Lecturer
3 minggu lalu · 73 view · 3 min baca menit baca · Agama 35751_63819.jpg
Foto: republika.co.id

Ambivalensi Popularitas Islam

Agama kini menjadi lahan subur di Indonesia, terutama Islam. Bukan hanya karena mayoritas bisa dimainkan dan eksplorasi lebih dalam untuk menunjang segala bidang kehidupan. 

Banyak orang berbondong-bondong menjadi lebih beragama dari sebelumnya. Bahkan makin banyak pula yang berani berbicara atas nama agama.

Islam, sebagai agama mayoritas, juga makin menunjukkan potensinya sebagai sebuah modal. Mereka yang sudah terkenal akan lebih populer jika mampu memperlihatkan kemajuannya dalam memahami Islam. Atau mereka para pengusaha juga akan lebih menguasai pasar jika mampu menjual produk dengan tafsiran yang lebih Islami.

Fenomena ini, sayangnya, tidak sepenuhnya dapat dimaknai sebagai kemajuan. Maraknya praktik “hijrah” dengan tujuan yang sama sekali baru: perubahan sikap religius. Juga bermunculannya forum pengajian di berbagai media, bahkan dunia maya, seakan menampilkan satu ambivalensi.

Di satu sisi, perkembangan internet telah berhasil menyediakan kemajuan pendidikan agama yang sangat mudah. Tanpa harus menghafal ribuan hadis, tanpa belajar ilmu Nahwu-Sharaf, bahkan tanpa membuka kitab-kitab fikih yang berjilid-jilid untuk tahu bagaimana ibadah yang benar, orang bisa menjadi saleh hanya dengan rutin mendengarkan pengajian para ustaz di media sosial.

Di sisi lain, perkembangan pemahaman keislaman, yang didapat secara instan semacam itu, juga menampilkan wajah seram dan meresahkan. Dogmatisme atau pemahaman otoritarian, yang kaku dan tertutup, telah banyak menyertai produk-produk pengajian Islam kekinian. Semua itu tidak lain adalah dampak dari pola pembelajaran agama yang otoriter dan jauh dari dialog.


Orang-orang yang ingin lebih paham tentang Islam, lantas datang ke pengajian, menjalin komunitas dengan mereka, tentu saja tidak punya kuasa apa pun untuk sekadar bertanya hal-hal yang tidak masuk akal, apalagi menyampaikan pemahamannya sendiri yang mungkin terkesan kritis, atau membangkang. 

Sebaliknya, yang ada dalam forum-forum pengajian seperti itu justru semacam pola doktrinasi satu arah: ustaz menunjukkan Islam yang benar dan mengislamkan jemaahnya.

Fenomena menguatnya konservatisme semacam itu tentu dibawa oleh mereka yang berpengetahuan tinggi, kebanyakan para sarjana Timur Tengah, yang kemampuan bahasa Arab mereka tidak diragukan lagi, bahkan hafal bermacam-macam hadis. Sehingga dengan penjelasan “arabis” dengan bukti-bukti hadis, mereka memiliki legitimasi sebagai pembawa pemahaman Islam yang otoritatif.

Berbeda dengan para sarjana dan ulama yang lebih moderat dan mungkin liberal, yang umumnya lebih suka menjelaskan Islam dengan bahasa lokal dan sederhana, lambat-laun makin tertinggal popularitasnya, dan hanya menjangkau kalangan tradisional.

Mereka yang hidup di lingkungan modern, akrab dengan teknologi, yang tidak sempat menjajaki pendidikan Islam yang rumit, yang umumnya diajarkan di pesantren, rata-rata butuh berislam secara instan. Bukan untuk menjadi ulama, tapi sekadar membenarkan praktik religiositas mereka, yang mereka yakini bisa didapatkan dari pengajian-pengajian itu.

Dalam fenomena semacam ini, Khaled M. Abou el-Fadl, dalam karyanya Melawan Tentara Tuhan, memandang perdebatan Islam kontemporer sering terdengar seperti sebuah kompetisi melantunkan hadis. 

Para pesertanya mencari tradisi-tradisi Nabi atau penuturan pengalaman pribadi lainnya yang sesungguhnya tidak sesuai dengan konteks atau dinamika apa pun. Riwayat-riwayat ini dipakai dalam suatu perang retorika guna memperebutkan klaim autentisitas Islam.

Fenomena “hijrah”, berkembangannya produk halal, dan lebel syar’i, tentu hanyalah sedikit gambaran dari dampak “perang hadis” yang konservatif semacam itu. 


Lebih jauh, upaya transformasi sistem kenegaraan menjadi khilafah Islam juga merupakan hasil dari kajian-kajian konservatif yang sudah lama memendam hasrat ingin bersuara. Termasuk juga jihad, pada akhirnya menjadi puncak perubahan religiositas yang harus dilakukan sekalipun dengan peperangan.

Kini, melalui perkembangan teknologi dan media massa, mereka menemukan pintu untuk mengisi lubang-lubang spiritualitas yang kering dalam masyarakat. Lubang-lubang itulah yang mereka isi dengan nilai-nilai religiositas praktis dan menyenangkan, dan puncaknya adalah doktrin-doktrin literer untuk menempati kekuasaan sebagai Islam yang otoritatif di masa mendatang.

Problema perkembangan Islam semacam itu tentu harus diwaspadai. Mereka yang minim pengetahuannya tentang Islam tidak serta-merta bisa dipersalahkan. Tapi media-media penyebar Islam – entah melalui institusi pendidikan, organisasi keagamaan, atau forum-forum pengajian di mana pun – yang makin kabur itu, menjadi tugas tersendiri untuk menentukan batasan-batasan otoritatifnya.

Siapa yang mengemban tugas itu? Kita semua, yang menyimpan Islam sebagai nilai, bukan sebagai alat.

Artikel Terkait