Mekanik
7 bulan lalu · 79 view · 4 min baca · Keluarga 62817_66842.jpg
Dokument pribadi

Ambisiku Meringkas Usai Ayah

Sebelas tahun silam, sekonyong-konyong aku meninggalkan kampung. Mulanya perjalanan yang memenjarakan ini semata-mata hanya menuruti ambisiku. Aku memutuskan selekas-lekasnya pergi meninggalkan Desa serta keluarga yang penuh rasa cinta itu. Aku sangat tahu rasa cinta mereka yang ada seisi rumah tua, sempit dan gelap yang aku tempati bersama ayah, ibu dan kakakku berpuluh-puluh tahun.

Ngali, Desa yang hampir paling ufuk di Nusa Tenggara Barat, disini aku lahir. Di Desa yang berpenduduk yang bermata pancaharian petani ini aku habiskan masa kecil. Singkatnya dengan menumpangi bus, perlu waktu tiga hari tiga malam untuk sampai ke Ibukota Jakarta.

Ikhtiarku bukan karena matahari kampung cuaca panas memanggang, anginnya kadang malas berembus membuat badan mendi keringat. Tapi dengan satu alasan aku ingin mendobrak tradisi kampung yang mentok pendidikannya berhenti hanya pada lulusan SMA (sekolah menengah atas) saja. Niatku ingin menjadi rahmat semesta keluarga, apa salahnya menapaki jalan terang kehidupan seperti itu?

Aku pikir dunia ini maju karena ada manusia yang berani bermimpi. Mimpi perubahan kan kebutuhan suatu jaman. Seperti juga ‘mimpi’ Jayabaya seribu tahun silam yang ingin suatu ketika akan ada sebuah ‘prahu’ yang bisa ‘berlayar’ di udara (gegana). Begitupula ‘mimpi’ bung Karno yang menginginkan Nusantara sebagai mercusuar internasional. 

Aku tersihir kala Tan Malaka mendetailkan perjalan juangnya yang penuh resiko dari satu penjara ke penjara lain. Perjuangan Tan yang tidak hanya terbatas pada perjuangan fisik, semasa hidupnya ia telah menghasilkan pemikiran-pemikiran besarnya. Pada pokoknya aku memegang keyakinan akan memperoleh kemerdekaan, seperti itu ambisiku.

Ambisi hendak bersaing dengan bintang di langit itu menyingkirkan semua yang menghalangi meski beresiko perjalananku menjadi sunyi. Selain teman-teman karib, aku perlakukan tanah lahirku dengan zolim. Kehendak mau hidup enak, hasrat menolak miskin justru membelahkan jarak aku sama mereka. Lumuran ambisi meluluhlantakan kelembutanku, pengembaraanku memakan banyak pengorbanan, ambisi yang buat semuanya pongah.

Tibalah waktunya aku berangkat, meningglkan Desa. Dari ujung mata ayah aku melihat kebingungan, menatap wajahku. Memang kenapa? Aku bertanya pada mereka, ayah tampak semakin bingung, pancaran sinar matanya seakan menyampaikan pesan. “Perpisahan” ini mungkin sudah menjadi garis hidup kita nak.

Tak ada yang lebih seperti dulu semua membarikan doa dan restu jalan, ini yang mengundang rasa haru dan ibaku. Rasa sedih ku pecah, aku menangis dan sesekali menoleh kebelakang. Tapi berjalan mesti terus menuju hawa kota, tempat yang tidak di setujui garis tanganku. Kendati aku pernah dengar cerita, konon di kota permusuhan terbuka, bak perang kejam dan bengis bullying, intrik terang-terangan dilakukan. Membayangkan itu rasa-rasanya sudah terlanjur.

Sembari merenungkan nasib, sudah tiga malam lebih dalam kapal, serasa aku tak mengenal daratan lagi. Buih angin laut mendecit keras kegiranganku. Antara perhitungan dan harapan aku menyeberang dengan kapal yang penuh sesak, terapung-apung di hempas ribut topan yang belum pernah sebelumnya aku rasakan. Bingung, terkadang aku menanyakan Tuhan mengapa mengijinkan aku tau dunia kota yang di guyur kekejaman ini. Menyihir aku dengan kerlap-gemerlapnya yang semu. Mengapa Tuhan tak lepas membebaskan aku dari belenggunya.

