Konflik-konflik yang terjadi terus-menerus dalam dunia modern ini, bukan merupakan hal yang baru namun sudah ada sejak dulu, bisa kita liat berbagai tragedi kemanusiaan yang terjadi, pembantaian atas nama ras oleh kaum yahudi oleh nazi di bawah pimpinan Hitler. Kerusuhan di Ambon atas Nama Agama, serta tragedi 1965 atas Nama ideologi.

Para Ahli banyak yang memberikan pandangan terkait dengan isu ini. salah satunya yang akan saya pakai untuk melihat tema ini adalah Amartya Sen. Pada tahun 2006 buku dengan judul Identity And Violence : The Illusion Of Identity Of Destinity. Kemudian diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia pada tahun 2007 oleh Marjin Kiri.

Buku ini menjadi menarik sebab ada isu-isu yang bahas di dalam buku ini, agak sedikit memberikan warna yang berbeda. Amrtya Sen memberikan analisis yang mendalam terkait dengan apa yang menyebabkan orang-orang melakukan kekerasan. Selain itu juga dalam buku ini juga membahas fenomena globalisasi yang terjadi dalam dunia kontemporer ini, menariknya amartya sen memberikan pandangan positif dalam melihat fenomena globalisasi, berbeda dengan pandangan mayoritas.

Amarty Sen merupakan seorang Ekonom yang tak biasa. Sebab beliau juga menggeluti dan memiliki pemikiran mendalam terkait dengan filsafat dan kebudayaan. Banyak karya serta teori-teori monumental, diantaranya adalah the idea of justice dan, development as freedom. 

Sen juga mulai menyusun gagasan-gagasan dalam buku ini, berangkat dari pengalaman masa kecilnya, menurut Sen, banyak disalah pahami tentang identitas. Banyak peristiwa yang Sen saksikan pada usia 11 tahun, Dia menyaksikan seorang buruh Muslim ditikam hingga tewas dalam kerusuhan sektarian di India.para penikamnya dari kelompok Hindu sebenarnya yang sama-sama buruh.

Sen melihat fenomena tersebut dengan mengajukan petanyaan yang cukup menarik yakni, mengapa kesamaan identitas kelas ekonomi ini bisa terlupakam dan tergantikan secara membabi buta oleh identitas keagamaan.

Pertikaian politik global kerap kali dipandang sebagai suatu kewajaran akibat adanya perbedaan Agama atau Budaya di dunia. Sesungguhnya, kian lama dunia ini dipahami, meski hanya tersirat, sebagai suatu federasi Agama-Agama atau peradaban-peradaban, dan dengan demikian mengabaikan semua aspek yang lain yang dipakai seseorang untuk membedakan dirinya dengan yang lain. Menurut Sen garis pemikiran di atas dicirikan oleh pendandaian ganjil bahwa warga dunia dapat dikelompokan semata berdasarkan suatu pemilahan yang sifatnya tunggal dan serba mutlak. 

Pemilahan penduduk dunia berdasarkan peradaban dan Agama melahirkan suatu pendekatan “soliteris” terhadap identitas Manusia, yaitu pendekatan yang memandang Manusia hanya sebagai bagian dari satu kelompok semata (dalam hal ini berdasarkan peradaban atau agamanya, berbeda tajam dengan pengelompokan atas dasar kebangsaan dan kelas yang leih dahulu muncul). Pendekatan ini menurut Sen membuka jalan bagi lahirnya kesalahpahaman di antara hampir setiap orang di dunia. Karena kekerasan sering terjadi akibat tumbuhnya rasa identitas yang diandaikan bersifat kodrati sekaligus tunggal.

Analisa amartya sen melihat perosalan ini disebabkan oleh Ilusi Tentang Adanya Sebuah Identitas Yang Tunggal Tanpa Pilihan, banyanya konflik yang terjadi seperti apa yang telah saya jabarkan pada awal paragraf tersebut bersumber pada akar yang sama.

Sen mengawali pembahasan ini pada Bab 1, dengan sedikit menceritakan pengalaman masa kecilnya, ketika kerusuhan Hindu dan Muslim pada 1940an, kerusuhan terkait dengan politik pemisahan , Saya teringat betapa cepat perubahan berlangsung, mereka yang pada bulan januari adalah bagian dari umat manusia secara umum, pada bulan juli tiba-tiba berubah menjadi kubu hindu yang kejam dan Muslim yang garang. Ribuan nyawa yang melayang dari peristiwa tersebut menurut Sen hanya dipicu oleh pemaksaan identitas tunggal yang penuh permusuhan ini kepada orang-orang awam, yang digelorakan oleh penebar teror.

Sen menegaskan bahwa Memandang seseorang semata berdasarkan satu di antara banyak identitas yang dimilikinya tentu saja merupakan pandangan yang sangat keliru, karena sangat rentan untuk disalahgunakan oleh orang atau kelompok tertentu untuk memicu kekerasan.

Penonjolan suatu identitas tunggal untuk mengrobankan kekerasan dilakukan dengan cara memilah identitas kelompok seseorang yang terkait dengan kekerasan. Berangkat dari sinilah menunjukkan pentingnya asosiasi dan afiliasi-afiliasi lain dikaburkan lewat penekanan dan hasutan selektif, seperti “bagaimana mungkin kau bisa berbicara tentang hal lain, sementara orang-orang kita dibunuh dan wanita-wanita kita diperkosa?”.

Pandangan yang mengkotak-kotakan individu berdasarkan identitas tertentu biasa disebut istilahkan sebagai “soliteris”. Visi soliteris yang mengecilkan identitas manusia ini dampak nya amat luas. Ilusi yang dipakai untuk memecah-belah manusia ke dalam kategori-kategori yang ketat dan kaku ini bisa eksploitir untuk menggerakan pertikaian antarkelompok.

Hal-hal tersebut sering digunakan untuk mengobarkan kekerasan dan akan berakibat pada hilangnya kebebasan berpikir dan tidak adanya peluang untuk menalar.

Ketidakbebasan seseorang dalam bepikir tentunya akan berakibat pada pemikiran yang sempit, yang dalam istilah Oscar wilde “pikiran mereka adalah pendapat orang lain, hidup mereka peniruan, hasrat mereka kutipan belaka. Istilah dimaknai bahwa dalam taraf tertentu seseorang dapat dipengaruhi oleh  orang-orang sekitar, sehingga kebencian sektarian yang sering dihembus-hembuskan bisa menyebar cepat iabarat nyala api.

Orang-orang tersebut bertindak secara “membabi buta” tanpa ada alasan yang kuat dan rasional sehingga membenarkan orang tersebut untuk melakukan kekerasan kepada kelompok yang dianggap berlawanan. Pada umumnya mereka bertindak atas seruan seseorang yang mereka kultuskan. Sen dalam bukunya ia sangat menekankan pentingnya kebebasan berpikir serta pendayagunaan nalar.

Poin-poin penting dalam buku ini menurut saya, pertama, pentinya memhami identitas diri. Kedua, memahami dan menyadari kemajemukan identitas, artinya identitas tiap-tiap orang tidak hanya bersumber dari agama atau budaya, namun ada identitas lain selain itu seperti warga Negara, penulis, seniman, guru, pecinta hewan, anggota komunitas, pelajar, pengusaha dll. Ketiga, pentingnya kebebasan untuk berpikir.

RESENSI 

Judul              : Kekerasan Dan Identitas

Penulis            : Amartya Sen, 

Penerjemah    : Arif Susanto, 

Penerbit          : Marjin Kiri, 

Tebal              : 242 Halaman, 

ISBN               : 978-979-1260-54-1