Akun Twitter @AmbarwatiRexy mengunggah sebuah video sekumpulan besar wanita berniqab sedang menyeberang jalan dengan caption: “Mana Jubaedah, mana Maemunah?”.

Aku tidak follow akun itu, tapi komentar tentang cuitan ini mengalir deras di lini masaku, baik yang screenshot tweet kemudian ditambah komentar, quote-ing plus statement yang di-RT, ataupun sindiran yang tidak menyebut akun Rexy.

Pembela akun Rexy kalah jauh dengan yang kontra. Mungkin persentasenya mirip dengan jumlah pemeluk agama di Indonesia (hehehe). Etapi, aku tidak tahu agama Rexy ini apa. Aku tidak mau tahu juga. Tapi tidak semua yang membela Rexy adalah nonmuslim. Ada juga yang mengkritik Rexy dari nonmuslim.

Terbaca, Rexy disebut bigot atau bodoh karena tidak menggunakan otak untuk berpikir. Entahlah, kok bisa gampang menyebut orang lain bodoh? Apakah bila ada orang berbeda pendapat dengan kita sudah bisa kita sebut dia bodoh?

Aku langsung ingat para far left di Amerika dan Eropa yang menganggap apa pun pendapat kaum konservatif adalah rasial. Hanya mereka yang benar dalam berpendapat, dalam segala hal. Semacam paham totaliter

Sesungguhnya totaliter itu ditujukan pada sistem pemerintahan yang seenak udelnya. Tapi saat ini, ideologi atau orang yang merasa benar sendiri disebut juga kelompok totaliter. Perang ide yang terjadi di dunia barat saat ini adalah nasionalis versus globalis, kapitalis versus sosialis, dan totaliter versus libertarian.

Sedangkan perang ide terbesar di negara Bhinneka Tunggal Ika ini, menurut aku, adalah nasionalis versus agamais. Dan dari kedua kubu ini, banyak yang menganut paham “gue pasti benar, lu salah”.

Rexy pasti salah karena dia tidak pakai otaknya, tidak membaca, tidak ini, dan tidak itu. Dan pengkritik Rexy pasti benar karena dia pakai otak dan banyak membaca dan bijaksana. Sebijaksana apa pun kamu, kalau ngatain orang lain bodoh, label bijaksana terlalu berat untuk kamu.

Kamu punya pendapat X karena selalu membaca dan terpapar hal-hal yang mendukung tentang X, dan orang lain berpendapat Y pun demikian. Masih bangga mengatakan orang lain bodoh? Kamu adalah apa yang kamu baca atau konsumsi.

Oke, kita masuk pada pokok permasalahan. Aku tidak tahu Rexy pernah mencuitkan apa saja. Dari komen-komen yang kubaca, sepertinya dia pernah membela orang yang berpakaian terbuka. Dan sekarang dia “mengolok-olok” orang berpakaian tertutup. Hal itu yang membuat banyak warga Twitter tersinggung.

Dari caption video dan cuitan setelahnya, terbaca bahwa Rexy memiliki kekhawatiran bila suatu saat Indonesia mengharuskan semua perempuan berpakaian seperti itu, otomatis dia dan anak-anak perempuannya harus mengikuti. Seperti di Iran setelah revolusi tahun 1979.

Jadi lihat, Rexy menuliskan hal itu bukan karena kurang banyak baca. Hanya saja, apa yang dia baca dan yang menimbulkan kekhawatiran baginya, berbeda dengan apa yang Anda baca.

Sedangkan yang kontra Rexy berkutat di urusan kebebasan berpakaian dan berkeyakinan, dan menganggap Rexy terlalu lancang mengurusi keyakinan orang lain.

Aku selalu mengingat slogan ini, kebebasan berekspresi dari kamu akan dihadapkan dengan kebebasan berpendapat dari orang lain. Kalau kamu membela kebebasan berekspresi tapi melarang kebebasan berpendapat, maka peluru itu akan berbalik padamu suatu hari.

Aku tidak tahu, peluru siapa yang mengenai siapa saat ini. Bak pedang bermata dua, dia akan menghunjam lawan dan juga tuannya. Semua akan terluka.

Rexy berbicara karena mengkhawatirkan masa yang akan datang. Sedangkan yang kontra berbicara tentang masa sekarang. Ada ketidaknyambungan memang. Tapi seperti itulah diskusi dalam ruang publik, bukan? Segala hal bisa ditarik ke semua penjuru mata angin.

Budaya adalah cara hidup sekelompok orang yang berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari adat istiadat, bahasa, politik, bangunan, karya seni, termasuk sistem agama. Jadi budaya tidak stagnan. Akan berubah sesuai dengan kondisi zaman.

Beberapa belas tahun belakangan ini, perubahan cara berbusana sebagian perempuan Indonesia sangat signifikan. Ini terjadi karena masyarakat menjadi lebih religius dan ingin menjalankan syariat agamanya.

Bila dahulu kita melihat banyak perempuan berkebaya dalam acara formal, sekarang sebagian besar tampak berbusana muslim. Ibu-ibu yang kehidupan sehari-harinya hanya pakai tank top di rumah dan ke tetangga, akan mengenakan jilbab bila menghadiri kondangan dan ke sekolah anaknya.

Mengapa, ya, mereka seperti itu? Apakah takut dianggap tidak sopan bila tidak berjilbab? Berarti ukuran kesopanan dalam budaya kita sudah bergeser. Apakah itu makin baik atau makin jelek? Tergantung dari siapa yang menilai.  

Kami, rakyat Indonesia yang bukan muslim, memiliki kekhawatiran bahwa beberapa tahun ke depan, budaya di Indonesia ini berubah signifikan, terutama budaya berbusana. Akan terlihat nyata pembeda antara yang muslim dan bukan muslim. Yang tidak berjilbab memang tidak otomatis nonmuslim, tapi yang berjilbab pasti muslim.

Bila naik kereta gerbong wanita, sering aku iseng memperhatikan sekitar. Yang tampak, rambutnya makin sedikit. Itu adalah fakta di lapangan.

Saat teman-teman muslim yang sekarang bermukim di Amerika dan Eropa datang ke Jakarta, mereka bertanya, ‘Kok tiap gue pulang makin banyak yang pake jilbab, ya?” Aku mengangguk kemudian berkata, “Bila suatu saat terjadi kerusuhan besar yang berbau agama, maka kemungkinan besar kepala gue yang lebih dahulu digodam massa.”

Cuitan Rexy itu mungkin terbaca mengolok-olok. Tapi berkat cuitan itu, terjadi diskusi publik yang menarik di atas isu yang sangat sensitif. Begitu kira-kira kalau kita belajar mengambil hikmah dari semua kejadian.