Waktu kian hening, suatu hari aku pernah bertanya pada ayah, bagaimana caranya mendapatkan makanan pada masa dulu, haruskah ke kota? Rumah kecil kita bagaimana membangunnya? Ayah akui itu semua hasil usaha keras peras keringatnya, kayu-kayu penyangga dan dinding rumah itu dijinjingan sendiri dari gunung yang jauh di sana.

Kebun ini salah satu tempat yang aku sukai. Nyanyian serangga malam menemani ayah sama aku sehingga malam tak terlalu sepi. Ayah terlihat tangguh kalau lagi pegang lampu pelita, aku bisa tidur pulas meski kami berteduh di bawah pohon. Ini yang membuat kekagumanku pada ayah semakin bertambah saja hari demi hari.

Terlalu panjang kalau aku menceriterakan bagaimana romannya ayah menikahi ibu. Tak perlu aku sejarahkan bagaimana kerasnya hidup yatim-piatu ayah sejak umur dua tahun. Lantas akan menguras emosi kala aku menyajikan kegigihan ayah mengarungi laut membelah gunung demi mendapatkan sesuap makan untuk membesarkan aku beserta 5 kakak dan 1 adikku.

Keistimewaan, menjadi anak ayah anugerah bagiku. Semenjak bersama ayah, aku tak mesti sulit mecari guru ngaji, setiap selesai sholat magrib aku belajar membaca alquran dari ayah. Cambukan lidi cara ayahku menguji ingatanku apa yang pernah diajarkannya. Makanya aku sering mengaji berulang yang aku hafal saja.

Ayah memang sang pencerah. Aku tidak pernah kesulitan mencari teladan, karena ayah yang menginspirasi untuk selalu berfikir seperti layaknya matahari. Nasehat, anekdot-anekdot hidupnya yang berani aku akan mengespresikan secara telaten dan sungguh-sungguh kedepan. Aku haturkan ampun ayah, mencium kaki ayah, bimbingan mu aku tanam.

Kisah yang menjeruji kesolehan dan kepekaanku sebagai (seorang anak) Desa. Sejarah hidup aku dari masa yang tenang ke hari yang gelap. Setelah aku menghadapi pengadilan alam, ini bukan hendak mengundurkan jalannya roda sejarah. Mana mungkin mampu, sebab sejarah tak dapat di panggil kembali buat aku berlaku bijaksana. Semuanya telah berlalu, seperti pahatan di atas batu, tak mungkin tersapu oleh angin topan sekalipun.

Hari-hari berganti dengan begitu cepat, tiga lalu wajah ayah terlihat masih segar, kekar, tinggi besar seperti kasturi aroma wangi badannya. Sekarang aku baru sadar, usai ayah tidak seperti dulu lagi. Ijinkan aku pulang ayah. Tampangku lebih pantas berbaur dengan orang-orang Desa, menyangkul sawah, sesekali menjadi gurunya anak-anak para petani kasar yang luruh perasaannya. Menyusun lagi bongkahan-bongkahan yang terlanjur berserak kemarin. Terlebih lagi keinginan aku hampa, selain tak mendapatkan apa-apa impikan aku sedari awal, ambisiku membelah jarak dan meringkas usai ayahku.

Beduk subuh belum juga terdengar, tapi aku sudah bangun. Belum pernah aku rasakan perasaan segelisah seperti ini sebelumnya. Firasatku tidak enak tiba-tiba merekam keadaan ayah yang memang belum seminggu lalu ibu mengabarkan ayah semakin kurus saja. Sekilas itu aku langsung berdoa ayah dipanjangkan umurnya. Hitungan menit kemudian terdengar dering suara HP. Itu telpon dari adikku, dan benar saja… Innalillahiwainnailahirojiun ya allah.

Selamat jalan ayah (abu tua), kembalilah kepangkuan sang maha pencipta dengan tenang. Semoga ayah (almarhum) mendapatkan ampunan allah, semoga amal ibadahmu mendapatkan balasan surga dan kemuliaan disisi-Nya. Amiiin ya rab.

Merasakan kemerdekaan yang ayah wariskan, sudah lebih dari cukup bagi aku, kami anak-anak ayah mengenang baik, mulia dan kebesaran sosokmu. Lewat semua media, narasi lisan, hagiografi, dan semua medium kemanusiawianku, meski akan menguras banyak emosiku, aku akan memindahkan kisah kita ayah ke kitab akademik dunia.

Tulisan ini mengenang alm. ayahku

Artikel Terkait