Siswa SMA pasti sudah tidak asing lagi dengan sebutan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Banyak dari mereka lebih cenderung memilih PTN dibandingkan PTS. Apa alasannya? Hal tersebut dikarenakan peluang kerja di PTN lebih disukai dibandingkan PTS. Selain itu, biaya kuliah yang lebih murah juga menjadi alasan siswa untuk melanjutkan pendidikannya di PTN.

Oleh karena itu, siswa SMA mana yang tidak tertarik untuk berkuliah di PTN. Perjuangan untuk memasuki PTN tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak berbagai rintangan dan hambatan dalam perjuangan tersebut. Namun, mampukah kita untuk dapat melaluinya? Ataukah kita akan menyerah?

Pilihan Universitas dan Program Studi

“Mau kuliah di mana nih setelah lulus?”

“Kira-kira mau pilih jurusan apa?”

“Yakin untuk memilih universitas itu?”

Itulah beberapa pertanyaan yang sering dipertanyakan kepada siswa SMA. Jika kita berbicara tentang kuliah, tentunya tidak akan jauh dari kata universitas dan program studi yang dipilih. Program studi yang tepat dan sesuai dengan keinginan akan membuat kita nyaman dalam menjalani perkuliahan. Banyak siswa SMA, terutama bagi kelas sepuluh dan sebelas yang belum memiliki gambaran untuk melanjutkan pendidikannya.

Sebagai instansi pendidikan, tentu sekolah menginginkan agar para siswanya dapat diterima di PTN. Berbagai upaya sekolah seperti mengadakan sosialisasi perguruan tinggi dapat menjadi referensi siswa dalam menentukan perguruan tinggi. Dalam memilih universitas dan program studi kita harus mempertimbangkan banyak faktor. Selain itu, untuk menentukan sebuah pilihan harus direncanakan dengan baik.

Menurut saya, masa-masa kelas sepuluh hingga sebelas semester satu adalah masa yang masih dikatakan santai. Dimana pada saat itu kita belum memikirkan tentang perkuliahan. Namun, ketika memasuki kelas sebelas semester dua berbagai hal tentang perkuliahan mulai muncul. Saya memulai untuk mencari informasi mengenai program studi, deskripsinya, dan prospek kerjanya, tetapi belum menetapkannya sebagai pilihan.

Seiring berjalannya waktu, tidak terasa saya sudah duduk dibangku kelas 12. Pada kelas 12 semester satu, saya sudah menetapkan universitas dan program studi yang diinginkan. Namun, pilihan tersebut berubah saat saya berada pada semester dua sehingga membuat konflik batin untuk memutuskannya. Hingga beberapa minggu kemudian akhirnya saya memutuskan pilihan yang terakhir.

Ambisius dalam Menggapai PTN

Banyak berbagai jalur untuk memasuki PTN, salah satunya SNMPTN. Pasti teman-teman sudah mengetahui apa itu SNMPTN? SNMPTN adalah jalur undangan yang hanya menggunakan nilai rapor selama lima semester. Selama kelas sepuluh hingga 12 saya berusaha untuk menstabilkan nilai rapor agar dapat mengikuti SNMPTN serta mengikuti berbagai perlombaan mulai dari tingkat provinsi hingga nasional agar sertifikat yang diperoleh dapat menjadi nilai plus pada jalur SNMPTN.

Selama kelas 12 saya menyempatkan waktu untuk belajar SBMPTN meskipun tugas sekolah sangat padat. Jika ada waktu luang saya juga membuat rangkuman mengenai materi SBMPTN. Rasa malas itu selalu ada ketika saya melihat buku The King dan Wangsit yang berisi ribuan soal di dalamnya, tetapi saya tidak menyerah untuk mempelajarinya. Selain itu, saya juga sering belajar bersama teman-teman untuk membahas berbagai soal.

Akhirnya saya terdaftar menjadi siswa eligible yang dapat mengikuti SNMPTN. Pada jalur ini saya sangat optimis karena merasa sudah yakin bahwa nilai dan sertifikat perlombaan yang saya miliki sudah memenuhi kriteria di universitas yang saya inginkan. Sebelum pendaftaran SNMPTN saya sering mengikuti rasionalisasi nilai dan konsultasi kepada guru.

Berbagai Penolakan

Tepat pada tanggal 22 Maret 2021 pukul 15.00 WIB laman pengumuman SNMPTN sudah dapat dilihat, saya langsung membukanya. Sebelum membuka saya membaca doa terlebih dahulu. Tertulis kalimat “tidak lulus” yang membuat saya down dan menangis saat melihat pengumuman. Hal tersebut membuat saya hilang harapan.

Sejak pengumuman, saya berusaha untuk menenangkan diri dan mengikhlaskan kegagalan tersebut meskipun sulit. Keesokan harinya setelah pengumuman SNMPTN saya segera mendaftar SBMPTN dengan keadaan yang masih sangat sedih. Rasa sedih itu masih ada selama saya belajar SBMPTN. Namun, saya tersadar bahwa kesedihan tidak akan mengubah sesuatu yang telah terjadi.

Pengumuman SBMPTN dapat dilihat pada tanggal 14 Juni 2021 pukul 15.00 WIB. Saat itu, saya membukanya setelah asar. Hasil yang didapat pun masih sama yaitu “tidak lulus”. Sedih dan kecewa. Namun, saya tidak terlalu larut dalam kesedihan. Selanjutnya, saya segera mencoba jalur mandiri di beberapa universitas. Pada kesempatan terakhir ini, saya sangat belajar bersungguh-sungguh.

Berawal dari Semangat dan Berakhir Selamat

Siapa yang tidak kecewa dengan kegagalan? semua orang pasti merasa sedih dan kecewa ketika impiannya tidak dapat terwujud. Hal tersebut yang saya rasakan ketika mendapat kalimat “jangan putus asa dan tetap semangat” atau kata “maaf”. Penolakan tersebut membuat saya hampir putus asa dan tidak memiliki harapan untuk dapat berkuliah di PTN, tetapi saya yakin bahwa saya mampu melewatinya.

Saya percaya bahwa suatu saat pasti akan ada kemudahan setelah kesulitan dan akan ada kebahagiaan setelah kesedihan. Finally, perjuangan saya membuahkan hasil. Tertulis kata “selamat Anda dinyatakan lolos” di laman pengumuman. Perasaan bahagia dan haru ketika saya melihat pengumuman. Beberapa hari setelah pengumuman, saya tersadar bahwa tuhan telah merencanakan hal yang terbaik untuk diri saya melalui berbagai penolakan di PTN yang pernah saya inginkan.

Bangkit dari kegagalan adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Namun, jangan sampai kegagalan tersebut membuat kita untuk berhenti mencoba. Banyak orang sukses yang mengalami kegagalan terlebih dahulu. Keberhasilan seseorang tidak terlepas dari ikhtiar dan tawakal, karena usaha tanpa doa itu sombong dan doa tanpa usaha itu bohong. Jadi, jangan pernah menyerah ketika mengalami kegagalan sebab ada impian yang harus diwujudkan.