Surat Cinta Untuk Negeriku!

Apa yang mesti disuarakan
jika pada akhirnya yang disuarakan tak didengarkan!
Apa yang mesti diperjuangkan
jika di ujung jalan malah diacuhkan!
Kemeriahan tak diperlukan
jika nantinya perayaan hanya akan meninggalkan sampah berserakan!

Banyak yang bersemangat menyuarakan
tapi sedikit yang dengan saksama mendengarkan!
Banyak yang gigih memperjuangkan
tapi sedikit yang mati-matian mempertahankan!
Banyak yang riuh memeriahkan
tapi perayaan hanya sebuah seremoni tanpa penghayatan!

Bersuara kurang asyik tanpa mencatut nama golongan!
Berjuang tak bergelora tanpa klaim kebenaran!
Kemeriahan hanya tontonan pelengkap bagi mereka yang dahaga kemenangan!

Suara melengking ketika di atas angin,
yang berbeda dituduh ini dan itu!
Jika terjepit merengek malu-malu bak korban pencabulan!
Perjuangan masih panjang kata komandan,
berjalan dengan pakaian kebesaran,
entah salah memilih ukuran atau dibeli dengan duit kembalian papa beli sahang!

Kini Garudaku terbang tak tentu arah,
banyak kutu menggerogoti sayapnya yang anggun!
Belum lagi tikus-tikus sawah berpesta pora dalam lubang dogma,
tempat persembunyian paling aman di jagat raya!
Rohaniwan diam seribu bahasa,
hanya tertunduk di dalam gua pertapaannya yang mulai usang,
melafal komat-kamit pengharapan tanpa nilai ketuhanan!
Anak cucu Pertiwi bercengkrama dengan jalanan seberang istana,
menanti jawaban atas sebuah pertanyaan; BAPAK KAMI DI MANA?

Tolong sampaikan surat ini kepada siapa saja mereka
yang masih peduli akan perubahan!
Sampaikan salamku,
aku tunggu mereka di neraka!


Virus

Akulah pesan tak bersuara
Akulah tuhan tanpa hamba
Aku mematikan yang bernyawa,
menghidupkan tubuh tak berjiwa

Aku datang dari setiap sudut kehidupan
Menghantui mimpi-mimpi yang berbintang
Aku udara yang menghidupkan
sari anggur memabukkan

Akulah kebutuhan
Aku dicari lalu dibagikan
Akulah dusta bergelimpangan
bersemayam di atas altar kemunafikan

Aku, organ tubuh kepalsuan
Akulah sumbu-sumbu kebencian
Aku gelap yang membutakan
akulah khilaf yang menjerumuskan

Aku senja tanpa jingga
Akulah sajak tanpa cinta
Aku musik tanpa nada
akulah buku tanpa kata

Akulah dusta berulang-ulang
manipulasi kebenara
Aku dipercaya sebagai iman
yang berbeda adalah ingkar kebenaran


Jika

Jika di penghujung sadarku
Sosokmu pun tak juga muncul
Aku ingin, di luar kesadaranku
Hanya dirimu saja yang ada

Dirimu yang pagi-pagi sekali
Menyiapkan nasi goreng dan teh hangat
Sembari menyapu sisa-sisa kulit bawang
Yang tercecer di dapur kita
Dan di sebelah daun pintu belakang
Kau memandangiku sedang membantu anak-anak
Berkemas sebelum berangkat ke sekolah

Jika di penghujung sadarku
Sosokmu pun tak juga muncul
Aku ingin, di belantara kesendirianku
Tak ada seorang pun yang mengganggu
Sepasang malaikat sekali pun

Aku hanya ingin tenggelam dalam hening
Sembari menikmati nasi goreng dan teh hangat
Yang telah kau sajikan


Pada Suatu Ketika

Ibu sibuk menyiapkan sarapan untuk bapak
Sedangkan bapak tengah serius memilih kaos kaki
Adik-adikku tak di rumah
Aku di pojokan memerhatikan ibu dan bapak

Seketika ingatan tentangmu datang
Dari balik meja makan yang sedari tadi masih kosong
Hanya ada sambal sisa makan siang kemarin
Dengan sepotong ikan asin yang dibaluri minyak kelapa

Beberapa detik setelah kuingat kau
Bergegas kusambangi jendela kamarmu
Kau sedang duduk diam membaca Marx
Ada Dunia Sophie juga disebelahmu

Aku merunduk, masuk lewat jendela kamarmu
Kau masih diam saja, aman pikirku
Dengan perlahan kuhampiri kau
Kucari posisi paling bagus untuk aku rebahkan badanku

Kubaringkan kepalaku di paha kananmu
Kupandangi matamu yang masih sama dengan matamu yang dulu
Tapi kau masih asyik membaca Marx
Kupandangi saja matamu terus menerus
hingga seseorang mengetuk pintu kamarmu
Menepis semua kemesraan yang kunikmati sendiri

Laki-laki itu datang seraya meraih kedua tanganmu yang tak sempat kusentuh
Memelukmu, dan kau pun menangis dalam pelukannya
"Sudah, jangan menangis. Ikhlaskan dia. Sekarang dia tenang di sana”
Kau hanya menangis, dan aku terlempar ke pojokan samping lemari


Imanku

Imanku tak sebatas pada sepetak kain hitam maupun putih
Tak bernaung hanya pada sebelah sayap  malaikat
Tak terukur pada tebal-tipis kitab suci
Imanku bukan buaian surga dari para utusan tuhan
Bukan pula ketakutan pada keganasan api neraka
Imanku tak berubah oleh qada ataupun qadar, baik maupun buruk

Imanku adalah keyakinanku atas kebenaran yang kuanut
Imanku bersemayam di dalam setiap neuron terkecil otakku
Imanku menari dalam mahligai sanubariku
Melebur menjadi satu dalam darah dan dagingku

Imanku adalah kesendirianku