Membaca judul di atas, pastinya bikin teman-teman Qureta bingung: makanan kok dari tanah liat? Serius, nih? Memang demikian realitanya, dan itulah keunikan ampo yang bisa ditemukan di Tuban.

Pengalaman menikmati ampo pertama kali saya rasakan saat singgah di Tuban kemarin. Dan kebetulan ada teman yang ngajakin buat nyicipin jajanan satu ini. Awalnya saya biasa aja. Namun setelah ia mengatakan kalau bahannya dari tanah liat, seketika saya jadi berpikir. “Rasanya gimana, tuh?”

Sepintas rasanya mirip sama kacang tanah disertai sedikit rasa pahit. Berwarna hitam dengan tekstur gurih, ampo terasa lunak begitu memasuki tenggorokan. Meskipun baru pertama kali menyantap jajanan ini, lidah saya langsung cocok dengan rasanya.

Ampo mungkin saja terdengar tidak lazim bagi wisatawan luar—termasuk saya, lantaran bahan bakunya yang berasal dari tanah liat. Akan tetapi, jajanan berbentuk stik ini telah digemari sejak dulu dan masih eksis sampai sekarang.

Mengonsumsi ampo sudah jadi tradisi turun-temurun yang melekat pada keseharian masyarakat Tuban. Kebiasaan makan tanah semacam ini dinamakan geofagi. Umumnya dijumpai di wilayah tropis dan bersuhu hangat, khususnya daerah pedesaan.  

Barangkali ada dari teman-teman Qureta bertanya-tanya, kenapa kok musti pakai tanah liat sebagai bahan baku pembuatannya. Hal tersebut tentunya bukan lantaran melangkanya bumbu dapur dan minyak goreng, apalagi iseng-iseng di saat gabut melanda.

Secara historis, ampo sudah ada sejak zaman kolonial. Saat itu, makanan susah didapat, sedangkan harga bahan pokok kian melambung. Sehingga, warga Tuban mulai mencari cara supaya bisa bertahan hidup. Dan dari situ muncullah ampo sebagai inovasi sekaligus solusi dari permasalahan mereka tersebut.   

FYI, ampo memang 100% berbahan baku tanah liat, lho. Pun tanpa penambahan komposisi lain. Lantas, aman gak, sih, jika dimakan?

Tenang, Guys, tanah liat yang dipilih bukan sembarangan. Melainkan tanah liat jenis latosol bertekstur lembut yang telah dipastikan steril dari kerikil maupun kotoran-kotoran hewan. Sehingga, aman buat dikonsumsi tentunya.

Salah satu penelitian yang membuktikan hal tersebut yaitu penelitian milik Sera Young dari Cornell University, New York, AS yang bisa diakses di sini (https://www.bbc.com/future/article/20160615-the-people-who-cant-stop-eating-dirt ).

Dalam utasnya tersebut, ia menjelaskan bahwa tanah liat dapat mengikat unsur-unsur berbahaya yang seperti patogen, mikroba, serta virus. Jadi, tanah liat yang dicerna oleh lambung tersebut dapat berperan sebagai pelindung, sejenis masker lumpur buat usus kita.

Ampo juga diyakini sarat akan khasiat. Beberapa di antaranya seperti melancarkan pencernaan, meminimalisasi maag, meredakan diare, dan baik buat ibu hamil. Ampo dianjurkan untuk ibu hamil lantaran aroma khasnya yang bisa memicu perasaan nyaman serta dipercaya memberikan manfaat bagi janin yang dikandung.

Di Tuban kemarin, pada hari Minggu (29/5), saya dan teman saya menyinggahi salah satu penjual ampo yang terletak di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding yaitu Tumini (45). Ia mengaku telah memproduksi dan menjajakan ampo sejak tahun 2000.

Menurut informasi Tumini, pembuatan ampo dilakukan melalui beberapa tahap. Tanah liatnya pun berasal dari lahan khusus yang memang ia dijadikan persediaan.

Sebelum diolah, tanah liat yang telah diambil haruslah disiram terlebih dahulu agar bisa dipadatkan. Ketika sudah padat, tanah liat tersebut diserut memakai pisau serut khusus yang terbuat dari bambu kemudian dijemur sampai kering. Hasil serutannya ditaruh di dalam tungku dan diasapi tanpa bara api selama 15—20 menit. Setelahnya, ampo siap dikonsumsi.

Ibu dari dua anak ini menambahkan bahwa peminat ampo sangatlah ramai. Terlebih, pelanggannya juga banyak yang berdatangan dari luar daerah seperti Surabaya, Ponorogo, Malang, dan Jombang. Dalam seminggu, ia bisa melayani pesanan hingga 1 kwintal.

Dulunya, ampo hanya dijual di pasar tradisional yang terletak di desa-desa Kabupaten Tuban. Namun, kini ampo sudah cukup mudah ditemukan di toko kelontong, sentra oleh-oleh di Tuban, hingga lapak online.

Selain itu, jajanan ini biasanya juga disajikan pada acara hajatan, sedekah bumi, dan kerap dijadikan suguhan saat momen lebaran. Cocok disantap sambil bersantai, kenikmatan ampo akan semakin paripurna jika bersanding dengan hangatnya secangkir kopi.

Harga ampo sangatlah terjangkau, kok. Rata-rata per 500 gramnya hanya dibandrol sekitar Rp15 ribu saja. Murah, kan?

Lalu, buat teman-teman Qureta yang berlibur ke Tuban, tak ada salahnya nyobain ampo. Karena jika ngebayangin saja dirasa kurang lengkap. Dijamin bakal nambahin pengalaman berkuliner kalian, pastinya. Sembari menikmati indahnya panorama deretan pantai utara di sini, tentu momen berlibur kalian bakalan semakin komplet.

Oh ya, satu lagi. Ampo sampai saat ini cuman tersedia dalam varian original. Barangkali masuk akal, saya saranin buat para penjual ampo untuk dibikinin varian lainnya supaya jajanan ini bisa semakin digemari di zaman sekarang.

Misal varian ampo with barbeque flavour atau varian ampo with egg pratata and fish curry. Kayaknya bakalan tambah maknyus, deh. Hehehe.