bagian terpenting dan awal pembentukan kematangan individu dan struktur kepribadian. Konflik yang terjadi antara orang tua yang berujung perceraian akan membuat anak-anak terluka secara batin hingga terganggunya psikis. 

Rasa tak aman, rasa tak nyaman, rasa minder dalam bergaul menjadi sebuah momok yang tak pernah diinginkan terus gentayangan dalam kehidupan. Sehingga karena kurangnya perhatian dan kasih sayang banyak anak broken home yang melakukan kejahatan bahkan hingga keluar masuk penjara. Walaupun tak semuanya sih. Tapi tetap aja hati mereka pernah terluka dan trauma atas keputusan petaka itu.

Pernikahan bukan hanya soal ‘selangkangan’, tapi bagaimana bersabar terhadap tanggung jawab dan mencurahkan perhatian. Tentunya perhatian yang tidak hanya terpusat kepada ‘selangkangan’, namun juga kepada anak dan keluarga yang begitu sangat menginginkan keutuhan.

Judith Wallestein, seorang psikolog sekaligus peneliti, menyatakan bahwa dampak puncak dari sebuah perceraian pada anak itu datang pada 15-25 tahun kemudian, tepat ketika anak broken home mulai menjalani hubungan spesial yang serius. Mereka menilai kalau hubungan itu pun gagal.

Dampak itu memang nyata adanya. Seorang juniorku sewaktu SMA bercerita bahwa ia tidak pernah percaya diri hidup dalam keluarga broken home. Terkadang ia merasa cemburu kepada mereka yang memiliki keluarga utuh, keluarga bahagia.

Menjadi anak broken home itu sangat menyakitkan. Namun di balik itu ada hikmahnya. Tuhan mengajarkan untuk hidup mandiri dan tak lemah. Belajar menguatkan hati dalam kerapuhan. Belajar menyelesaikan masalah dengan sendiri. Belajar menenangkan hati dalam kesedihan.

Kala ada hati yang hendak memautkan, kala itulah rasa percaya diri menyangkal, tahap awal kembali mengusik rasa tak nyaman. Namun di sisi lain batin juga menginginkan masa depan yang membawanya keluar dari fragmen yang penuh kebimbangan.

“Kadang saya pernah berpikir, apakah pendamping saya kelak dapat menerima diri ini yang tidak memiliki kelebihan? Apakah ia akan menerima dengan tulus? Apakah keluarganya bisa memahami keluarga saya? Atau justru malah menolak dan tidak merestui?” tanya junior saya tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan.

Ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan oleh anak broken home akibat dari perceraian. Ada hal yang perlu mereka ketahui bahwa mereka berhak untuk hidup bahagia. Mereka berhak jatuh cinta, mencintai dan dicintai. Tetap syukuri hidup ini, bahwa di luar sana masih banyak yang memiliki kisah hidup yang lebih menyeramkan daripada film horor.

Memang tidak semua anak broken home melalui kesulitan ini. Namun tetap saja masa lalu yang suram jangan jadikan alasan untuk stagnan dalam titik keterpurukan dan kesedihan.

Anak broken home adalah pejuang istimewa yang mempunyai kekuatan lebih daripada anak biasanya. Anak broken home sudah terbiasa mendengarkan ocehan dan image miring tentang keluarganya. Di  sanalah kekuatan mereka, kekuatan untuk menahan diri dan tetap bersabar.

Bagi kamu yang sedang berjuang menaklukan cinta anak broken home, berikan mereka sebuah ruang dan jeda untuk membuka diri sehingga mendapatkan rasa nyaman secara alami. Bagi mereka untuk menjalin hubungan asmara kudu hati-hati.

Jika kamu mampu mengusir trauma masa lalunya, ada kemungkinan ia sangat menginginkan terjebak di perangkap tikus, eh di perangkap hatimu.