Anak-anak kita adalah produk egoisme kita sebagai orang tua. Kitalah yang menginginkan mereka lahir ke dunia. Sebelum mereka keluar dari perut, kita sudah menetapkan siapa namanya. Kita bahkan bisa mengatur jenis kelaminnya dengan mengikuti program medis. Kita sudah menulis rencana-rencana yang menurut kita bagus untuk mereka.

Tak lama setelah mereka lahir, kita bisikkan ayat-ayat suci ke telinga mereka. Menurut kita, itu akan membuat hidup mereka jadi berkah. Meski mereka tak tahu apa arti ayat-ayat itu. Kita paksakan kepercayaan mereka sama seperti kita. Mereka tak bisa memilih karena memang tidak bisa memilih.

Hingga besar pun, kita tetap menginginkan anak-anak menjadi seperti kita. Kita juga mengatur siapa jodoh yang pantas untuk mereka. Kita bahkan berani menolak calon yang mereka pilih. Kita menetapkan pekerjaan yang cocok untuk mereka. Apapun, kita sebagai orang tualah yang berkuasa menentukan nasib anak-anak kita.

Oh, betapa egoisnya kita…

Bahkan saat kita beranjak tua, kita masih saja menuntut mereka merawat kita. Kita ingin anak-anak tetap dekat hingga kita meninggal.

Kita memandang bahwa anak-anak harus berbakti selamanya. Karena kitalah yang melahirkan mereka. Terutama istri kita yang berjuang keras dan menanggung sakit saat melahirkan.

Namun kita lupa, sakitnya melahirkan, membiayai hidup, dan menyekolahkan anak-anak adalah konsekuensi atas pilihan kita mempunyai anak. Semua yang kita lakukan dengan kerepotan-kerepotan mengasuh anak-anak adalah resiko atas keinginan kita memiliki buah hati.

Tak perlu dilebih-lebihkan dengan mengatakan kita paling berjasa. Hei, tak seorang pun dari anak-anak kita yang meminta mereka dilahirkan. Kitalah yang menginginkannya. Diam dan terimalah konsekuensinya.

Kita mengarang cerita tentang anak-anak yang celaka hidupnya saat melupakan orang tua. Malin Kundang dikutuk jadi batu karena lupa akan ibunya. Kita tanamkan cerita itu agar kita tidak dilupakan.

Oh, kita benar-benar egois…

Padahal, keceriaan dan kelucuan mereka membuat kita senang dan bahagia. Mereka menghibur kita dengan tawa kecilnya. Hidup kita terasa lengkap dengan kehadiran mereka. Kita bangga karena mempunyai mereka. Kita pamerkan mereka dengan memotret dan memostingnya di media sosial. Pujian untuk mereka adalah pujian untuk kita.

Ah, betapa kita sangat egois…

Sudah sewajarnya kita rawat dan sekolahkan mereka dengan ikhlas. Sudah semestinya, kita mengajari bagaimana menghadapi dunia yang keras hingga mereka dewasa dan mempunyai bekal mengarungi terjalnya kehidupan. Karena semua itu merupakan kewajiban yang harus kita lakukan. Kita sudah menggugurkan tanggung jawab saat berhasil membuat mereka hidup mandiri.

Saat dewasa, kita bebaskan mereka melanglang buana dan mengembara ke mana pun mereka suka. Biarkan mereka mencari jodoh, keyakinan, karir, atau apapun pilihan mereka. Suatu saat nanti, mereka juga akan menjadi seperti kita, melahirkan anak-anak mereka dan menjadi orang tua.

Tak perlu kita menuntut anak-anak untuk merawat kita. Mereka punya kehidupan sendiri. Mereka punya anak-anak yang harus dihidupi. Biarlah pilihan merawat kita  adalah pilihan kemanusiaan. Bukan sebuah kewajiban yang harus mereka laksanakan. Kita mesti ingat itu jika tak mau sakit hati saat mengetahui anak-anak sudah asyik dengan kehidupan mereka.

Akhirnya, menjadi anak-anak, dewasa, hingga orang tua adalah fase kehidupan yang harus kita jalani. Meski kita tak pernah meminta untuk dilahirkan, kita sudah terlanjur hidup. Rayakan kehidupan hingga kita meninggal. Karena itu akan membuat hidup kita tenang dan damai. Bukankah hidup akan bahagia jika kita bisa mencapai ketenangan dan kedamaian?