Hi, guys, pernah gak kamu merasa blank, atau kosong? Kehilangan ide-ide, kehilangan gagasan-gagasan saat presentasi? Karena lupa akan bahan atau dan materi yang harus dikatakan.

Kamu jadi ambyar, buyar, hancur! Akhirnya, jadi down. Ketika presentasi yang semula dari nervous jadi tambah nervous. 

Ketika gugup jadi tambah gugup, dari grogi jadi tambah grogi? Bagaimana, ya? Efeknya juga ada terus, setelah selesai presentasi yang menurutmu gagal bin kacau, kamu jadi tambah stres. 

Kenapa tidak stres? Setelah presentasi gagal, kita terkadang merasa jadi sangat bego dan bodoh banget. Jadi gak keren, jadi merasa tidak asyik. Jadi malu, apa kata dunia? Apa kata orang-orang? Apalagi, ketika presentasi, di sana ada cowok atau cewek gebetanmu, cem-cemanmu. Jadi, kamu rasanya mau mundur alon-alon saja deh.

Membangun Percaya Diri

Gak usah stres! Setiap orang punya kemampuan berkomunikasi yang berbeda. Tidak semua orang dapat berbicara dengan baik dan benar di depan para audience. 

Presiden pertama kita, Ir. Soekarno saja yang jago pidato, yang pidatonya membakar semangat pendengarnya. Kabarnya, terus melatih dirinya berbicara di depan cermin sebelum tampil di depan umum.

Seperti dirinya, kita memang harus punya trik-trik agar gak ambyar ketika maju ke depan. Bagaimana caranya membangun rasa percaya diri (PD) ketika mau berbicara itu? Apalagi, misalnya harus presentasi makalah di depan teman sekelas atau dan sekampus. Ini dia triknya;

Pertama, ketika diperhadapkan harus melakukan presentasi, misalnya, presentasi makalah mata kuliah budaya di kampus. Kita harus menyadari bahwa kita telah mendapat tugas, mau tidak mau, kita harus melakukannya.

Mau tidak mau, kita harus bertanggung jawab atas "pekerjaan" itu. Jadi, kita harus berusaha mengerjakan tugas itu dengan sebaik-baiknya, dengan cara mencari bahan budaya sebanyak-banyaknya yang mau dibuat makalah dan dipresentasikan.

Kedua, dengan memperbaiki makalah, mengerjakan makalah dengan usaha sendiri. Bukan sekadar copas dari internet, tapi dengan membaca dan mengambil literatur budaya dari buku. Kita akan lebih "mengenal" dan mengetahui makalah kita sendiri. Jadi, kita akan tahu luar-dalam isi makalah kita.

Ketiga, mencari teman diskusi itu sangat penting. Selain melatih mengungkapkan pemikiran, kita juga bisa mendapatkan perspektif baru dari orang lain yang akan memperkaya wawasan kita. Jadi, kita pun bisa menganalisis "masalah" sebelum presentasi nanti. 

Apalagi, orang yang kita ajak diskusi itu, ekspert di bidangnya. Misalnya, teman yang ahli budaya, sang budayawan yang memang sudah banyak mengetahui cerita tentang kebiasaan masyarakat dan sebagainya.

Keempat, jika kamu punya role model aktris atau aktor yang keren saat berakting. Latihlah dirimu, dengan prepare berbicara di depan cermin. Anggaplah dirimu lagi berakting selayaknya seorang aktris atau aktor. Sehingga, kamu bisa menyemangati dirimu seperti idolamu berbicara.

Kelima, ketika akhirnya kamu melakukan presentasi, namun tidak sesuai ekspektasi. Misalnya, masih merasa tegang. Cobalah tarik nafas dalam-dalam dan embuskan. Jangan tegang, tapi stay cool. Terkadang, ketika kita tegang, jadi membuat kita tak bisa berpikir. Buatlah situasi yang serius itu jadi santai, sersan (serius tapi santai).

Keenam, andalkan catatan. Buatlah catatan-catatan kecil sebelum presentasi, dan menuliskan poin-poin penting dari makalah. Sehingga, ketika kehilangan ide atau gagasan, kita bisa membaca saja, daripada pusing mencari kalimat apa yang akan diungkapkan.

Ketujuh, jika mau, jujurlah pada "penontonmu", orang-orang yang melihat presentasimu. Katakan, bahwa kamu sedang grogi. Mereka, para penonton pasti mengerti dan menolong.

Penulis pernah mengikuti suatu kegiatan di mana banyak pemateri makalah atau call paper, salah seorang pemateri dengan terus terang mengatakan lagi tidak percaya diri. Kami yang menontonnya malah jadi suka dengan dirinya. Suasana yang awalnya serius jadi santai, penuh tawa.

Kedelapan, saat presentasi dan merasa tidak percaya diri, minta tolonglah pada master of ceremony (MC) untuk membantu mengingatkan ketika kita merasa kosong atau blank. MC bisa membantu mengingatkan kita ketika keluar dari jalur pembicaraan yang ngawur ketika presentasi.

Kesembilan, "berdoa" sebelum presentasi menurutku hal yang  paling penting. Karena dengan berdoa, kita akan mendapat kekuatan. Kemudian, menubah mindset pikiran dari yang merasa tidak mampu menjadi berpikir bahwa kita keren banget.

Kesepuluh, jika masih ambyar, buyar, ketika presentasi, tetap jadi diri sendiri saja. Sudahlah, dalam presentasi, "grogi" memang biasa terjadi. Semua bisa saja terjadi.

Jangan Lari dari Kenyataan

Semua orang punya kecerdasan yang berbeda. Semua orang punya passion yang berbeda. Gak usah menjadi sok pintar ketika kita tidak bisa menjadi sangat keren saat tidak bisa menjadi pembicara yang hebat. 

Jadi diri sendiri saja. Bakatmu apa? Kalau bisa masak, membuat kue, buatlah kue. Yang suka menggambar, menggambar saja. Yang suka nyanyi, nyanyi saja. Jadilah diri kamu sendiri karena tidak semua orang bisa berbicara, berpidato, berpresentasi dengan sangat memukau.

Jangan lari dari kenyataan. Hadapi saja, yang terjadi terjadilah. Dunia tidak akan berakhir gara-gara kamu ambyar dalam presentasi.