Diorama

Siang yang terbebas dari gerahnya. Menyingkap batas langit yang selama ini tidak pernah diduga. Menampakkan wajah-wajah. Manusia yang berkutat dengan meja, menghadapi banyak kertas. Tapi jika dilihat dari bumi, mereka bekerja secara terbalik. Kaki menuju langit kepala menuju bumi. Sungguh absurd.

Seakan-akan diorama itu selalu merenggut paksa kesadarannya. Mendongak ke atas langit dan meninju kepolosannya. Memaksa dirinya bertanya, "apakah aku berasal dari sana?"

Pesawat Asing

Lagi-lagi ia bertemu dengan malam panjang nan gelap, meskipun bertabur bintang. Malam di mana langit menunjukkan keperkasaannya. Meluas, sejauh mata memandang. Tak terbatas.

Lintasan cahaya mulai terlihat melesat. Sebagian kecil. Menyajikan teror secara perlahan. Membuat pola yang sama, menuju arah tertentu. Memiliki tujuan menyerang bumi. 

Yang satu ini cahayanya berpendar-pendar. Mengirimkan getar sonik yang menciutkan rasa. Ukurannya tak terbilang, sangat besarnya. Seluas 1 pulau di lautan. Padahal engkau melihatnya dari bumi, tapi engkau bisa merasakan bahwa pesawat di langit yang nun jauh itu begitu besarnya.

Koloni pesawat asing itu menirukan komposisi rombongan burung sebelum menyerang mangsanya. Berputar tanpa henti. Menari-nari merayakan hari yang segera tiba.

Air Bah

Tentu engkau masih ingat dengan kisah Nuh bukan? Sejarah peradaban yang nyaris hilang. Untunglah Tuhan masih berbaik hati. Dibiarkan bumi ini masih diisi dengan manusia, dengan harapan aku dan engkau akan menjaganya.

Sementara itu di sebuah kota, di masa kini, ada anak manusia yang selalu terbelenggu dengan kisah Nuh pada masa silam.

Kisah itu sering menghampiri dalam tidur malamnya. Mengajaknya berjalan di tempat-tempat ketinggian. Bukit, gunung maupun gedung pencakar langit.

Di akhir mimpi, ia selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit tentang siapa yang harus diselamatkan, ketika air bah bergulung-gulung melahap apa saja yang ada di hadapannya. Meluluhlantakkan peradaban yang dibangun manusia. Hingga ketika air bah itu hampir mencapai titik tertingginya, ia terselamatkan oleh bisingnya jam weker di pagi hari menjelang subuh.

Metamorfosa

Seseorang mungkin keturunan seorang kaisar atau raja. Meskipun hari ini takdirnya adalah rakyat jelata. Ingin tahu kisahnya?

Bermula dari sosok rendah hati yang selalu ingin menghargai sesama. Ia merasa dirinya bukanlah siapa-siapa. Selalu ingin menabur kebaikan di manapun, kepada siapa pun.

Hingga suatu hari ia mengetahui, bahwa ternyata manusia dipenuhi hasrat untuk menguasai. Ingin lebih mulia dari manusia yang lain. Ingin yang lain tunduk kepadanya, menghamba layaknya hewan melata.

Ironi ini sungguh mengejutkannya. Meledakkan hatinya yang murni menjadi berkeping-keping. Membuat pertahanan batinnya goyah. Akankah ia tetap setia kepada sikap welas asih sesama manusia.

Ketika angin bertiup dengan lembut, perasaannya menangkap suara yang terasa tidak asing baginya. "Wahai anak cucuku, perintahlah manusia dengan penuh kebajikan."

Sejak itu seseorang yang sederhana itu telah bermetamorfosis menjelma sebagai raja diraja, memerintah siapa saja yang bisa diperintah. Menaklukkan dunia demi dunia.

De Javu

Batas tipis masa lalu dengan masa kini adalah kesadaran. Pengalaman dan pengetahuan manusia saling tertukar. Tapi itu bukanlah barter, melainkan transformasi kesadaran dari masa ke masa. Dari satu orang ke orang yang lain.

Memori tidak mengalami kehancuran. Bahkan dititipkan pada keabadian. Selalu terbuka di saat yang tidak terduga. Menghempaskan keterbatasan jiwa. Meringkuk. Mengharap untuk mereguk rahasia alam. Saling keterhubungan. Menempatkan euforia di sudut terbaik hati manusia.

Penjaga

Panas mendera tubuh. Di sisi lain hawa dingin menyerang. Menggigil. Tulang terasa lepas.

Ada berita seseorang telah melepaskan niat jahatnya. Tapi langkahnya terhenti. Dihadang 3 orang tetua. Tidak rela anak keturunannya diganggu.

Tubuh kembali mendapatkan keseimbangannya. Jasa tetua sangat dihargai, bagaimana pun asal usulnya.

Dua Bilik

Kamu di sana, adalah aku di sini

Kotamu hitam, kotaku putih

Langitnya kompak berwarna biru

Yang pasti, kita tidak bisa saling mengunjungi

Lorong Hitam

Bentuknya spiral. Memanjang sampai kedalaman yang tak terukur.

Jembatan antar ras makhluk.

Kalau ingin berkunjung, kuatkanlah hati. Sebab di sana hanya kegelapan yang menanti. Yang lemah hati tak kan bisa kembali, sekedar tuk bersua anak istri.

Vision

Perjalanan pulang kali ini, anak itu mendapatkan penglihatan, adiknya menangis sedang menginginkan sesuatu. Di waktu lain penglihatan lah yang menghampirinya.

Membuka ruang-ruang yang sebelumnya terkunci. Terlarang untuk diketahui . Tabir yang selama ini menghantui.

Orang berburu rahasia. Ingin membekuknya. Dari politikus, agamawan ataupun dukun. Anak itu sebagai perantaranya.

Politikus ingin tahu kapan lawan politiknya bergerak. Dukun ingin langkahnya tersembunyi. Agamawan ingin seruannya dikagumi.

Tatanan menjadi kacau, karena area Tuhan mulai dimasuki. Padahal indahnya kehidupan manusia karena ia mengandung misteri. Kalau misteri terbuka, di mana keindahannya?

Anak itu mendesah. Gundah gulana. Hatinya merana. Terpikir olehnya untuk merdeka dari kejaran manusia. Ingin ia segera kembali merenda kisah semula, ketika ia riang bermain layang-layang ataupun petak umpet bersama sebayanya.

Tamu berdatangan pagi itu. Pintu rumah bergerak-gerak tertiup angin. Mengabarkan anak itu telah pergi ke dunia antah berantah. Tamu kecewa.