“Anak lanang (anak lelaki) kita koq pegang gawai terus ya? Bagaimana ini kita didik anak lanang agar melek digital tapi gak kecanduan gawai?”, ujar istriku. Wah 2 pertanyaan diborong dan saya pun kelabakan.

Kami berdua sadar bahwa saat ini dan ke depan, di era revolusi industri 4.0, literasi digital dan melek media merupakan salah satu syarat yang mesti disiapkan untuk generasi digital. 

# Kenali Generasi Alpha

Generasi yang dikenal dengan sebutan generasi alpha, yakni generasi anak-anak yang lahir di tahun 2010 sampai 2025. Mendidik generasi digital inilah yang sedang kami hadapi, senantiasa belajar kenali generasi alpha dan menemukenali pola pendidikan yang tepat.

Situasi pandemi COVID-19 ini telah memantik lompatan luar biasa terkait penggunaan teknologi digital dan perkembangan dinamika media sosial. Berbagai kejadian menjadi dengan mudah dan cepat tersebarluaskan, viral, bahkan warganet menjadi pengontrol kehidupan sosial di dunia maya.

Sisi positifnya, kita dapat menggunakan media digital untuk menjadi tempat bertanya, mencari tahu, dan belajar langsung dari ahlinya ahli, termasuk soal mendidik anak di era digital.

Anak zaman now (gen alpha) memerlukan pendekatan yang berbeda, saatnya orang tua menjadi teman digitalnya juga agar tetap dapat memantau dan anak dapat bercerita lebih leluasa.

Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah manajemen waktu. Berapa lama waktu yang dihabiskan di dunia (maya) digital versus dunia nyata merupakan tantangan tersendiri.

Sejumlah psikolog dalam berbagai digital parenting menyampaikan waktu maksimal anak-anak bermain gawai adalah dua jam. Karena anak-anak tetap perlu berinteraksi sosial dengan teman-temannya dan waktu istirahat yang cukup, sehingga tumbuh kembang dengan baik.

# Kompetisi Anak dan Ayah YouTuber?

Anak lelaki kami termasuk ke dalam generasi alpha yang senantiasa mabar (main bareng) teman-temannya, berbagai gim pada gawai. Selain itu, ternyata mereka juga kreasi edit video dan mempunyai akun YouTube kolaboratif.

Hasil edit video diunggah secara bergantian pada akun YouTube tersebut. Selain itu, mereka punya akun YouTube masing-masing. Interaksi anak lelaki kami dengan gawainya tetap kami pantau, terutama batasan waktu dan jenis gim yang dimainkannya.

Tiba-tiba saat saya dan anak lelaki kami duduk berdua di depan televisi, dia membuka akun YouTube dari gawainya. “Yah, berapa subscribers akun YouTube-nya Ayah?”, celetuk anak lanang yang sekarang duduk di bangku (virtual) kelas 5 SD.

Wah, berapa ya...langsung kubuka akun YouTube yang lama sekali tidak pernah kuisi dengan konten, terakhir video kuunggah 2 tahun silam. Setelah membuka akun YouTube tersebut, kujawab “Ayah punya 16 subscribers, emang anak lanang punya berapa (subscribers)?”

Spontan dia pun langsung menjawab, “Sekarang aku punya 28 subscribers, nambah 3 subscribers. Kemarin aku cek baru 25 subscribers. Oh ya, 2 hari lalu, aku unggah video lagi lho, Yah!”. Wah kalah telak ini, dari sisi jumlah subscribers dan konsistensi dalam mengisi konten YouTube.

Lalu, kubuka akun YouTube-nya dan dia membuka akun YouTube-ku. Kami saling cek ricek, berasa dimulai sesi kompetisi Ayah dan Anak Lanangnya. “Wah, koq bisa nyampe 1,9K viewer video 11 detiknya, Nak?”, ucapku.

Anak lanang pun kaget dan langsung melihat dengan cermat, “Yeaay..1,9K yang lihat, 51 yang likes dan ada 5 yang gak suka, tapi gapapa....”, ujar anak lanang sembari loncat kegirangan.

Naiknya penonton video tersebut merupakan dampak dari keberadaan YouTube Shorts. Fitur YouTube yang mewadahi video-video pendek, untuk para penggunanya di Indonesia, pada Jumat (23/7/2021). Fitur video pendek ini sekilas mirip TikTok dan Reels milik Instagram.

“Pantas saja, Nak, videonya banyak yang ngelihat”, sambungku begitu mengetahui adanya fitur tersebut. “Iya, Yah...yang penting akhirnya aku menang melawan Ayah, videoku disaksikan hampir 2000 kali”, jawab anak lanang.

Kemudian, anak lanang pun senyam-senyum sambil membagikan tautan video pendeknya ke status WA dan grup WA keluarga besar.

# Menyikapi Anak yang Bercita-cita Menjadi Youtuber

Tampaknya anak lanang semakin memantapkan diri bercita-cita menjadi YouTuber? “Yah, kapan ya bisa dapat uang dari YouTube?”, pertanyaan spontan dan sepertinya pertanyaan terpendamnya mulai diutarakan. Anak lanang pun bercerita penghasilan dari YouTuber yang dikenalnya.

Saya pun mulai tepok jidat dan mulai mengenang masa lalu, cita-cita yang rata-rata anak kelahiran tahun 1980an, menjadi insinyur, dokter, astronot, pilot, dan sejenisnya. Benar-benar jauh berbeda dengan anak-anak zaman sekarang dimana cita-citanya terinspirasi lingkungan digitalnya.

Menyikapi hal tersebut, saya dan istri senanti berpesan pada anak lanang, silahkan berkreasi dan menemuki hobi atau kegemarannya, tetapi jangan lupa tetap imbangi doa, ibadah, dan waktu untuk belajarnya.

“Siap laksanakan, Ayah dan Bunda, ku izin lanjut edit video ya. Mau unggah video lagi biar bertambah subscribers dan likes-nya”, jawab anak lanang. Waduh, kompetisi dimulai kembali dan saya mesti putar otak mau buat konten YouTube apa ya?

Saya pun teringat sabda Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari kakek Ayub Bin Musa Al Quraisy, “Tiada satu pemberian yang lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran yang baik.”

Sebagai seorang ayah bagi anak generasi digital, saya senantiasa belajar memberikan pengajaran yang baik melalui pendampingan saat dia bermain gim dan video.

Mulai dari sekadar bertanya gim apa saja yang dimainkan dan bagaimana capaiannya, dan mencari tahu hasil kreasi edit video dan makna unggahan videonya di YouTube.

Inilah cara kami mendampingi anak generasi digital. Tiap keluarga tentunya mempunyai caranya masing-masing dan pendekatan yang berbeda-beda.

Tulisan ini sekedar berbagi cerita dan pengalaman kami, terutama saya sebagai ayah yang berusaha untuk menjadi teman digital bagi anak generasi alpha, salah satunya melalui kompetisi ala (calon) YouTuber.