Tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa sebuah keinginan yang ambisius dapat membuatku menjadi selayaknya pesakitan. Namun, yang paling mengejutkanku adalah bahaya laten yang ditimbulkannya, di mana ia dapat mengubah suatu pekerjaan yang dulunya menyenangkan menjadi murni penderitaan.  

Kesimpulan yang penuh ironi itu kuperoleh melalui alur yang amat rumit hingga sulit mengisahkannya kembali dengan baik. Pada 2019 atau memasuki masa akhir perkuliahan, aku mulai menanggalkan semua kesibukan kampus yang membelenggu. Aku tinggal di Setiabudi, di kamar kost yang menerapkan peraturan islam yang ketat, sebagaimana kesepakatanku dan orangtuaku.

Selama sebulan rutinitasku hanya sebatas rebahan di kasur dan gentayangan tanpa tujuan di kota. Awalnya menyenangkan, terutama karena aku bisa menekuni tidur siang tanpa diganggu siapapun. tapi lama-lama semua itu menimbulkan serangan kebosanan, kekhawatiran, disertai pengar di kepala.  

Aku senang jalan-jalan bareng teman. Ia mengalihkan kebosanan dan kekhawatiran akan jadi sampah di masyarakat kelak. Namun, saat kembali ke kamar kos dan menatap langit-langit, kejemuan dan ketakutan kembali menyelimuti pikiranku.

Tuntutan orangtua dan kabar teman-teman yang sukses di usia muda, menimbulkan efek domino terhadap kehidupanku. Ringkasnya, aku kacau sekali.

Di tengah situasi menyedihkan itu, Aku mulai berpikir realistis. Aku butuh uang yang banyak.  Tagihan UKT, kos, serta biaya hidup di Bandung tidaklah murah.Menggantungkan hidup kepada orangtua pun rasanya amat memalukan.

Pikiran yang kalut membuatku memutuskan untuk menulis. Bukan menulis serampangan tanpa ambisi akan honor seperti dulu. Melainkan, menulis untuk dikirimkan ke beberapa media baik cetak maupun online.

Menulis, satu-satunya keahlian yang aku tekuni selain rebahan dan menggunjing, sangat cocok bagiku yang tidak memiliki keahlian lain untuk dikomersilkan.

Setiap hari, ketimbang menggarap skripsi, aku memilih menulis di kamar kosku yang sepi. Aku biasa mengawali tulisan dengan menjumput bahan dari beberapa esai yang kubaca di internet, atau buku bacaan yang kubawa dari rumah. Kalau itu tidak cukup, saat malam-malam senggang, aku mencari inspirasi di teras Gedung Kumon, sambil menghirup hasrat duniawi warga Bandung yang menguap di udara. Semua itu semata-mata, demi pencarian ide sebagai pondasi tulisanku.

Pada awalnya, aku menulis dengan lancar, hampir tanpa hambatan apapun. Aku ingat waktu itu bisa merampungkan 2 artikel dalam sekali duduk. Perasaan optimis untuk menggapai ambisi, suka atau tidak, muncul dengan sendirinya.

Apalagi kemudian mengetahui salah satu tulisanku dimuat di media online. Aku sumringah. Pikiran “Mungkin aku berbakat,” atau “aku lebih baik dari orang lain,” pun berkelebat.

Kalian bisa bayangkan aku layaknya para amatiran tengik yang menganggap diri lebih baik dari orang lain. Tolong tertawalah, itu baik buat menyadarkanku.  

Seiring waktu, tindak menulis itu menjadi murni penderitaan. Puluhan kali kemudian, ngga ada satu pun tulisanku yang dimuat di media online maupun cetak. Bahkan, untuk merampungkan satu tulisan saja butuh waktu hampir seminggu.

Aku mencoba menjaga kewarasanku dengan olahraga tiga kali dalam seminggu. Memang sedikit membantu. Namun, ketika menatap lembaran kosong di laptop, pikiranku kembali buntu. Kata Hamid Basyaib, ide menulis bukanlah ditunggu, melainkan direbut. Namun, sekeras apapun aku berusaha, entah kenapa, aku masih belum bisa menerapkan petuah dahsyat tersebut. 

Maka, di titik inilah aku merasa tulisanku lebih buruk dari sampah. Celakanya, aku selalu menyadari betapa buruknya tulisanku sesaat setelah mengirimkannya kepada redaksi. Aku bahkan sampai yakin, bahwa tulisan pertamaku yang dimuat adalah murni kesalahan redakturnya.

Perasaan putus asa perlahan muncul dan kian mengoyak kewarasan. Bagaimana kalau aku memang ditakdirkan menjadi pecundang?. Atau, Bagaimana kalau ternyata, di dunia nyata rumus bahwa ketekunan akan membawa kesuksesan hanya berlaku bagi sebagian orang?. Ah, membayangkan gagasan seperti itu saja, aku sudah lumpuh.

Beberapa waktu lalu, karena merasa gagal mengejar ambisi, aku memutuskan pulang ke kampung halaman di jogja. Perasaan gagal sekaligus kerinduan yang tak tertahankan aku luapkan dengan melakukan hal menyenangkan selama di rumah. Aku melanjutkan gim the walking dead, bercakap-cakap dengan keluarga, menyambangi saudara, dan kegiatan sederhana lainnya.

Pada masa itulah aku menyadari bahwa ambisiku perlahan-lahan memudar. Pertama-tama aku khawatir kalau ambisiku hilang, aku malah makin kacau. Namun, nyatanya tidak. Pergeseran dan pengecilan ambisi itu justru membantuku menyikapi dengan baik setiap kegagalan yang aku terima.

Aku mulai menghargai setiap tulisanku, seburuk apapun hasilnya dan hal itu membuat hidupku menjadi lebih ringan dan, tentu saja, bahagia. Seakan aku telah bangun pada suatu pagi dari mimpi yang buruk, dan mendapati dunia begitu indah. 

Intinya, aku yang kalem dan santuy lebih bahagia ketimbang aku yang ambisius karena terobsesi menjadi penulis sukses. Dan percayalah, menjadi seorang yang santuy dan kalem sangat menyenangkan!