“Ustadz blokir saya di instagram, kah?” sebuah pesan masuk ke handphone saya dari nomor tidak dikenal.

“Maaf, ini siapa ya? Saya belum save nomornya,” balas saya.

“Ini Amar ustadz.”

***

Percakapan di atas terjadi ketika saya sedang dalam perjalanan ke luar kota. Dikirim oleh seorang anak didik di sekolah berasrama tempat saya bekerja dulu. Saya tidak menyangka akan dihubungi via chat begitu setelah berbulan-bulan kami tidak berkomunkasi sejak saya resign. “Kangen mungkin”, pikir saya.

Sekilas tentang Amar, dia adalah salah satu anak yang menonjol dalam hal pelanggaran peraturan baik di sekolah maupun asrama. Selain itu anak ini juga populer di kalangan murid-murid perempuan karena wajahnya yang rupawan.

Bak Casanova, jam terbangnya untuk hal percintaan juga tinggi.  Gampangnya dia adalah sosok f*ckboy, kalau istilah anak jaman sekarang. Merujuk pada cowok keren secara tampilan, tapi masih perlu pembinaan kelakuan.

Sebenarnya Amar adalah satu contoh dari sekian banyak model anak yang sering kita lihat sebagai anak yang bermasalah. Dari sekian banyak sesi curhat dengan anak-anak yang mempunyai kecendrungan yang kurang lebih sama, mereka sering menceritakan keadaan mereka ketika di rumah yang mengindikasikan kurangnya keharmonisan dalam hubungan orang tua-anak.

Masih menurut penuturan anak-anak tadi, penyebab mereka merasa memiliki hubungan yang buruk dengan orang tua ada bermacam-macam. Ada yang orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Ada yang orang tuanya selalu meremehkan kemampuan si anak. 

Ada yang orang tuanya berubah sikap setelah menikah lagi. Ada orang tua yang sering membandingkan dengan prestasi adik atau kakaknya. Sampai yang paling tidak dapat diterima adalah anak yang mengetahui orang tuanya selingkuh.

Anak-anak dengan beban masalah seperti ini tentu tidak merasakan yang biasa disebut “Rumahku, surgaku”. Jadilah surga mereka menjelma menjadi bentuk lain seperti nikotin, alkohol, perkelahian, atau pelanggaran lainnya. 

Setelah mengetahui hal ini, daripada menunjuk yang salah anak atau orang tua akan menjadi lebih bijak apabila para orang tua yang merasa anaknya bermasalah mulai melakukan perbaikan hubungan. Mumpung momennya tepat karena baik orang tua atau anak-anak sama-sama sering berada di rumah selama masa pandemi ini.

Akan tetapi, kiranya kurang tepat kalau saya menuliskan kiat-kiat bagaimana perbaikan hubungan orang tua-anak itu dilakukan. Di samping saya bukan expert dalam dunia parenting, saya juga belum menjadi orang tua. Maka ijinkan saya menceritakan pengalaman menjadi anak dari seorang bapak yang sudah menjadi orang tua yang ideal di mata saya.

Satu waktu ketika saya seumuran anak SD, bapak pernah berkata jika beliau memberi kebebasan kepada saya karena beliau percaya. Setelah memberi tahu hal tersebut, bapak menjelaskan bagaimana memakai kebebasan tersebut secara bertanggung jawab. Ternyata hal tersebut berdampak pada psikis saya. Jadi kalau mau aneh-aneh takut mengkhianati kepercayaan beliau.

Kemudian ketika saya menginjak umur remaja, bapak mengatakan hal yang sangat membekas untuk saya. Beliau berkata bahwa dari kecil tidak punya kesempatan untuk mendapatkan sosok orang tua yang bisa menjadi tempat curhat. Lalu bapak memberitahu bahwa beliau tidak ingin anak-anaknya merasakan hal yang sama.

