49162_63354.jpg
Amien Rais & Gus Dur
Politik · 3 menit baca

Amien Rais Nyapres? Ingat Kata Gus Dur, Mbah!

Sedikit terkejut saya mendengar kabar Amien Rais siap maju jadi Calon Presiden 2019. Bukan apa-apa, itu artinya bahwa ia akan melawan Jokowi yang—bagi saya—bukan tandingannya sama sekali.

Memangnya Amien Rais punya apa? Apa yang membuat publik bisa mengakui bahwa dirinya benar-benar pantas menggantikan Jokowi? Kalau cuma bekal koar-koar di media sosial, mengkritik Jokowi dan kebijakannya tanpa dasar yang jelas, semua orang pun bisa, termasuk saya.  

Tetapi apa boleh buat. Meski kapabilitas Amien Rais masih berada jauh di bawah Jokowi, antara langit dan bumi, tetapi kesiapan Amien Rais sudah dimantapkan. Itu ia tegaskan saat diberi kesempatan berpidato dalam acara buka bersama di kediaman Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Sabtu (9/6).

“PAN lewat Rakernas yang dipimpin Pak Zul nanti tidak akan berlebihan. Kita akan menyapreskan tokoh kita sendiri. Pertama Zulkifli Hasan, Hatta Rajasa, Sutrisno Bachir, dan terakhir saya sendiri,” kata Amien.

Soal usia, baginya, bukan masalah. Bahkan ia mengaku terinspirasi dari Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, yang mampu terpilih di usia 92 tahun.

“Pak Mahathir hanya satu angkatan di atas saya. Jadi, (untuk nyapres) never say no,” yakinnya.

Tidak hanya dari aspek individu belaka, kesiapan Amien Rais itu juga dibarengi oleh keseriusan PAN untuk mencalonkannya. Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi menegaskan, “PAN serius mencalonkan Pak Amien Rais running for President 2019.”

Amien Rais dinilai punya integritas sebagai pemimpin nasional. Ia dianggap sangat cinta rakyat dan NKRI. Itulah mengapa PAN sangat serius mencalonkan mantan Ketua MPR RI tersebut.

Selain itu, Amien Rais juga dipandang punya kapasitas mumpuni. Ia, kata Yoga, mampu membawa cita-cita perjuangan bangsa Indonesia ketika kelak jadi Presiden menggantikan Jokowi.

“Pak Amien memiliki konsep dan kapasitas leadership dalam memimpin perjuangan bangsa Indonesia menuju pada cita-cita nasional sesuai berdirinya Negara Republik Indonesia,” tambah Viva.

Seperti Amien Rais, agaknya PAN juga terinsprasi betul dari keterpilihan Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri Malaysia. Makanya, soal usia tua yang dimiliki Amien Rais, itu tidak PAN jadikan sebagai hambatan, melainkan jadi pemantik luar biasa.

“Pak Amien Rais masih memiliki fisik kuat dan stamina prima dalam beraktivitas sesuai tuntutan kerja. Usia tidak menghalangi dalam menjalankan tugas pokok pekerjaan,” tambahnya yakin.

Dukungan Allah

Amien Rais sendiri terlihat sangat pede melawan Jokowi. Dalam kesempatan pidatonya di acara buka bersama kader PAN itu, ia juga yakinkan kader-kader PAN bahwa perlawanannya atas Jokowi akan berbuah hasil memuaskan. Itu karena Allah akan malu jika tidak terjadi demikian.

“Jadi Anda itu sekarang perlu berdoa. Tiap sore, ya tiga menit saja: ‘Ya Allah, semoga engkau memberikan bangsa yang tercinta ini sebuah presiden baru yang cinta kepada agamamu, yang tidak akan mengkriminalisasi ulama, tidak akan menjual kekayaan bangsa ke asing dan aseng.’ Kalau belasan juta tiap hari itu berdoa (ganti presiden), Allah malu tidak mengabulkan,” kata Amien.

Keyakinan itu Amien Rais dasarkan pada dua ayat Alquran, yakni surat Adz-Dzariyat ayat 50 dan surat Al-Ghafir ayat 60.

Di surat pertama, ia menggarisbawahi ayat fahfiru ilallah. Ia tafsirkan ayat itu menjadi: “Larilah engkau semua menuju Allah tatkala menemukan masalah dan mencari solusi.” Bahwa begitu pentingnya bagi manusia untuk kembali kepada Allah dalam mengejar pahala dengan menaati dan menjauhi larangan-Nya.

Sedang di surat kedua, Amien tafsirkan begini: apa pun permintaan manusia kepada Allah, maka Allah senantiasa akan kabulkan.

Waqaala rabbukumu ud’uunii astajib lakum inna alladziina yastakbiruuna ‘an ‘ibaadatii sayadkhuluuna jahannama daakhiriina (Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka).”

Terkait tentang Allah akan malu jika tidak mengabulkan doanya untuk mengganti Jokowi, Amien pun lagi-lagi mengutip hadis Nabi Muhammad. Hadis tersebut berbunyi bahwa Allah akan malu jika tidak mengabulkan doa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh, meskipun doa itu untuk mengganti pemimpin.

“Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Maka tak syak lagi jika Amien Rais optimis bisa menang. Bahkan jika lawannya harus Jokowi sekalipun yang punya segudang bukti kerja nyata.

Sebuah Kemustahilan

Bukan tak menghargai. Setiap orang memang punya hak politik di negeri ini. Siapa pun boleh mencalonkan atau dicalonkan jadi Presiden Republik Indonesia.

Hanya saja, yang jadi masalah adalah optimisme Amien Rais jadi Presiden ini adalah kemustahilan. Sebagaimana Gus Dur pernah guyonkan, “Amien Rais, sampai kimat pun, tidak akan pernah jadi Presiden.”

“Lho, kenapa bisa begitu, Gus?” tanya seseorang kepada Gus Dur kala itu. “Bukankah siapa pun bisa jadi Presiden?”

Gus Dur pun menjawab tegas, “Jadi Presiden Republik Indonesia itu tidak gampang. Orangnya harus benar-benar pintar. Nilainya mesti A-Plus, sedangkan dia (Amien Rais) cuma A-Min. Gimana caranya bisa jadi Presiden?”

Diam sejenak, lalu terbahak terpingkal-pingkal.