Dua periode menjabat sebagai Presiden RI tidak luput dengan berbagai polemik politik yang menimpanya. Selama 10 tahun duduk di Istana, sedikit banyaknya telah membangun citra politik demi mengamankan nama baik dirinya dan keluarga. Terlepas semua itu, bahwa rakyat Indonesia tidak pernah menolak lupa atas kesalahan atau kasus yang merugikan Negara dan Rakyatnya.

Jabatan Presiden dinilai sebagai puncak dalam dunia karir politik menurut mereka para elit politik. Menduduki tahta agung bukan hal yang mudah diraih, bukan pula hal yang remeh untuk difikirkan, karenanya seorang yang terpilih sebagai Presiden tentunya dapat memanfaatkan dan menentukan kemana arah kebijakan itu akan berlabuh.

Ketika SBY menjabat sebagai Presiden, Ia mengkader anak keduanya Edhie sebagai politisi muda. Alhasil, Edhie seorang anak muda terpilih anggota DPR RI Dapil VII Jawa Timur.

Dengan terpilihnya Edhie sebagai Anggota DPR RI dari PD (Partai Demokrat), setidaknya SBY telah melewati fase pertama dalam proses pengkaderan bagi keluarganya, karena PD yang telah dibangun oleh tangan dinginnya sejak 09 September 2002 dan jabatan sebagai Ketua Umum PD, tidaklah mungkin akan diserahkan kepada yang bukan sedarah.

Oleh karena itu, ambisi membangun dinasti keluarga di PD dinilai berhasil dengan terpilihnya Edhie sebagai Sekjend PD periode 2010-2015 dan Ketua Komisi Pemenangan Pemilu DPP Partai Demokrat periode 2015-2020.

Datangnya Kontestasi politik Pilkada DKI Jakarta 2017 seakan memberikan angin segar untuk kembali menjadi aktor di belakangnya.

Pasalnya, di pilpres 2014 tahun lalu, sosok Sang Demisioner RI 1 ini tidak sama sekali turut andil, mungkin karena merasa banyaknya program kerja yang mangkrak tanpa hasil selama menjabat dua periode, serta kekhawatiran yang memuncak apalabila ada campur tangannya akan menjadi boomerang dan kerugian citra keluarga ke depan.

Ambisi SBY bangun dinasti terlihat jelas saat Agus sebagai anak pertamanya dipilih sebagai Calon Gubernur DKI 2017-2022 dari PD. Penunjukan SBY terhadap anggota keluarganya dalam ranah pertarungan politik sangatlah mudah, mengingat SBY merupakan Arsitek utama politik PD.

Siapa saja yang ia inginkan, pastinya tidak sulit terjadi. Padahal, figur yang ia angkat sama sekali tidak memiliki karir politik, tidak pernah menjadi pemimpin masyarakat walaupun dari hal terkecil sebagai ketua RT atau RW.

Lalu, bagaiamana jadinya jika seorang Agus yang dilempar ayahnya ke dunia politik tanpa bekal ilmu dan pengalaman terpilih sebagai Gubernur? siapa yang mengendalikan stabilitas dan elektabilitas DKI Jakarta? Pastinya publik akan menilai bahwa Agus dimonopoli Ayahnya.

Agus hanya sebagai formalitas, Agus disetir untuk mengendalikan dan mengawal penuh kepentingan-kepentingan Ayahnya, serta stigma negatif lain di mana itu adalah sebuah kenyataan yang akan warga DKI Jakarta dan Masyarakat Umum hadapi.

Berdasarkan fakta yang telah disebutkan, bahwa dengan terpilihnya Edhie sebagai orang penting di tubuh PD dan majunya Agus menjadi Cagub DKI Jakarta, tak lain itu semua merupakan ambisi besar SBY untuk membangun dinasti  baik PD maupun di tubuh pemerintahan DKI, bahkan kemungkinan terjadi pada Istri dan menantunya yang kelak akan mendapatkan peran penting di tubuh PD dan Pemerintahan.