"Amien Rais inkonsisten." Begitu beberapa pendapat terkait sikap mantan Ketua PP Muhammadiyah itu. 

Awalnya sudah melunak, namun dua hari ini keras lagi. Ia tampak gusar dengan situasi yang tidak menguntungkan secara politik. Partai Amanat Nasional (PAN) yang didirikannya belum pasti mendapat kursi. Kira-kira itu salah satu sebabnya.

Politik memang bicara siapa dapat apa. Jika tak dapat apa pun, untuk apa berkeringat? Karakter ini sudah mendarah daging, sudah dianggap lazim serta keharusan yang tak tertulis. Kerasnya sikap Amien Rais bisa jadi sebagai trik meraih posisi bagi partainya. Ia lagi ngidam jabatan.

Syahrini barangkali akan merasakan hal yang sama (ngidam). Sebabnya ada kabar dirinya sedang hamil

Banyak teori mengatakan mengapa ibu hamil ngidam. Ada teori yang mengatakan karena perubahan hormonal, ada juga teori yang mengatakan karena ibu hamil kekurangan nutrisi sehingga menimbulkan keinginan mengonsumsi sesuatu.

Namun jika ibu hamil ngidam menginginkan sesuatu yang berbahaya bagi dirinya maupun janin, biasanya karena kekurangan zat besi. Namun penjelasan ilmiah sampai saat ini belum memastikan mengapa ibu hamil ngidam.

Lalu haruskah ngidam dituruti dengan karena, jika tidak, bayi akan mengeluarkan air liurnya terus-menerus? Sebaiknya abaikan mitos itu. Bahkan ngidam sebaiknya diabaikan apalagi berdampak negatif bagi bayi dalam kandungan.

Karenanya, para calon ayah dan ibu hendaknya mengetahui makanan yang boleh dan tidak. Jangan ngidam dituruti tanpa memperhatikan asupan gizi.

Demikian pula Jokowi dan Prabowo, sebaiknya jangan menuruti 'ngidamnya' Amien Rais. Jangan terlalu percaya mitos politik yang selalu didengungkan Amien Rais. Koalisi Jokowi-Prabowo ibarat hamil muda yang sedang dirasakan Syahrini. Harus benar-benar dijaga gizinya dan jangan sampai keguguran.

Hal-hal yang dapat mengganggu proses rekonsiliasi hendaknya diminimalisasi. Barangkali Syahrini dalam beberapa hari ke depan akan mengurangi aktivitasnya demi janin. Prabowo-Jokowi hendaknya melakukan hal yang sama. 

Kerasnya Amien pertanda rekonsiliasi masih bisa retak. Segala kemungkinan masih bisa terjadi. Apalagi PA 212 tampak kecewa dengan Prabowo. Amien Rais tak sendirian. Kekakuan mereka dalam berpolitik akan mengusik arus bawah.

Dilema kini di tangan Prabowo maupun parpol-parpol pendukung Jokowi. Ada desakan agar Prabowo melakukan rekonsiliasi sembari sharing power. Ada pula yang menginginkan Prabowo tetap menjadi pemimpin oposisi.

Amien tampaknya memiliki agenda tersendiri. Setelah dipastikan PAN kehilangan kursi Ketua MPR, maka jabatan menteri dirasa logis. 'Ngidamnya' Amien cukup merepotkan Prabowo maupun Jokowi. Mereka harus bijak menghadapi dinamika politik terkini.

Sama halnya dengan Amien, Syahrini nantinya akan ngidam. Reino Barack akan diuji kesetiaan maupun kesabarannya. Barangkali permintaan Syahrini saat ngidam di luar dugaan kita semua. Reino harus siap. 

Reino bisa saja mencontoh Jokowi dalam hal ini, yang tetap tenang menghadapi mengerasnya sikap Amien Rais. Reino tak harus menyetujui semua keinginan istrinya. Sama halnya dengan Jokowi yang tak mungkin akan menggubris keinginan Amien Rais.

Tentu saja setiap sikap memiliki konsekuensinya. Meminimalisasi turbulensi adalah prioritas Reino Barack maupun Jokowi. Harus jeli melihat segala kemungkinan. Harus cerdas merespons keinginan-keinginan yang terkadang tidak logis.

Jokowi maupun Barack harus memiliki visi menyelamatkan janin. Jokowi selamatkan 'janin' rekonsiliasi dan Barack selamatkan calon anaknya. Jangan sampai mengalami stunting

Stunting ini problem serius yang akan menentukan masa depan anak. Jika proses rekonsiliasi mengalami stunting, pastinya akan mengganggu roda pemerintahan. Karenanya, mengerasnya Amien Rais harus ditangani segera. Saran saya, serahkan pada Prabowo.

Jokowi hendaknya dapat menenangkan parpol pendukungnya yang takut kehabisan kursi. Mereka juga tak kalah mengerasnya. Mereka sedang ngidam kolektif. Isu Gerindra raih kursi Ketua MPR hingga porsi menteri membuat mereka panik. 

Sayup-sayup terdengar suara agar Gerindra jadi oposisi saja. Mereka takut keringat tak dibayar. Padahal paduan suara mereka dulunya begitu kuat menginginkan Jokowi-Prabowo ketemu.

Politisi kita sedang ngidam jabatan. Bisa bangkrut negeri ini jika posisi menteri disusun berdasarkan kompromi politik, bukan berdasarkan kompromi intelektual. Si bodoh menjadi menteri, si dungu kelola anggaran, lalu rakyat jadi-jadian.

Sebaiknya Amien Rais menahan diri. Tak perlu mengeras jika hanya ingin PAN mendapat kursi. Biarkan proses intelektualitas berjalan demi kemaslahatan negeri. Amien harus melihat dari banyak sudut pandang, termasuk mengapa dirinya mengeras.

Lalu bagaimana dengan Syahrini? Andai ia ngidamnya seperti politisi kita, saya yakin perceraian bisa terjadi. Syahrini harus belajar dari ngidamnya para politisi kita. Tahan diri demi janin dan suami.

Menurut saya, mengerasnya sikap Amien Rais dan hamilnya Syahrini tidak ada kaitan secara langsung. Namun secara substansi, relevansinya ada. Sama-sama mendapat masukan: Amien dari orang-orang sekitarnya dan Syahrini dari suaminya. 

Semoga saja Amien dan Syahrini mampu melewati proses ngidam dengan baik. Karena 'janin' rekonsiliasi dan janin Syahrini sama-sama butuh gizi.