Apa yang dikatakan bapak dulu berlaku sampai hari ini. Saya selalu cerita ke beliau tentang segala hal dari pekerjaan sampai percintaan. Dan bapak selalu mendengarkan. Tak jarang beliau sampai urun pikiran kalau saya sedang ada masalah.

Juga bapak dalam beberapa kesempatan menyampaikan  ke teman-teman beliau bahwa saya selalu menceritakan apapun ke beliau dan mungkin sedikit orang tua yang bisa mengobrol dengan anak laiknya teman sendiri. Saya yang mendengarnya secara langsung merasa seperti sedang dibangga-banggakan di depan teman-teman beliau.

Sebenarnya, proses bonding bapak-anak ini jika saya ingat-ingat sudah dimulai ketika saya seumuran anak TK. Seperti sejak kecil bapak selalu menuntun hafalan surat-surat pendek sambil tiduran di kasur. Ada lagi, bapak juga biasanya setiap minggu pagi mengajak bermain oper bola plastik. Mungkin itu ingatan dari puluhan tahun yang lalu, tapi ajaibnya saya masih ingat!

Bapak yang baik seperti yang saya diceritakan di atas bukan berarti tidak pernah marah. Waktu kecil justru kami anak-anaknya melihat beliau sebagai sosok yang galak. Karena sekali dua kali marah. Maklum anak kecil belum paham dan mungkin waktu itu marahnya beliau menjadi trauma bagi kami. 

Akan tetapi, semakin bertambah umur semakin saya menyadari bahwa bapak sudah tidak pernah marah lagi. Benar-benar memperlakukan saya dan anak-anak beliau yang lain secara wajar.

Tentang menyikapi kenakalan saya, bapak juga santai saja. Pernah ketika mondok rambut saya dipitak karena ketahuan kabur. 

Seperti biasa, saya ceritakan apa yang saya alami ke beliau. Hanya saja saat itu agak sedikit takut kalau akan membuat malu bapak karena saat itu beliau adalah pimpinan pondok. Ketika selesai bercerita dan melihat rambut saya yang bentuknya tak karuan beliau malah tertawa.

Akumulasi sentuhan-sentuhan kecil bonding dari usia belia sampai dewasa inilah yang membuat saya melihat beliau sebagai role model dalam hal parenting yang kemudian saya coba praktekkan ketika saya menjadi pengasuh asrama di suatu sekolah swasta.

Saya tidak mengatakan bahwa gaya pendekatan parenting yang dilakukan bapak saya adalah yang terbaik, karena saya yakin masing-masing orang tua punya cara mereka sendiri-sendiri. 

Akan tetapi, dengan pendekatan yang mungkin dilihat sudah yang terbaik itu apakah para orang tua sudah menjadi sosok sahabat yang merangkul, nyaman untuk tempat curhat, tidak menghakimi, dan selalu mendengarkan terlebih untuk anak yang kita sebut bermasalah?

Ada baiknya perkataan Gus Baha’ bahwa semua orang –termasuk anak-anak bermasalah -mempunyai potensi kebaikan kita resapi dalam-dalam. Mungkin pesan Cak Nun untuk selalu melihat sisi baik dari seseorang dapat kita tulis di catatan. 

Pun kita juga bisa mempraktekkan dawuh Gus Miek untuk melihat diri sendiri dengan kaca mata syariat dan melihat orang lain dengan kaca mata hakikat agar tidak mudah menyalahkan.

***

“Wah nak Amar, gimana kabar?” saya melanjutkan percakapan.

“Alhamdulillah ustadz,” jawab Amar dari seberang.

“Nak, ustadz ga ada blokir instagram. Instagram ustadz udah dihapus. Jadi semua yang follow ustadz pasti ga akan nemu akun ustadz,” saya coba menjawab rasa penasarannya tadi.

“Kirain ustadz blok saya gara-gara udah ga di sekolah lagi.”

“Hehe, engga nak. Facebook sama Instagram udah ga ada. Sekarang ustadz mainnya TikTok.”

Sesederhana itu menjadi teman mereka.