Penulis
1 tahun lalu · 159 view · 4 menit baca · Filsafat 46697_25173.jpg
Ilustrasi: toplintas.com

Ambiguitas Nilai

Dalam konteks sejarah filsafat Barat, aksiologi merupakan tema kajian yang relatif baru. Ia muncul sebagai wacana intens kefilsafatan yang baru dimulai pada abad ke-19.

Meskipun Plato telah mulai memperbincangkan aksiologi dalam karya-karyanya, namun kajian tentang aksiologi belum mendapatkan posisi yang penting dalam filsafat. Sejak Plato, tema-tema terkait dengan nilai dan keindahan dikaji dalam dirinya sendiri dan tidak pernah menjadi suatu kajian atau kategori yang luas sebagaimana disiplin yang dikaji oleh filsafat.

Wacana tentang keindahan memang tidak pernah hilang. Ia adalah sebuah perwujudan yang khas dalam memahami dunia, yakni sebuah cara pandang yang kemudian disebut sebagai nilai.

Kajian tentang nilai memang agak berseberangan dengan metafisika yang secara khas mengkaji tentang ada dan hakikat segala sesuatu. Namun demikian, sejak zaman kuno hingga modern, kajian tentang nilai selalu saja berada di bawah kajian tentang ada. Itu artinya bahwa metafisika selalu saja merupakan kajian kefilsafatan yang paling intens sepanjang sejarah filsafat.

Sejak di era belakangan ini, kajian tentang nilai dalam arti etika dan estetika seperti telah menemukan momentumnya. Ia kini menjadi salah satu kajian yang sangat pesat perkembangannya dalam filsafat.

Filsafat, sebagai sebuah wawasan keilmuan, mulai sejak kelahirannya mencoba berusaha menyajikan visi totalitas dunia yang mencakup kajian terhadap segala sesuatu. Hal ini di antaranya dikarenakan orang-orang Yunani diilhami oleh penemuannya akan rasio, sehingga ia dapat mampu melakukan eksplorasi terhadap objek kajian tentang dunia dan alam semesta.

Namun, cakrawala rasionalitas yang berkembang di Yunani agaknya banyak diselimuti oleh wawasan dunia ideal yang menjadi gagasan Plato. Ia adalah dunia esensi, konsep, hubungan, yaitu sesuatu yang kemudian disebut sebagai dunia ideal. Tokoh-tokoh penemu dunia ideal ini, di antaranya adalah Pitagoras, Socrates, dan Plato.

Lalu, di mana posisi nilai ketika kajian akan metafisika menjadi tolak ukur segala sesuatu?

Perdebatan akan wasana nilai memang tidak pernah selesai diperbincangkan. Ada anggapan bahwa sebenarnya filsafat adalah aksiologi itu sendiri. Lalu, ada yang mengatakan bahwa nilai bukan merupakan sesuatu yang baru; ia hanyalah sebuah nama yang disebutkan bagi modus ada yang lama, yang berarti bahwa aksologi adalah metafisika itu sendiri.

Mengacu pada konteks di atas, apakah kemudian nilai dapat direduksi sebagaimana konsep yang terakhir?

Pada umumnya, orang mengatakan bahwa nilai adalah sesuatu yang menyenangkan. Ada lagi yang mengatakan bahwa nilai identik dengan apa yang diinginkan. Sementara yang lain berpendapat bahwa nilai adalah sesuai yang menjadi perhatian kita.

Apa yang kemudian disebut sebagai kenikmatan, keinginan, dan perhatian merupakan suasana kejiwaan. Itu artinya bahwa nilai adalah suatu pengalaman pribadi.

Nilai pada umumnya melekat kepada benda atau segala sesuatu yang memiliki entitas. Jika nilai dibedakan dengan benda, maka nilai adalah sesuatu yang diberikan atau dilekatkan kepada benda, yakni sesuatu yang ditambahkan di dalamnya.

Ini dapat disimpulkan bahwa nilai bukanlah benda atau suatu pengalaman empiris. Ia juga bukan merupakan sebuah esensi dalam konteks metafisika, yang artinya bahwa secara independen nilai adalah nilai itu sendiri.

Meski demikian, dapat dikatakan bahwa nilai itu tidak pernah ada dalam dirinya sendiri. Ia selalu membutuhkan pengemban untuk berada. Oleh karena itu, nilai seakan-akan terlihat hanya merupakan kualitas dari pengemban nilai itu, seperti keindahan dalam suatu lukisan, kebagusan dalam sepotong pakaian, dan kegunaan dari sebuah peralatan.

Nilai merupakan sebuah kualitas, yang artinya bahwa nilai merupakan sebuah parasitis yang tidak dapat hidup atau bereksistensi tanpa didukung oleh suatu objek yang real. Ia cenderung membahwa sesuatu yang mudah rusak. Ini setidak-tidaknya ketika berkaitan dengan kata sifat yang berkaitan dengan benda.

Sementara itu, sebuah kualitas primer tidak dapat dihilangkan dari sebuah objek. Dapat dikatakan bahwa sebelum disertakan pada sebuah pengemban atau penopangnya, nilai tidak lain hanyalah sebuah “kemungkinan” yang tidak memiliki eksitensi real.

Lalu perbedaan mendasar yang terdapat di dalam nilai dan objek ideal sebagai sebuah basis keberadaan adalah bahwa jika objek ideal itu memang benar-benar ada, sementara nilai tidak memiliki keberadaan. Ia tidak lebih hanyalah suatu nilai semata yang tidak memiliki entitas atau eksistensi yang benar-benar nyata.

Hal ini sebagaimana sebuah ilustrasi bahwa memahami nilai atau keindahan selalu saja menggunakan pendekatan emosi, sedangkan ide tentang keindahan dipahami melalui akal intelektual.

Sementara itu, ciri dasar yang khas dari nilai adalah bahwa ia bersifat polaritas. Sementara benda itu ada sebagaimana adanya. Nilai, oleh sebab itu, seperti menampilkan dirinya disingkapkan, baik dalam aspek positif maupun aspek negatif, tergantung konteks yang sesuai.

Bisa dikatakan bahwa kejelekan adalah lawan dari keindahan, jahat lawannya baik, tidak adil lawannya adil, dan lain sebagainya. Tidak bolek berkata bahwa kejelekan adalah suatu kondisi di mana tidak terdapat nilai sama sekali. Karena kejelekan memiliki karakter penampakan yang sama kuatnya sebagaimana keindahan.

Nilai pada hakikatnya memiliki suatu dimensi yang bersifat hirarkis atau bertingkat-tingkat. Ini bisa jadi karena kadar suatu nilai yang melekat pada sesuatu tidaklah bisa dipastikan. Ia selalu bersifat relatif. Ini terjadi agar ada semacam tindakan kreatif yang mampu menyegarkan dan dapat bertindak sebagai posisi peninggian atas moral.

Sebagaimana makna hidup yang kreatif dan tinggi secara fundamental berdasarkan atas penertimaan nilai-nilai positif, sebagaimana dilawankan dengan nilai negatif, ini dapat berarti bahwa nilai yang tinggi dapat dilawankan dengan nilai yang rendah. Di sinilah posisi hierarkisnya.

Nilai itu sangatlah kompleks. Dalam konteks masyarakat dan kebudayaan, di antaranya nilai mewujud dalam suatu norma. Namun demikian, norma itu selalu tidak tetap. Ia selalu mengalami pasang surut dan tidak selalu koheren.

Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa seluruh tindakan yang berkaitan dengan hubungan sosial bersama dalam lingkup kebudayaan selalu mengacu pada landasan nilai yang berupa norma tersebut.