Apakah kalian pernah merasakan marah? Amarah merupakan suatu perasaan atau ekspresi yang lazim ada pada diri manusia. Amarah seringkali dikaitkan dengan suatu emosi yang negatif.

Banyak sekali para agamawan, filsuf, hingga pemikir moral menganggap amarah merupakan suatu karakter atau state yang harus dihindari oleh setiap orang karena ia dianggap sebagai sikap yang destruktif.

Banyak sekali faktor yang menyebabkan seseorang menjadi marah, seperti: Perlakuan menjengkelkan dari orang lain, ada seorang kawan yang berhutang namun tak lekas mengembalikan, diganggu oleh anak kecil, dan lain sebagainya.

Dari kebanyakan kasus dan faktor yang menyebabkan suatu amarah, kebanyakan disebabkan oleh suatu tindakan tidak menyenangkan yang menimpa kita dan marah merupakan suatu respon terhadapnya.

Amarah juga bisa muncul baik secara eksternal maupun internal. Sebab eksternal sudah saya sajikan pada contoh-contoh dalam bagian sebelumnya.

Sebab eksternal ini disebabkan oleh hal-hal yang berada di luar kita di mana pada awalnya kita berada pada suatu state yang netral, lalu tiba-tiba ada suatu pemicu yang merubah state kita yang awalnya netral menjadi bermuatan amarah.

Namun, ada juga sebab internal di mana itu merupakan suatu sikap kita yang memang dasarnya adalah pemarah. Sifat ini sering juga disebut sebagai temperamental.

Hal ini membuat kita mudah tersinggung dan marah apabila mendapatkan sedikit saja gesekan, atau anak masa kini menyebut state ini sebagai mudah ke-trigger atau terpelatuk.

Lalu, bagaimana kita mengatasi amarah yang kerap menguasai kita? Untuk menganalisa tentang amarah, saya akan berusaha memaparkan apa itu amarah dan bagaimana kita menyikapinya melalui pandangannya Aristoteles.

Dalam bukunya yang berjudul “Nicomachean Ethics” pada bagian ke-4, Aristoteles membahas amarah ini secara lebih spesifik dalam suatu bab.

Pada tulisan saya sebelumnya, saya sudah membahas tentang prinsip “golden mean” punya Aristoteles pada bagian ke-2 dalam buku yang sama.

Pada dasarnya, prinsip ini menyebutkan bahwa kita harus berada pada keadaan tepat di tengah antara suatu keadaan yang berada di sumbu kelebihan atau kekurangan. Juga, kita harus bertindak secara tepat secara proporsional dan situasional.

Pada bagian ke-4 ini, Aristoteles menggunakan prinsip yang sama untuk menganalisa lebih dalam suatu state secara lebih spesifik, yaitu amarah. Sikap temperamental yang sempat kita singgung sebelumnya itu merupakan sumbu kelebihan dalam amarah dan pembawaan yang tenang adalah titik tengah atau golden mean dalam konteks amarah.

Aristoteles tidak menyebut state apa yang menjadi sumbu kekurangan pada amarah di mana ia hanya menyebutnya sebagai titik yang tak bernama. Titik kekurangan ini dideskripsikan pada suatu keadaan yang tak mudah marah namun bukan juga penyabar.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sikap temperamen dan mudah terpelatuk ini akan membawa seseorang pada keburukan. Kondisi yang membuatnya mudah marah pada setiap situasi dan sedikit saja kesalahan yang dilakukan oleh orang lain akan membuat seseorang meledak-ledak amarahnya.

Biasanya, walaupun tidak terjadi pada setiap orang, state semacam ini akan menumbuhkan perasaan dendam pada dirinya.

Kemarahan yang sangat berkobar tersebut tak akan berhenti mengambil alih dirinya dan hal tersebut hanya akan dapat reda bila seluruh rasa dendamnya terbalsakan.

Pandangan Aristoteles ini tidak berlebihan, sebab saya pribadi terkadang sangat jengkel dan marah terhadap orang yang menganggu kehidupan saya. Amarah tersebut terkadang terpupuk hingga menjadi sebuah dendam pula.

Sebaliknya, orang yang kemarahannya berada pada sumbu kekurangan akan menerima begitu saja tanpa perlwanan atas segala perkataan buruk atau kesalahan yang dilakukan oleh orang lain terhadapnya. Hal ini bukanlah definisi dari sikap lembut atau pembawaan yang tenang.

Pada titik ini, orang akan dianggap tidak berkeutamaan apabila mereka mengekpresikan kemarahan dengan cara yang salah, di saat yang salah dan kepada orang yang salah pula. Lebih lanjut, Aristoteles menganggap orang semacam ini tidak akan memahami penderitaan orang lain dan itdak memiliki empati.

Kemudian, bagaiamana seharusnya kita bersikap agar kita berada pada state yang berlandaskan pada keutamaan? Sikap lembut atau pembawaan tenang yang berada di sumbu tengah ini bukan berarti kita harus menegasikan amarah secara total, tetapi lebih tepatnya bagaimana kita mampu mengekspresikan kemarahan kita secara proporsional dan pada situasi yang tepat pula.

Sebagaimana contoh, kita harus marah kepada kondisi-kondisi yang mempertontonkan ketidakadilan secara telanjang. Ketidakadilan ini bisa dalam wujud apapun. Yang paling umum apabila kita melihat penindasan kepada mereka yang lemah baik secara status sosial maupun perekonomian.

Kita juga dapat mengekspresikan kemarahan kita secara tepat apabila melihat hal-hal buruk seperti praktik korupsi, pemerkosaan yang akhir-akhir ini marak terjadi dan bentuk-bentuk kejahatan lain yang mencederai kemanusiaan.

Namun, bukan berarti kita harus marah secara temperamental. Kita harus mengekspresikan kemarahan kita dengan melawan situasi tersebut dan memberikan bantuan terhadap mereka yang memerlukan. Setidaknya, kita memberikan dukungan moral terhadap mereka yang tertindas, sehingga akan memperlihatkan di mana keberpihakan kita.

Jadi, amarah itu dapat menjadi baik maupun buruk. Ia dapat menjadi baik apabila kita mampu mengekspresikan kemarahan secara tepat sasaran dan dapat menjadi buruk apabila kemarahan kita berada pada sumbu yang berlebihan atau kekurangan. Amarah ini bagaikan pisau bermata dua, sehingga kita harus mampu mengoptimalkannya sebijak mungkin.

Khusus untuk pada titik kemarahan yang temperamental, saya akan mengutip suatu analogi menarik yang pernah saya baca di internet dan menggambarkan secara akurat bagaimana kita bersikap dan mengendalikan amarah. Kurang lebih ia berbunyi seperti ini:

“Jika sesendok garam dituangkan pada segelas air, maka air dalam gelas akan terasa asin. Tetapi, apabila sesendok garam kita tuangkan kepada kolam air, niscaya tidak ada perubahan rasa yang terjadi pada air di kolam.” Seperti itulah menurut saya penggambaran yang tepat tentang bagiamana kita mengatasi amarah kita.

Artinya, yang harus kita lebarkan adalah kelapangan hati kita sebagai wadah yang menampung segala emosi. Dengan semakin lapangnya hati kita, sebesar apapun emosi negatif yang hendak masuk kepada diri kita, hati kita akan mampu menetralisirnya.